Penembakkan Las Vegas di Mata Media Indonesia
Aksi penembakkan terbaru di AS menyita perhatian publik dunia termasuk media di Indonesia. Situs Antara Selasa (3/10) mengutip AFP melaporkan sebanyak 406 korban dilarikan ke rumah sakit setelah terjadi aksi penembakan massal di Las Vegas. Keterangan kepolisian, Senin (02/10) mengungkapkan sedikitnya 50 orang tewas dalam konser musik country di Las Vegas.
Situs koran Kompas hari Selasa menurunkan laporan mengenai sosok pelaku penembakkan Las vegas yang tidak memiliki rekam jejak Kriminal. Kompas menulis judul berita, "Stephen Paddock Dalang Tragedi Las Vegas, Siapa Dia Sebenarnya?" dengan menyebut pria berusia 64 tahun itu tinggal di Mesquite, Nevada. Pihak berwenang AS mengatakan, Paddock adalah seorang pensiunan akuntan yang memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat terbang kecil.Dia pun sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal.
Situs koran Republika menelisik masalah ini dengan menyoroti statemen Presiden AS, Donald Trump yang menyebut insiden tersebut merupakan murni aksi kejahatan. Ia bahkan menghindari kata "terorisme".
Koran Republika menyebut Paddock diketahui tidak memiliki riwayat kriminal dan tidak memiliki motif ideologis yang jelas. Namun, hal itu tidak menghalangi munculnya berbagai spekulasi.
"Motif Stephen Paddock" berada di daftar paling tinggi dalam mesin pencarian Google. Namun, belum ada penjelasan yang benar-benar mengungkap motif Paddock dalam melakukan aksi penembakan terburuk dalam sejarah moderen AS ini.
Pembunuhan massal orang-orang tak berdosa, bahkan dalam skala Las Vegas, tidak secara otomatis memenuhi definisi terorisme yang berlaku umum. Terorisme membutuhkan motif politik, ideologis, atau religius.
Namun di luar analisis akademis itu, kata 'terorisme' juga sering kali digunakan sebagai senjata verbal, terutama untuk melabeli tersangka Muslim. "Labelnya sangat merendahkan dan memberikan begitu banyak tekanan," kata Martha Crenshaw, pakar terorisme di Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional Stanford, dikutip New York Times.
Berita mengenai serangan massal tidak hanya menyampaikan rasa duka cita, namun juga kecemasan bagi komunitas Muslim. Mereka berdoa agar penyerang bukan seorang Muslim, melainkan kaum konservatif atau kaum liberal.
Beberapa pihak mungkin merasa, usia lanjut Paddock, ras kulit putihnya, dan latar belakang agamanya sebagai non-Muslim, membuat kecil kemungkinan dia akan disebut sebagai teroris. Tragedi mengerikan ini justru membuka kembali debat mengenai kontrol senjata.
Padahal, jika Paddock tidak memiliki motif pembunuhan, maka kepemilikan senjatanya bukan merupakan kesalahan. Fenomena penembakan massal yang hanya membawa label terorisme dalam kasus-kasus tertentu, adalah fenomena yang biasa di Amerika.
Pembunuhan di AS telah meningkat lebih dari 8 persen pada 2016, menjadi 17.250 kasus, menurut laporan FBI bulan lalu. Namun kebanyakan pembunuhan terjadi dalam kasus perampokan, serangan seksual, atau perselisihan di dalam perdagangan narkoba dan usaha kriminal lainnya.
Hingga kini Gedung Putih tampak enggan berkomentar ketika ditanya soal pengendalian senjata menyusul insiden penembakan yang menewaskan 59 dan melukai lebih dari 200 orang di Las Vegas, Nevada.
Situs CNN Indonesia melaporkan, Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengatakan "hari ini adalah hari untuk berbelasungkawa bagi para penyintas."
"Ada waktu dan tempat untuk debat politik," kata Sanders. "Ini saatnya untuk bersatu."
Menurut Sanders "masih prematur untuk mendiskusikan kebijakan saat kita belum sepenuhnya tahu fakta-fakta yang ada."
Data statistik menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas serta korban akibat penembakan berdarah di berbagai kota Amerika selama beberapa tahun lalu semakin meningkat.
CNN melaporkan, studi yang dilakukan Adam Lankford, professor hukum kriminal di Universitas Alabama menunjukkan dari 292 penembakan massal di seluruh dunia, 90 di antaranya terjadi di Amerika Serikat dalam kurun waktu 46 tahun. AS memiliki lima persen dari populasi dunia dan 31 persen dalam hal penembakan massal.
Menurut Lankford, warga AS lebih rentan tewas akibat penembakan massal dibanding negara lainnya di seluruh dunia.
Di AS, warganya punya kesempatan lebih besar tewas akibat penembakan saat berada di sekolah atau tempat kerja. Sementara di negara lain, insiden ini biasanya terjadi dekat fasilitas militer.
Di lebih dari setengah kasus penembakan di Amerika, pelaku membawa lebih dari satu senjata api. Pada kasus serupa di negara lain, pelaku biasanya hanya membawa satu senapan.
Rata-rata korban tewas akibat penembakan di AS adalah 6,87 orang per insiden. Sementara di 171 negara berdasarkan studi Lankford, rata-ratanya adalah 8,8 korban per insiden.
Data yang disajikan Lankford di tahun 2015 belum memasukkan jumlah korban penembakkan di era Trump yang semakin tinggi. Para ahli menilai salah satu pemicu tingginya angka penembakkan akibat longgarnya undang-undang kepemilikikan senjata di AS.(PH/Antara/Kompas/Republika/CNNIndonesia)