Di Indonesia, Banjir Protes terhadap Trump semakin Deras
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i47959-di_indonesia_banjir_protes_terhadap_trump_semakin_deras
Sikap Presiden Amerika Serikat yang bersikeras mengakui Baitul Maqdis sebagai ibu kota rezim Zionis Israel menyulut gelombang protes luas, termasuk di tanah air yang tetap mengalir deras hingga kini. Keputusan Trump mendapat reaksi keras dari beragam pemimpin dunia.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Des 10, 2017 07:35 Asia/Jakarta

Sikap Presiden Amerika Serikat yang bersikeras mengakui Baitul Maqdis sebagai ibu kota rezim Zionis Israel menyulut gelombang protes luas, termasuk di tanah air yang tetap mengalir deras hingga kini. Keputusan Trump mendapat reaksi keras dari beragam pemimpin dunia.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyampaikan pesan Indonesia melalui sambungan telepon kepada pemimpin otorita Palestina Mahmoud Abbas.

"Kemarin saya sudah coba dua kali dan, alhamdulilah, kemarin saya sudah berbicara dengan Presiden Mahmoud Abbas dan saya sampaikan kembali posisi Indonesia mengenai pengakuan Amerika Serikat (AS) terhadap Yerusalem sebagai ibu kota," kata Jokowi di Gunungkidul Yogyakarta, Sabtu (9/12), seperti dilansir Antara hari Minggu.

Sambungan telepon Jokowi terkait dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan akan segera memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel, yaitu dari Kota Tel Aviv ke Yerusalem. Di sisi lain, Yerusalem masih menjadi kota penting bagi Israel dan Palestina.

"Saya sampaikan kepada Presiden Mahmoud Abbas bahwa, yang pertama, Indonesia mengecam keras keputusan AS tersebut dan saya sampaikan juga keputusan tersebut bertentangan dengan semua resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Palestina," ujar Presiden.

Presiden Joko Widodo

Menurut Jokowi, pengakuan Trump mengenai pemindahan kedutaan besar juga membahayakan proses perdamaian yang sudah lama dirintis. "Kedua, Indonesia mengajak semua negara untuk bersatu, memberikan dukungan terhadap Palestina," ucap dia.

Ketiga, lanjut Jokowi, Indonesia juga akan mengajak negara lain untuk tidak mengikuti langkah AS memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem. "Terakhir, Indonesia akan selalu bersama dengan perjuangan rakyat Palestina," kata Presiden.

Menurut Presiden Jokowi, Mahmoud Abbas sangat menghargai apa yang disampaikan Indonesia. "Beliau sangat menghargai apa yang dilakukan oleh negara kita, konsistensi sejak presiden pertama, Presiden Sukarno, sampai sekarang," ucap Presiden.

Sikap Indonesia terhadap Palestina, menurut Jokowi, juga akan disampaikan dalam pertemuan OKI di Turki pada 12-14 Desember 2017. "Mungkin akan kita tambahi (pernyataannya), tetapi intinya yang saya sampaikan kepada Presiden Mahmoud Abbas sudah jelas sekali," kata Jokowi menegaskan.

Sementara itu, Menlu RI Retno Marsudi pada Minggu Pagi bertolak menuju Amman, Yordania untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Palestina dan Menlu Yordania.

"Menlu RI akan bahas masalah Jerusalem dan sampaikan dukungan penuh Indonesia terhadap Palestina," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir melalui pesan singkat di Jakarta, Minggu.

Menlu Retno Marsudi juga dijadwalkan akan membahas persiapan KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang akan digelar pada 13 Desember di Istanbul.

Menlu Retno LP Marsudi

Pengamat Sosiologi, Musni Umar, menilai musibah yang dialami bangsa Palestina dan umat Islam tentang Yerusalem,jika hanya dilihat dari sisi negatifnya,tidak akan memberi manfaat banyak bagi bangsa Palestina dan umat Islam.

Menurutnya, salah satu hikmah yang bisa diambil dari pernyataan Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel, telah mempersatukan seluruh umat Islam yang selama ini sangat sulit bersatu.

Di sisi lain, pernyataan Donald Trump, bisa menguntungkan bagi Israel, dan sebaliknya merugikan bangsa Palestina yang telah diusir dari negeri mereka.

"Umat Islam yang jumlahnya 1.8 miliar di seluruh dunia bersatu melawan keputusan yang tidak adil dan melawan hukum internasional karena Yerusalem merupakan Haram al-Sariif, tempat Masjidil al-Aqsha, kiblat umat Islam pertama," ujar Musni Umar, mengutip Republika hari Minggu.

Di masa depan bangsa Palestina dan bangsa Arab di Timur Tengah sejatinya menang dalam melawan Israel. Kendati sejak 70 tahun lalu tidak pernah menang karena penjajahan Israil terhadap bangsa Palestina disokong oleh Amerika Serikat dan barat.

Selain itu, bangsa Arab dan bangsa Palestina tidak bersatu, sehingga melemahkan perjuangan untuk mewujudkan kemenangan. "Semua perjuangan tidak akan memperoleh kemenanganan dan kesuksesan jika tidak ada persatuan," jelas Rektor Universita Ibnu Chaldun Jakarta ini.

Momentum pernyataan Donald Trump, menurutnya telah mempersatukan umat Islam. Jika momentum ini bisa dijaga, maka akan menjadi energi besar untuk mewujudkan kemenangan dan keadilan abadi bagi bangsa Palestina dan kembalinya Haram al-Sharif dalam penguasaan umat. (Antara/Republika/PH)