Di Tehran, Menteri Nasir Beberkan Capaian Kemenristekdikti
Kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi Republik Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendongkrak daya saingnya di arena internasional, termasuk dengan mendorong perbaikan reputasi perguruan tinggi Indonesia di level dunia.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Mohamad Nasir mengatakan, Meskipun masih relatif kecil saat ini terjadi perbaikan peringkat perguruan tinggi Indonesia di tingkat dunia.
“Alhamdulillah, Ada tiga perguruan Indonesia yang masuk di dalam 500 perguruan tinggi terbaik di dunia, di antaranya, UI, ITB dan UGM," ujar menristekdikti Indonesia, Senin malam (9/10/2017) di Wisma Duta RI, Tehran.
"Perguruan tinggi lain yang masih berada di peringkat 600, 700 maupun 800 kita dorong untuk naik masuk 500 dunia," tegas Muhammad Nasir.
Dilaporkan, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada berhasil masuk ke dalam peringkat 500 universitas teratas dunia versi Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking (WUR).
"Universitas Indonesia di peringkat 277 naik 48 peringkat dari tahun sebelumnya di 325. Institut Teknologi Bandung di peringkat 331, dan Universitas Gadjah Mada naik 99 peringkat menjadi peringkat 402,” papar Menristekdikti Mohamad Nasir dalam kuliah umumnya yang disampaikan di Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (8/6/2017).
Menurut menteri Nasir, aksi yang harus didorong adalah riset dalam bentuk publikasi ilmiah, dan kini sudah menunjukkan peningkatan signifikan.
"Pada 2 Oktober lalu, kami cek Indonesia yang biasanya berada di bawah Thailand, kini sudah berada di atasnya, …. Kita saat ini sudah berada di angka 12.093, sedangkan Thailand berada di angka 10.900," papar guru besar di bidang Behavioral Accounting dan Management Accounting, Undip Semarang ini.
Tahun lalu, Indonesia berada di posisi keempat ASEAN di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand dengan publikasi ilmiah berjumlah 11.406 buah, sedangkan Malaysia masih memimpin di ASEAN dengan jumlah publikasi sebanyak 25.000 buah.
Meskipun demikian, kemenristekdikti tetap optimis ke depan Indonesia mampu menduduki posisi teratas di ASEAN. Untuk mewujudkan target tersebut, Kemenristekdikti telah menyiapkan instrumen berupa Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah lektor kepala dan guru besar.
Selain itu, ada Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 yang mengatur secara khusus tentang kewajiban publikasi mahasiswa program magister dan doktor.
Kemenristekdikti menentukan capaian umum program 2015-2019 dalam lima ketegori yaitu: meningkatnya kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan perguruan tinggi; meningkatnya kualitas kelembagaan iptek dan dikti; meningkatnya relevansi, kualitas dan kuantitas sumber daya iptek dan dikti; meningkatnya relevansi dan produktivitas riset dan pengembangan; dan meningkatnya kapasitas inovasi.
Menteri Nasir menekankan hasil riset harus inovatif dan memiliki nilai guna di tengah masyarakat, serta nilai tambah ekonomis.
Menurut mantan rektor Undip ini, “Cara yang kita lakukan untuk meningkatkan kualitas riset adalah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Iran, terutama di bidang nano teknologi,”
“Iran memiliki pengalaman dalam nano teknologi sekitar sepuluh tahun terakhir, dan kita baru memulai dalam dua tahunan,” papar menristekdikti RI.
“Meskipun demikian, kita terus mengejarnya, dengan meningkatkan kualitas SDM kita,” pungkasnya.(Purkon Hidayat)