Aksi Damai 212
Aksi 2 Desember berlangsung damai, bahkan aksi tersebut dihadiri presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla melaksanakan salat Jumat dengan peserta Doa Bersama di kawasan Silang Monas, Jakarta.
Situs Antara melaporkan, presiden dan rombongan keluar dari Istana Merdeka dan berjalan menuju Silang Monas dengan pengawalan dari Pasukan Pengamanan Presiden dan juga pengamanan internal dari pelaksana acara Doa Bersama.
Presiden dan Wakil Presiden kemudian menuju tenda yang ada di dekat panggung utama di Silang Monas dan menunggu pelaksanaan salat Jumat. Sejumlah menteri yang mendampingi Presiden antara lain Menko Polhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Kapolda Metro Jaya Irjen Irawady.
Di tengah hujan yang mengguyur kawasan tersebut, para jamaah yang hadir mengabadikan kedatangan Presiden dan Wapres dengan kamera maupun telepon seluler mereka, namun tidak sampai menghalangi jalan Presiden dan rombongan. Suasana pun tetap tertib dan tenang.
Presiden Joko Widodo menyampaikan pujiannya kepada ulama dan semua kalangan atas aksi damai dan Doa Bersama yang dilangsungkan di Monas, Jakarta Pusat, Jumat.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut baik gagasan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin mengenai dialog nasional untuk mencapai rujuk nasional. Menurut Maruf Amin, gagasan itu ia sampaikan saat melakukan pertemuan khusus dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu (30/11).
"Presiden telah meminta penjelasan tentang konsep rujuk nasional. Dalam pertemuan itu, Presiden setuju untuk mewujudkan rasa toleransi semua pihak," katanya dikutip dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.
Menurut Maruf, rujuk nasional dimaksudkan untuk menghilangkan rasa saling curiga serta membangun kehidupan yang harmonis antarseluruh warga negara, baik dalam konteks kehidupan sosial maupun politik.
"Semua ini akan terwujud jika seluruh warga negara menyadari perlunya toleransi atas keragaman masyarakat Indonesia, baik dari segi sosial maupun politik," katanya.
Maruf Amin menambahkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius yang kini tengah membangun demokrasi yang beradab. Untuk itu, terwujudnya akhlak etika moral yang kuat di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat perlu.
"Kesadaran beragama harus dibarengi dengan menguatnya etika- moral bangsa sehingga perlu adanya gerakan moral yang terintegrasi. Salah satunya rujuk nasional tadi," kata Maruf yang juga ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sementara itu Wakil Sekjen PBNU Hery haryanto Azumi menilai kehadiran Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dalam shalat Jumat dan zikir bersama dalam aksi Bela Islam 212 sebagai bukti bahwa pemerintah merespons positif gagasan rujuk nasional.
"Hadirnya Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla itu sebagai sinyal atau pertanda pemerintah menyetujui gagasan rujuk nasional Kiai Maruf Amin," kata wakil sekjen PBNU.
Menurut dia, integrasi nasional yang kokoh menjadi syarat terwujudnya stabilitas nasional. Jika pada kenyataannya masih terjadi tindakan yang dianggap menganggu konsensus kebangsaan maka harus disikapi dengan cara-cara bijaksana.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebutkan sejumlah pesan penting yang tersirat dalam Aksi Superdamai 212 yang berlangsung Jumat (2/12). Kegiatan yang melibatkan jutaan umat Muslim di silang Monas Jakarta dan sekitarnya itu disebut menggugah kesadaran tertinggi dalam kehidupan kebangsaan.
"Aksi 212 patut diapresiasi tinggi, karena menunjukkan kematangan sikap dan keluhuran budi umat Islam di Indonesia," ujar Haedar.
Pria 58 tahun itu berbangga karena aksi yang ditunjukkan dengan aktivitas spiritual dalam wujud zikir, tausyiyah, dan shalat Jumat berjamaah tersebut berlangsung simpatik, sejuk, tertib, dan ramah. Gelora damai sangat terasa dari sikap peserta aksi, bahkan tidak ada satu helai tumbuhan pun yang terganggu.
Artinya, kata ia, aksi 212 semakin memperkuat dan membuktikan kepada publik bahwa umat Islam Indonesia memberi contoh membawa misi damai dalam kata dan tindakan. Hal itu sekaligus menjadi pesan ke publik bahwa tudingan berupa stigma negatif umat Islam yang garang, suka menimbulkan keributan, dan terkait dengan teror, sangat tidak tepat.
Keberhasilan aksi damai 212 itu disebutnya bukan hanya milik umat Islam, tetapi milik bangsa secara keseluruhan. Apabila kasus penistaan agama berujung hukuman setimpal sebagaimana tuntutan utama aksi damai, maka yang diuntungkan sesungguhnya seluruh umat beragama dan warga bangsa.
"Bahwa tidak boleh siapapun berkata dan berbuat sekehendaknya di negeri ini yang menodai agama dan melukai hati umat beragama. Ini juga menjadi pesan moral kepada aparat penegak hukum untuk menegakkan hukum dengan seadil-adilnya," ucapnya.
Selain itu, Haedar mengatakan bahwa pihak kepolisian, TNI, serta seluruh aparat keamanan layak memperoleh penghargaan karena mampu mengawal jalannya aksi secara damai dan tertib. Ia juga mengapresiasi warga Jakarta lain yang tidak ikut aksi karena menunjukkan kedewasaan dan toleransi tinggi.
Sementara itu, pihak Polri mengapresiasi massa yang mengikuti kegiatan doa bersama berisi tausiah, dzikir, dan Shalat Jumat di Monumen Nasional Jakarta Pusat.
"Kita apresiasi massa sangat tertib mengikuti tausiah dan membubarkan diri," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta Jumat.
Ia mengatakan massa yang hadir mengikuti aksi "super" damai itu konsisten menjaga ketertiban umum selama doa bersama hingga membubarkan diri.
Rikwanto mengatakan sejumlah anggota massa masih berada di Bundaran Hotel Indonesia (HI) namun situasi dan kondisi tetap terkendali dengan pengamanan aparat petugas yang berjaga di sekitar lokasi.
Selama kegiatan doa bersama, perwira menengah kepolisian itu, mengatakan tidak ada peristiwa yang menonjol sehingga situasi keamanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya terkendali. Sebelumnya, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menggelar doa bersama diakhiri Shalat Jumat dan tausiah.
Sekjen PAN Eddy Suparno mengatakan, aksi 2 Desember tersebut patut disykuri, karena berlangsung dengan damai dan tertib. Hal ini jadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia di mata dunia dalam hal berdemokrasi.
"Kita mensyukuri bahwa aksi damai '212' berjalan dan berakhir secara tertib, khidmat dan menjunjung tinggi kebhinekaan di antara anak bangsa. Kita boleh berbangga bahwa Indonesia sekarang menjadi model bangsa yang mempraktekkan demokrasi dan toleransi dengan baik dan berhasil," ata Eddy kepada detikcom, Jumat (3/12/2016).
Terkait dengan kehadiran Jokowi di tengah-tengah massa aksi, bahkan juga melakukan salat Jumat berjamaah dengan para ulama dan masyarakat, PAN mengapresiasinya. Menurut Eddy, hal itu menyejukkan kondisi politik yang sempat memanas.(Antara/Detik/Republika)