Anak dan Kecanduan Gadget
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i24649-anak_dan_kecanduan_gadget
Dampak kecanduan gadget elektronik seperti smartphone, tablet atau komputer pada anak bisa sangat fatal dan beragam. Kecanduan gadget bisa membuat anak kehilangan kemampuan komunikasi, mengalami masalah perilaku dan mood bahkan berkurang kemampuan kognitifnya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 01, 2016 10:20 Asia/Jakarta
  • Anak dan Gadget
    Anak dan Gadget

Dampak kecanduan gadget elektronik seperti smartphone, tablet atau komputer pada anak bisa sangat fatal dan beragam. Kecanduan gadget bisa membuat anak kehilangan kemampuan komunikasi, mengalami masalah perilaku dan mood bahkan berkurang kemampuan kognitifnya.

Kecanduan gadget yang dialami anak bisa bermulai dari bayi. Anak bisa kecanduan gadget jika ayah atau ibu memberikan stimulasi pada anak dengan memberikan tab untuk bermain games atau video.

 

Secara definisi, kecanduan gadget adalah penggunaan gadget elektronik dan internet yang tidak terkendali. Penggunaan gadget yang tidak terkendali ini harus disertai dengan gangguan perilaku, kognisi dan sosial untuk bisa dikategorikan sebagai kecanduan.

 

"Pre-okupasi itu ketika bangun tidur yang dicari gadget, kalau nggak main gadget gelisah. Sedangkan perubahan mood misalnya nggak main gadget dia marah, uring-uringan hingga tantrum," tutur dr Kristiana Siste, SpKJ, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo.

 

Kecanduan Gadget, Ganggu Perkembangan Mata dan Penglihatan Anak

 

Kecanduan gadget tidak hanya membuat anak sulit berkomunikasi. Pakar mengatakan kecanduan gadget bisa memengaruhi perkembangan mata dan penglihatan anak.

 

Dikatakan dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SpA(K), MARS, dari RSU Bunda Jakarta, anak di bawah usia satu tahun yang sudah dikenalkan kepada gadget bisa mengalami tumbuh kembang yang tidak optimal, terutama dari sisi penglihatan. Sebabnya, pancara sinar atau cahaya dari gadget bisa merusak mata bayi.

 

"Penelitian sudah membuktikan, sinar kebiruan yang terpancar dari gadget merusak mata bayi dan anak secara permanen, terutama di bagian makula yang terletak di bagian belakang mata," tutur wanita yang akrab disapa dr Tiwi ini dalam seminar parenting class di RSU Bunda Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

 

Makula merupakan bagian dari retina yang terletak di bagian belakang mata. Dikatakan dr Tiwi, penggunaan smartphone pada bayi dan anak dapat mempercepat terjadi degenerasi makula, dan merusak penglihatan anak lebih awal.

 

Selain itu, pancaran sinar dari gadget juga membuat bayi sulit tidur, dan akhirnya siklus tidurnya terganggu. Padahal menurut dr Tiwi, tidur cukup merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang bayi agar pertumbuhannya optimal.

 

"Perlu juga diperhatikan, kalau mata anak sering berair atau sering berkedip tanpa sebab, tandanya mata kering dan sudah kelelahan karena terlalu sering menggunakan gadget," ungkapnya.

 

Tak hanya itu, penggunaan gadget pada anak juga bisa menyebabkan mata menjadi juling. Hal ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan Chonnam National University Hospital di Seoul, Korea Selatan.

 

Penggunaan gadget pada anak usia 7-16 tahun selama 4 sampai 8 jam sehari berisiko mengalami mata juling. Peneliti menyebutkan kondisi juling akan semakin meningkat jika anak-anak memegang ponsel mereka hanya sejauh 30 cm dari wajah.

 

Oleh karena itu, dr Tiwi mengingatkan orang tua untuk tidak menggunakan gadget, baik itu smartphone, komputer, laptop atau televisi secara berlebihan. Jika orang tua sendiri sudah kecanduan, tentu anak akan lebih mudah mengalami hal serupa.

 

"Memang mengasuh anak di zaman digital tidak mudah dan penuh tantangan. Tetapi tidak bisa dijadikan alasan karena penggunaan gadget supaya dia diam itu menghambat tumbuh kembangnya, karena bayi tidak mengeksplorasi tubuhnya," tutup dr Tiwi.

 

Anak Kesulitan Berbica Akibat Kecanduan Gadget

 

Kecanduan gadget pada anak bisa membuat otak mengalami kerusakan. Kerusakan di otak inilah yang nantinya bisa membuat anak kesulitan untuk mencerna kata-kata dan sulit untuk belajar bicara.

 

dr Lestaria Arianti, SpKFR(K), mengatakan otak merupakan daerah yang paling terdampak ketika anak mengalami kecanduan gadget. Sebabnya, otak merupakan pusat aktivitas sensorik, motorik, kognitif, bahasa, bicara hingga sosial dan emosi seseorang.

 

"Yang paling terlihat adalah gangguan yang dialami otak bagian depan (frontal lobe). Gangguan pada otak bagian depan membuat IQ verbal anak rendah dan emosi tidak stabil," tutur dr Ari, begitu ia biasa disapa, dalam seminar parenting class di RSU Bunda Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

 

Dijelaskan dr Ari, setiap jam yang dihabiskan anak untuk menggunakan gadget, baik itu smartphone, komputer ataupun televisi, dapat menghilangkan 500 hingga 1.000 kosakata baru yang dapat dipelajari. Hal ini karena anak hanya menyimpan kata tanpa mengerti maksudnya.

