Perlu Program Deradikalisasi Masif
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i23947-perlu_program_deradikalisasi_masif
Asmadji As Muchtar Wakil Rektor III Universitas Sains Alquran Wonosobo Jawa Tengah Radikalisme sering muncul dalam bentuk verbal seperti keinginan atau ajakan untuk membunuh si A atau si B yang diungkapkan di depan publik.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 24, 2016 09:22 Asia/Jakarta
  • Daesh
    Daesh

Asmadji As Muchtar Wakil Rektor III Universitas Sains Alquran Wonosobo Jawa Tengah Radikalisme sering muncul dalam bentuk verbal seperti keinginan atau ajakan untuk membunuh si A atau si B yang diungkapkan di depan publik.

Dalam hal ini, apa pun masalahnya, pihak yang mengungkapkan keinginan atau ajakan untuk membunuh pihak lain layak disebut sebagai bagian dari radikalisme. Karena itu, tidak berlebihan jika masyarakat global merasa belum aman dan nyaman dari ancaman radikalisme. Selain itu, radikalisme juga sering menjelma menjadi aksiaksi teror, dengan pelaku-pelaku baru yang masih muda.

 

Sering pula terjadi, radikalisme diimplementasikan menjadi aksi teror yang didasari niat balas dendam atau jihad. Karena itu, radikalisme tetap menjadi ancaman masif bagi masyarakat global. Fakta tersebut bisa dijadikan bukti betapa program deradikalisasi perlu dibenahi lagi. Idealnya, program deradikalisasi seharusnya bersifat masif dan bertaraf global sebagai program unggulan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan dukungan dana memadai dan harus diterapkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

 

Pasalnya, ancaman radikalisme yang bersifat masif dan global tak mungkin mampu dihadapi oleh beberapa negara saja yang menjadi sarang kelompok-kelompok radikal yang berkembang- biak dan bermetamorfosis menjadi kelompok-kelompok teroris.

 

Program deradikalisasi akan berpotensi gagal jika hanya bertujuan untuk melunakkan hati pesertanya tanpa didukung dengan sistem pendidikan (belajar mengajar) masif yang mencerdaskan. Dalam hal ini, mereka yang telanjur radikal bisa saja karena masih bodoh atau belum memiliki cukup ilmu yang memadai untuk berjihad sehingga berjihad hanya dimaknai se-bagai berjuang dengan melakukan bom bunuh diri karena tidak ada amal saleh lain yang bisa dilakukannya.

 

Dengan kata lain, layak dipastikan bahwa mereka yang nekat menjadi jihadis dan mati konyol sebetulnya belum memiliki ilmu yang memadai. Mereka nekat melakukan jihad dalam kebodohan. Aksi jihadnya pun jadinya sembarangan, bahkan sama sekali tak layak disebut sebagai jihad. Karena itu, program deradikalisasi juga selayaknya didukung penuh oleh ulama agar berhasil dengan memuaskan.

 

Misalnya, ulama-ulama moderat dilibatkan untuk mengajar anak-anak muda yang pernah terindikasi mengikuti atau sekadar terpengaruh paham radikal sehingga bercita-cita ingin mati sebagai syuhada atau ingin menjadi jihadis sampai mati.

 

NU-Muhammadiyah

 

Untuk konteks Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu secara resmi menjalin kerja sama dengan NU dan Muhammadiyah dalam melaksanakan program deradikalisasi masif melalui sekolah-sekolah yang ada di lingkungan dua ormas terbesar tersebut.

 

Bukti kerja sama BNPT dengan NU dan Muhammadiyah bisa dalam bentuk ekstrakurikuler berisi pendidikan tentang jihad yang cerdas atau jihad berdasarkan ilmu yang memadai sehingga anak-anak bangsa tidak akan melakukan aksi jihad sembarangan seperti aksi bom bunuh diri.

