Lawatan Gubernur Bank Sentral Iran ke Jerman
Gubernur bank Sentral Iran mengunjungi Jerman untuk bertemu dengan pejabat perbankan negara ini dan Uni Eropa.
Agenda pembicaraan antara Valiollah Seif dengan sejawatnya di Jerman dan Uni Eropa mengenai peningkatan kerja sama perbankan dan kemudahan transfer dari perbankan Iran ke Jerman.
Sebelumnya, gubernur bank sentral Iran mengunjungi Frankfurt untuk menghadiri seminar peluang investasi di Iran yang berlangsung November 2015 lalu. Dalam lawatan sebelumnya, Valiollah Seif juga bertemu dengan perwakilan perbankan dan lembaga finansial Jerman serta Wolfgang Schauble, menteri keuangan negara ini, untuk membahas normalisasi hubungan perbankan kedua negara.
Kesepakatan Iran dan kelompok 5+1 yang berbuah JCPOA menjadi sarana peningkatan kerja sama ekonomi antara Tehran dengan negara-negara Barat termasuk Jerman. Tapi setelah setahun berlalu dari kesepakatan tersebut tetap muncul hambatan yang menjegal hubungan ekonomi, terutama di bidang hubungan perbankan dan moneter. Masalah ini membutuhkan transparansi dari pihak AS dan Uni Eropa.
Saat ini bank-bank besar Eropa dan Asia bersikap hati-hati menyikapi implementasi JCPOA dan pencabutan sanksi yang dimulai sejak Januari lalu. Sebab, mereka khawatir dikenai denda dari aturan dalam negeri AS.
Sejak beberapa bulan lalu, Menteri Luar negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam statemennya yang disampaikan di Chatham House, London menegaskan bahwa pihak perbankan membutuhkan jaminan lebih transparan dari Washington bahwa AS tidak akan mengintervensi hubungan mereka dengan Iran.
Hingga kini, AS tidak mengizinkan seluruh transaksi perdagangan dengan Iran menggunakan mata uang dolar yang melalui negara ini. Kebijakan tersebut dilanjutkan melalui manuver Kongres AS yang membatasi interaksi Iran dengan negara-negara dunia.
Greg Rosenberg, juru bicara bank Swiss, UBS dalam wawancara dengan Al-Monitor menjelaskan, Kini tidak terjadi perubahan signifikan dalam kebijakan umum AS mengenai pembatasan terhadap hubungan perdagangan dengan Iran maupun aktivitas lain yang berkaitan dengan negara ini.
Sebelumnya, asosiasi Perbankan Inggris menyatakan bank-bank Inggris membutuhkan transparansi lebih besar dari pihak AS. Menurut Eric Schweitzer, kepala kamar dagang Jerman, kebanyakan bank-bank Eropa menghindari transaksi dengan Iran, karena takut disanksi oleh AS.
Schweitzer belum lama ini mengungkapkan bahwa perekonomian Jerman optimis memandang hubungan perdagangan dengan Iran, tapi harus juga didukung lancarnya transfer valuta asing.
Deutsche bank, Jerman juga menyatakan pihaknya terpaksa melanjutkan pembatasan dengan perbankan Iran. Padahal begitu banyak peluang besar bagi investasi di bidang industri dan hubungan perdagangan yang potensial di Iran. Selain itu, Iran memiliki sumber daya energi yang menjadi sarana bagi peningkatan hubungan negara ini dengan perekonomian global.
Sejatinya, Iran telah menjalankan seluruh komitmennya sesuai dengan kesepakatan JCPOA, sehingga kemajuan perekonomian negara ini bisa dirasakan secara signifikan pasca pencabutan sanksi.
Pada saat yang sama pihak AS melakukan pelanggaran dengan menjegal interaksi perbankan asing dengan Iran menggunakan dalih mengaitkan masalah yang tidak ada hubungannya dengan JCPOA.
Kunjungan gubernur bank sentral Iran ke Jerman membawa agenda besar untuk mendorong penyelesaian masalah tersebut. (PH)