Menkes Indonesia: Ketekunan dan Kemandirian Modal Kemajuan Medis Iran !
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K) menilai kemajuan teknologi medis Iran cukup pesat, karena fokus menggarap isu paling maju di dunia kedokteran modern.
"…Saya melihat dalam kunjungan ini kemajuan Iran. Kelihatannya negara ini fokus pada kemajuan teknologi, termasuk di bidang kesehatan. Misalnya mereka sudah mengunakan robotic Surgery buatan mereka," ujar Menkes Nila (15/9/2019).
"Saya kagum melihat negara seperti ini bisa membuat teknologi yang luar biasa. Mampu memakai nano teknologi ini. Mereka juga sudah memiliki sistem institusi untuk penelitiannya. Semua inikan harus dimulai dari penelitian. Dan bagaimana dia mengumpulkan anak-anak muda. Kami sudah melihat apa saja yang mereka lakukan misalnya stem cell," tegasnya dalam wawancara Minggu malam di Wisma Duta RI.
Ahli mata Indonesia ini juga menilai kemajuan teknologi medis Iran karena ketekunannya meraih target besar untuk mandiri.
"Ketekunan mereka melakukan sesuatu yang ditargetkan untuk kemandirian, termasuk dalam membuat alat-alat pendukung untuk kedokteran ini. Itu benar-benar serius mereka tangani," papar Menkes Indonesia.
"Tampaknya mereka fokus untuk menunjukkan kepada dunia sesuatu yang besar yang lain dari yang lain atau kemajuan yang luar biasa. Tapi itu memerlukan perjuangan yang luar biasa. Barangkali ini yang bisa kita pelajari," tegasnya.
Dalam kunjungan ke Iran yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 15 September 2019 ini, Menkes RI bertemu dengan dengan Menteri Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran Saeed Namaki untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang kesehatan.
Selain itu, Nila Moelek bertemu dengan Wakil Presiden Iran Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Dr. Sorena Sattari untuk membicarakan kerja sama teknologi kesehatan kedua negara.
Menkes Nila juga bertemu dengan Wakil Presiden Iran Bidang Perempuan dan Keluarga, Dr. Ebtekar untuk membahas pentingnya kedua negara membangun kerja sama dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Di sela-sela kunjungannya yang padat dan singkat selama di Iran, Menkes Nila Moeloek menyempatkan untuk wawancara dengan wartawan media Iran, Parstoday Bahasa Indonesia.

Selengkapnya simak wawancara eksklusif berikut ini:
Parstoday: Terima kasih atas kesempatan yang ibu berikan kepada kami untuk wawancara kali ini. Selama kunjungan ke Iran dalam waktu yang singkat ini, apa yang paling menarik bagi ibu?
Menkes RI: Sebelum kunjungan ini, kita sudah didekati oleh pejabat Iran. Mereka menceritakan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk kesehatan. Saya ingat bertemu mereka waktu di Istanbul di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja sama Islam (OKI), dengan deputi kerja sama internasional kementerian kesehatan Iran.
Ketika itu beliau menceritakan apa saja di bidang kesehatan yang dikembangkan di Iran, dan menawarkan untuk melihat dari dekat apa saja yang mereka miliki. Selanjutnya, dari hasil pertemuan ini kita kembangkan menjadi nota kesepahaman yang dibahas dalam pertemuan di Astana, Kazakhstan. Kemudian dilanjutkan di Jenewa untuk menyepakati kembali masalah plan of actionnya. Apa saja yang akan dilakukan.
Parstoday: Jadi ini pertemuan di Iran kali ini sudah melalui berbagai proses sebelumnya ya bu ?
Menkes RI: Ya, dan waktunya memang tidak perlu lama karena kira sudah tahu apa yang harus dilakukan di sini.
Parstoday: apa kesan ibu dari kunjungan kali ini ?
Menkes RI: Saya sangat gembira. Saya melihat dalam kunjungan ini kemajuan Iran. Kelihatannya negara ini fokus pada kemajuan teknologi, termasuk di bidang kesehatan. Misalnya mereka sudah mengunakan robotic Surgery buatan mereka.
