Pendidikan Karakter, Tema Hari Guru Nasional
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i47189-pendidikan_karakter_tema_hari_guru_nasional
Pendidikan karakter dan keteladanan guru menjadi tema utama dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2017. Dua frasa tersebut selaras dengan salah satu kebijakan prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menempatkan guru sebagai aktor utama dalam implementasi PPK.
(last modified 2026-03-28T18:01:20+00:00 )
Nov 24, 2017 14:01 Asia/Jakarta

Pendidikan karakter dan keteladanan guru menjadi tema utama dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2017. Dua frasa tersebut selaras dengan salah satu kebijakan prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menempatkan guru sebagai aktor utama dalam implementasi PPK.

Tema HGN 2017 adalah “Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru”. Adapun HGN diperingati 25 November setiap tahunnya.

Melalui tema tersebut, Kemendikbud mengajak semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan suasana sekolah seperti pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara.

“Guru itu menjadi suri tauladan ke peserta didiknya. Kemudian filosofi pendidikan kita itu kan dari Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengedepankan empat pilar pendidikan karakter, yaitu olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga. Guru juga menjadi sosok yang memperlihatkan sisi kepemimpinan dalam memberikan batas-batas kepada siswanya, ini boleh, ini tidak boleh. Itulah keteladanan guru,” ujar Kepala Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan, Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Elvira dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017).

Guru juga diharapkan menjadi sosok yang mampu membangkitkan sifat-sifat baik lainnya, seperti memiliki etos kerja, sportif, dan disiplin. Hal ini menjadi bagian dari penanaman karakter.

“Sebenarnya pendidikan karakter dari dulu sudah ada, tapi sekarang konsep itu harus menjadi pembiasaan baik dari kelas, budaya sekolah, dan lingkungan rumah, yaitu dari orang,tua. Jadi bagaimana rasa dari Ki Hajar Dewantara itu harus semakin lagi diaplikasikan oleh para guru kita,” tambah Elvira.

Peringatan HGN 2017 diisi dengan rangkaian kegiatan, seperti lomba inovasi pembelajaran, lomba pengelolaan satuan pendidikan, penulisan naskah buku, simposium, dan lokakarya.

Berbagai lomba yang diadakan untuk guru dan tenaga kependidikan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan program stimulan kepada mereka untuk terus terpacu meningkatkan diri sebagai pendidik.

“Dalam lomba inovasi pembelajaran, karya guru-guru kita itu betul-betul sesuatu yang tidak kita prediksikan. Guru-guru itu sudah sangat inovatif, terutama dari guru-guru di daerah, terobosannya banyak,” ujarnya.

Melalui peringatan HGN, Elvira berharap guru-guru Indonesia mampu menjadi pendidik yang berkarakter dan contoh baik bagi siswa. Dengan contoh yang baik itu, guru dapat menghasilkan siswa yang pintar, memiliki etika, sopan santun, dan siap menghadapi tantangan abad 21.

“Dan saya tahu, guru-guru kita adalah guru-guru yang keren, yang mulia karena karya dan semuanya itu akan terus menjadi spirit untuk guru-guru kita menjalankan tugasnya sehari-hari. Selamat Hari Guru, karena di tangan para guru-lah disiapkan pemimpin-pemimpin masa depan,” katanya.

Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan

Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran.

“Semua muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik. Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017).

Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical knowledge.

Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya.

Anas mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat tergantung pada peran guru-guru di sekolah.

Selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran.

Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019.

Berbagai upaya untuk mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud.

Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2017.

Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017) diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional 2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru." (Kompas.com)