 

Selain itu, ulama NU dan Muhammadiyah yang tersebar di hampir semua pelosok negeri ini juga pasti mampu memberikan pencerahan tentang jihad yang cerdas, melalui forum-forum pengajian di berbagai tempat dan khotbah-khotbah di masjid-masjid setiap Jumatan. Harus diakui, masih banyak anggota masyarakat kita, khususnya anak-anak bangsa, yang belum mengerti makna jihad dengan benar.

 

Mereka tentu rentan tergiur rekrutmen dari kaum radikal yang hanya mengutamakan keberanian berjihad tanpa ilmu memadai. Perlu diingat, sejak dulu ada ajaran dari kaum radikal bahwa setiap orang bisa saja menjadi syuhada yang pasti akan masuk surga kalau berani menjadi jihadis. Akibat itu, aksi-aksi bom bunuh diri terus terjadi di manamana. Ajaran tersebut harus dilawan dengan upaya-upaya pencerahan dengan mengajarkan berbagai ilmu oleh ulamaulama NU dan Muhammadiyah di semua pelosok negeri ini.

 

Dukungan Modal

 

Data empiris membuktikan bahwa kebanyakan jihadis yang nekat melakukan aksi bom bunuh diri ternyata hidupnya relatif miskin. Dalam hal ini, kemiskinan memperparah kebodohannya sehingga berani mati konyol. Persis dengan bunuh diri karena putus asa akibat terbelit kemiskinan dan tak mampu merintis usaha karena tidak ada modal.

 

Data empiris juga membuktikan bahwa banyak teroris ternyata tergiur iming-iming akan menerima upah besar jika mau melakukan aksi teror. Konkretnya, aksi teror sebagai pengejawantahan paham radikal ternyata banyak yang bermotif uang. Dan, teroris yang demikian tentu ingin memperbaiki kesejahteraan hidupnya.

 

Atau, ada fakta konyol yang sering terungkap bahwa pelaku teror bersedia mati dengan cara meledakkan bom rompi atau bom mobil karena tergiur iming-iming surga. Dalam hal ini, surga dijadikan tujuan akhir yang utama karena kehidupan yang dialaminya di dunia tidak bahagia.

 

Karena itu, program deradikalisasi masif juga perlu didukung modal finansial yang memadai. Dalam hal ini, BNPT perlu juga menggandeng kalangan pengusaha atau investor untuk membimbing peserta program deradikalisasi merintis usaha bisnis agar bisa memperbaiki kesejahteraan hidupnya.

 

Memilih Jihad

 

Jika ulama NU dan Muhammadiyah mendukung penuh upaya deradikalisasi dan mereka yang mengikuti program deradikaliasi memperoleh modal usaha, mereka mungkin akan mampu memilih jihad yang baik dan cocok.

 

Sedangkan jihad yang baik dan cocok bagi mereka tentu bukan aksi bom bunuh diri atau aksi teror lain yang identik dengan kekerasan yang mengerikan Dengan kata lain, program deradikalisasi masif adalah yang bisa mencerahkan penganut paham radikal untuk memilih jihad yang baik dan aman sehingga meskipun mereka tetap radikal, tidak akan melakukan aksi-aksi jihad yang biadab seperti aksi bom bunuh diri atau aksi teror yang mengerikan.

 

Misalnya, setelah mendapat ilmu memadai tentang jihad, para jihadis bisa memilih aksi jihad di ranah pendidikan dengan menjadi guru yang mendidik banyak anak sehingga menjadi alim dan saleh. Atau, mereka bisa saja tetap radikal, tapi memilih berjihad dalam ranah ekonomi dengan menjadi pengusaha yang gigih meraih kesuksesan dan membantu banyak sesama mengatasi kemiskinan.

 

Dengan demikian, program deradikalisasi masif bisa saja tidak akan berhasil menghapus radikalisme, namun paling tidak akan bisa mengubah radikalisme negatif yang menjelma aksi kekerasan atau aksi teror menjadi radikalisme positif yang menjelma kegigihan usaha mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan dunia.(Sindonews)