Perang Dagang AS-Cina dan Peluang Bagi Pengusaha Indonesia
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i70830-perang_dagang_as_cina_dan_peluang_bagi_pengusaha_indonesia
Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina bisa memangkas pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan, kata Dana moneter internasional atau IMF pada Rabu 5 Juni 2019.
(last modified 2026-02-01T17:53:24+00:00 )
Jun 07, 2019 11:43 Asia/Jakarta
  • Perang dagang AS-Cina
    Perang dagang AS-Cina

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina bisa memangkas pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan, kata Dana moneter internasional atau IMF pada Rabu 5 Juni 2019.

Direktur pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan, ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif impor barang-barang China dan tindakan balasan China akan menurunkan pendapatan kotor domestik atau GDP dengan setengah persen.

"Ini berarti kerugian sebesar 455 miliar dolar, lebih besar dari seluruh perekonomian negara Afrika Selatan," imbuhnya, sebagaimana pantauan Parstoday dari Liputan6, Jumat (07/06)

Lagarde mengemukakan hal itu dalam keterangannya pada kelompok-20 negara maju dan berkembang.

"Kerugian seperti ini harus dihindari, dengan mencabut semua hambatan perdagangan yang diumumkan belum lama ini, dan dengan mencegah munculnya hambatan-hambatan perdagangan baru dalam bentuk apapun," kata Lagarde lagi.

Peringatan itu dikeluarkan menjelang pertemuan para Menteri Keuangan G-20 dan para pejabat bank sentral di Jepang akhir pekan ini. Pertemuan diadakan setelah perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Cina ambruk karena janji-janji yang tidak terpenuhi dan adanya ancaman tarif baru.

Sri Mulyani, Menteri Ekonomi Indonesia

Bagaimana Peluang Indonesia?

Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina belum ada tanda-tanda usai. Imbas dari ketegangan antara dua negara adidaya bakal dialami Indonesia.

Kira-kira apa saja dampaknya ke Indonesia? Ketua umum kamar dagang dan industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menjelaskan dampak perang dagang AS-China ke Indonesia sebenarnya tidak terlalu besar, pasalnya Indonesia itu masih kecil sekali untuk bagian dari global value chain.

Dia mencontohkan, Indonesia memang berbeda dengan Vietnam, Malaysia dan Thailand yang memang sudah ketergantungan dengan kedua negara tersebut sehingga dampak akan terasa. "Tapi ada dampak juga ke Indonesia meskipun kecil, seperti ekspor kita ke AS itu besar, ini pengaruh," ujar Rosan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (06/06). Demikian dilaporkan Kompas, Jumat (07/06).

Tak hanya dampak negatif tetapi ada juga dampak positif yang akan didapatkan. Dia mengatakan sudah berbicara dengan teman-teman asosiasi tekstil, misalnya mereka menyatakan ekspor tahun ini malah naik 25% -30%, karena barang-barang China dikenai tarif sehingga jadi lebih kompetitif produk ekspor dari negara lain.

"Perusahaan ban juga menyatakan hal yang sama, ekspornya ke AS juga naik sekarang, jadi mereka malah bercanda kalau bisa sih perang dagang ini agak lama. Tapi kan tidak bisa begitu," kata Rosan.

Menurut Rosan pengusaha bisa memanfaatkan momentum perang dagang ini untuk berkompetisi menarik investasi agar masuk ke Indonesia, sehingga Indonesia bisa menjadi negara relokasi untuk produksi.

"Kebanyakan investasi selama ini kan masuknya ke Vietnam, Malaysia, Bangladesh dan Thailand, Indonesia masih kurang," jelas dia.

Menurut Rosan, saat ini sebetulnya pemerintah sudah mencoba untuk membuka pasar ekspor baru. Seperti Timur Tengah sampai Afrika dengan barang ekspor yang lebih banyak.