 

Berbeda ketika anak diajak bicara oleh orang tua. Anak yang sering diajak bicara oleh orang tua diketahui memiliki kemampuan mengolah kata yang lebih baik dan skill verbal yang juga tinggi.

 

"Makanya mendiamkan anak dengan menggunakan gadget saat di restoran atau ketika di rumah pun tidak dianjurkan. Sampai usia 5 tahun itu anak sebenarnya belum membutuhkan gadget dan orang tua yang berperan sebagai pusat informasi," ungkapnya lagi.

 

Hal senada juga dikatakan oleh dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SpA(K), MARS. Menurut dr Tiwi, gangguan otak yang dialami oleh anak yang kecanduan gadget bukan hanya menyebabkan proses bicara terhambat, namun juga membuat anak tidak memiliki kemampuan non-akademis.

 

"Seperti pengendalian diri, empati, kemampuan interaksi sosial dan pemecahan masalah itu tidak dapat dipelajari melalui gadget dan hanya bisa didapatkan dengan mengeksplorasi lingkungan," urainya.

 

4 Langkah Cegah Anak Kecanduan Gadget

 

Kecanduan gadget memiliki banyak efek negatif. Selain anak jadi sulit berkomunikasi, kecanduan gadget juga bisa mengganggu proses tumbuh kembang, kemampuan bicara anak, serta risiko lebih dini mengalami gangguan penglihatan.

 

dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SpA(K), langkah pencegahan yang utama berasal dari orang tua. Jika orang tua tidak ketagihan atau kecanduan menggunakan gadget, kecil kemungkinan anak mengalami kecanduan.

 

"Kalau dikasih tv atau gadget, anak jadi tidak mengeksplorasi tubuhnya, yang nantinya membuat tumbuh kembangnya tak optimal. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar mencari cara bagaimana supaya anak tidak kecanduan gadget," tutur dr Tiwi, dalam seminar parenting class, baru-baru ini.

 

Lalu, cara apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah anak keacnduan gadget? Dirangkum detikHealth, berikut 4 cara yang bisa digunakan.

 

1. Bikin kontrak

 

dr Lestaria Arianti, SpKFR, mengatakan anak usia di bawah 24 tahun tidak membutuhkan gadget dan televisi sama sekali. Sementara untuk anak usia di atas 2 tahun, gadget dibolehkan dengan syarat-syarat khusus.

 

"Misalnya hanya satu jam sehari boleh main gadget. Atau gadget hanya bisa digunakan saat hari Sabtu dan Minggu. Jadi dibikin kontrak perjanjian sama anaknya," ungkap dr Ari.

 

2. Playdate

 

Playdate merupakan trik lain untuk mencegah anak kecanduan gadget. Hal ini dikarenakan anak main gadget mungkin karena bosan atau tidak ada aktivitas menarik yang ia bisa lakukan di luar rumah.

 

Untuk itu, ada baiknya orang tua membuat janji dengan orang tua lain yang memiliki anak dengan usia sebaya. Playdate sebaiknya dilakukan dengan tema sehingga anak tidak ingin menggunakan gadget saat bermain bersama.

 

"Misalnya jalan ke Monas bareng-bareng, atau mencoba pengalaman naik KRL, TransJakarta, itu juga bisa jadi ide playdate di luar rumah," ungkap dr Tiwi.

 

3. Jadikan reward

 

Salah satu trik lain untuk mencegah anak kecanduan gadget adalah menjadi hal tersebut sebagai reward atau ganjaran atas prestasi dan perbuatan baik yang dilakukan anak.

 

Psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi mengatakan orang tua perlu mengatur kapan waktu bermain anak. Waktu di sini merujuk pada kapan dan berapa lama anak boleh bermain games tersebut.

 

"Kemudian orang tua bisa menjadikan games itu sebagai reward. Konten juga jangan lupa mesti diperhatikan ya, pilih yang sesuai dengan usia anak. Kemudian jangan lupa ajak anak berdiskusi dengan anak bahwa games tersebut hanyalah permainan semata sehingga anak tidak terlalu 'menjiwai'-nya," tutur Ratih.

 

4. Bermain bersama

 

Trik terakhir dan paling jitu adalah bermain bersama anak. Dikatakan dr Tiwi, bermain tidak harus dengan peralatan atau mainan mewah. Kegiatan sederhana seperti mengganti baju atau memandikan anak juga bisa dilakukan dengan bermain.

 

Bagaimana dengan orang tua yang bekerja dan memiliki sedikit waktu di rumah? Untuk hal ini, dr Tiwi mengembalikan kepada penilaian masing-masing orang tua. Pasalnya, hanya orang tua yang mampu mengatur jadwal diri mereka dan melakukan yang terbaik untuk si kecil.

 

"Kalau ibu pulang malam? Mungkin bisa mendongen untuk anak yang agak besar. Atau kalau anak masih bayi, ibu dan bayi tidur lebih awal sehingga bangun subuh bisa main dulu sebelum berangkat kerja," tuturnya. (Detik)