Saya kagum melihat negara seperti ini bisa membuat teknologi yang luar biasa. Mampu memakai nano teknologi ini. Mereka juga sudah memiliki sistem institusi untuk penelitiannya. Semua inikan harus dimulai dari penelitian. Dan bagaimana dia mengumpulkan anak-anak muda. Kami sudah melihat apa saja yang mereka lakukan misalnya stem cell. Selanjutnya kita tinggal melihat apa saja yang mereka lakukan.
Nah sesudah itu baru kita mikir mana yang bisa dikerjasamakan yang betul-betul terimplementasi. Misalnya, apakah kita langsung beli robotic Surgery, tentu tidak. Kita belum mengerti apakah tidak ditraining dulu.
Parstoday: apakah akan ada kerja sama di bidang ini ?
Menkes RI : iya ada.
Parstoday: bentuknya bagaimana bu, apakah dari Indonesia ke sini atau seperti apa ?
Menkes RI: Kita ke sini atau bisa saja mereka datang. Kita sudah memiliki laboratoriumnya. Mereka bisa mengajar. Detailnya tentu masih kita bahas nanti.
Parstoday: Saya ingin mengetahui kesepakatan apa saja yang dicapai dalam pertemuan ibu dengan pejabat tinggi Iran ?
Menkes RI: Ada 11 isi kesepakatan yang dicapai dengan Iran. Ini melanjutkan pertemuan sebelumnya di Astana yang diteruskan dengan pertemuan di Jenewa. Di astana ada tujuh kesepakatan dan kini menjadi sebelas.
Parstoday: Apa saja isinya bu ?
Menkes RI: banyak ya, seperti masalah penanganan penyakit menular dan tidak menular, teknologi nano, robotic surgery, dan lainnya.
Yang menarik dari kemajuan teknologi Iran mengenai stem cell dan teknologi nano teknologi dan robotic Surgery. Ini masa depan medis
Parstoday: Dari pihak Iran apa yang bisa dipelajari dari Indonesia dalam kerja sama ini ?
Menkes RI: Mereka bisa mempelajari manajemen penanganan medis bencana alam, karena kita memiliki pengalaman mengenai hal ini. Mereka ingin tahu bagaimana sistem penanganan medis kebencanaan di negara kita.
Parstoday: mengenai kerja sama farmasi dan obatan-obatan bagaimana bu ?
Menkes RI: kita dan mereka memiliki produk-produk farmasi yang sudah dibuat. Tapi ada juga yang belum bisa. Nah mereka sedang mengembangkan riset untuk obat-obat yang belum bisa diproduksi massal seperti obat kanker. Kita juga masih mengimpor sejumlah obat-obatan. Nah bisa tidak kita bermitra dalam masalah ini.
Parstoday: apakah akan mengarah pada joint research bu ?
Menkes RI: Iya saya kira bisa dan akan ditindaklanjuti.
Parstoday: Pertanyaan terakhir, apa pesan Iran untuk pendengar dan pembaca situs Parstoday Indonesia ?
Menkes RI: Ketekunan mereka melakukan sesuatu yang mereka targetkan untuk kemandirian, termasuk dalam membuat alat-alat pendukung untuk kedokteran ini. Itu benar-benar serius mereka tangani.
Mereka mengumpulkan para mahasiswa. Dari s1, s2, s3, mereka fokus. Mereka melakukan penelitian sampai menjadi barang tersebut. Itu yang saya lihat dari ketekunan mereka. Enggak gampang kan membuat barang sesuatu itu tidak mudah. Teknologi betul-betul mereka manfaatkan.
Tampaknya mereka fokus untuk menunjukkan kepada dunia sesuatu yang besar yang lain dari yang lain atau kemajuan yang luar biasa. tapi itu memerlukan perjuangan yang luar biasa. Barangkali ini yang bisa kita pelajari.
Parstoday: Terima kasih banyak ibu atas waktunya untuk wawancara.