Berbagai Masalah Mulai Dihadapi Pengungsi Gunung Agung
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i45033-berbagai_masalah_mulai_dihadapi_pengungsi_gunung_agung
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya mengatakan sejumlah pengungsi siaga darurat Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, mulai terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan, diare, dan hipertensi.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Sep 28, 2017 08:46 Asia/Jakarta

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya mengatakan sejumlah pengungsi siaga darurat Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, mulai terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan, diare, dan hipertensi.

"Dari pantauan kami, dalam satu posko pengungsian yang menderita infeksi saluran pernapasan dan diare berkisar 20-30 orang, bahkan ada yang sampai harus dirujuk ke rumah sakit umum daerah," kata Suarjaya, di Denpasar, Rabu.

Menurut dia, penyebabnya karena di tengah musim kemarau saat ini sehingga banyak debu yang terhirup oleh pengungsi, di samping faktor sanitasi yang mungkin kurang bagus.

"Banyak pengungsi yang juga saya lihat merokok sembarangan, padahal di situ banyak balita, anak-anak, ibu hamil dan kaum lansia. Selain itu, fasilitas MCK (mandi, cuci, dan kakus) yang jumlahnya sangat kurang," ujarnya.

Pemerintah, lanjut Suarjaya, telah menaruh perhatian terhadap persoalan ini, bahkan telah mengerahkan petugas sanitarian, di samping menyiagakan tenaga kesehatan yang jumlahnya hingga berlebih.

"Masalahnya, untuk pencegahan terhadap penyakit ini, sangat memerlukan dukungan dari para pengungsi sendiri yang harus menjaga kesehatan diri dan turut membersihkan lingkungan. Jangan sampai karena keterbatasan sarana MCK, lalu malas mandi, tidak mencuci tangan sebelum makan dan buang air sembarangan," katanya.

Sedangkan dari sisi dapur umum, kata Suarjaya, dilihat dari jenis makanan yang disajikan kepada pengungsi gizinya sudah cukup bagus dan berimbang, tinggal dari sisi kebersihannya yang harus terus dijaga.

"Kami juga telah menyiapkan biskuit bergizi yang dapat diberikan untuk anak-anak dan ibu hamil, sebagai upaya untuk memenuhi kecukupan gizi pengungsi," katanya.

Sementara dari sisi obatan-obatan, juga diakui jumlahnya sudah mencukupi dan pihaknya telah mengingatkan para petugas kesehatan agar rasional dalam menggunakannya.

"Saya sangat mengharapkan kesadaran para pengungsi untuk menjaga kesehatan, karena jika tidak kasus penyakit tersebut akan semakin berkembang. Apalagi kemungkinan para pengungsi akan tinggal lama di tempat tersebut," ujar Suarjaya.

Relawan berikan terapi kepada pengungsi Gunung Agung

Relawan dari Yayasan Anand Asrham memberikan terapi yoga untuk menghilangkan stres kepada warga pengungsi Gunung Agung.

"Terapi ini adalah pelatihan dasar pernafasan agar mampu menghadapi cobaan sehingga tidak stres," kata Ketua Yayasan Anand Asrham, Dr Sayoga saat ditemui di posko pengungsian Desa Tenganan Pegeringsingan, Karangasem, Bali, Rabu.

Dalam menghadapi bencana Gunung Agung, pihaknya telah menerjunkan 30 relawan untuk memandu para pengungsi berlatih yoga sehingga tidak stres.

Dalam pelatihan tersebut hampir semua pengungsi anak-anak dan dewasa ikut ambil bagian dalam kegiatan yoga itu.

Pelatihan antara kelompok anak-anak dipisahkan dengan kelompok dewasa agar mereka bisa fokus dan cepat memahami materi yoga.

Dr Sayoga berjanji akan memberikan pelatihan secara bergantian kepada para pengungsi Gunung Agung yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali.

"Pelatihan yoga itu juga pernah saya berikan sebelumnya saat bencana gunung meletus di Yogyakarta," ujarnya.

Menurut dia, banyak warga telah merasakan dampak pelatihan itu sehingga tetap tabah dalam menghadapi cobaan bencana alam.

Sementara itu, Ketut Kayun salah seorang pengungsi mengaku senang mendapat pelatihan yoga tersebut. "Mungkin karena ini pertama kali ikut yoga belum merasakan dampaknya dan perlu pelatihan banyak," ujarnya.(Antaranews)