Ketika Farideh Mostafavi, Putri Kedua Imam Khomeini Bercerita Tentang Ayahnya (8)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i17527-ketika_farideh_mostafavi_putri_kedua_imam_khomeini_bercerita_tentang_ayahnya_(8)
Bagaimana perilaku dan hubungan Imam Khomeini dengan almarhum Haj Ahmad Agha?
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 13, 2016 07:27 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Bagaimana perilaku dan hubungan Imam Khomeini dengan almarhum Haj Ahmad Agha?

Sejak Haj Ahmad Agha masih usia kanak-kanak, Imam Khomeini sudah teliti tentang pendidikan dan sekolahnya dan tahu siapa saja kumpulannya dan dengan siapa dia berteman. Dia adalah anak yang baik, baik ketika masih kanak-kanak, remaja dan masa mudanya, dia tidak pernah kena marah Imam Khomeini.

 

Ketika Imam Khomeini diasingkan ke Turki, Agha Ahmad masih sekolah di SMU. Ia berhasil menyelesaikan SMU-nya ketika Imam Khomeini masih di Turki dan dia di rumah sendirian sebagai anak lelaki. Kami sebagai saudara-saudara perempuannya sibuk dengan dunia kami, dan dialah satu-satunya yang menjadi pelipur lara ibu kami. Setelah Imam Khomeini pindah ke Najaf, SAVAK melarang Agha Ahmad untuk pergi ke Irak. Kondisi seperti ini berlangsung kira-kira sampai dua tahun, sampai ketika dia pergi ke Irak secara ilegal. Di Najaf, baru tahu kalau Imam Khomeini ingin dia menjadi seorang rohaniwan. Tentunya Imam Khomeini tidak melakukan pemaksaan sama sekali dalam hal ini dan berharap Agha Ahmad secara suka rela melangkah di jalan ini. Pada akhirnya ia memilih sebagai seorang rohaniwan dan Imam Khomeini sendiri yang memasang surbannya.

 

Agha Ahmad benar-benar mengabdikan dirinya untuk Imam Khomeini. Dia benar-benar mencintai dan menyayangi Imam Khomeini, sehingga saking baiknya dia, Imam Khomeini kepada Hasan anak sulungnya mengatakan:

 

“Hasan! Engkau harus belajar kepada Ayahmu, bagaimana memperlakukan seorang ayah!”

 

Beginilah sanjungan untuk perilaku Agha Ahmad. Kami menyaksikan perilaku Agha Ahmad di rumah sedemikian rupa, dimana seluruh wujud dan kehidupannya diwaqafkan untuk Imam Khomeini. Meskipun dia sendiri punya istri dengan tiga orang anak, namun mereka semua berada di bawah pengaruh kehidupan Imam Khomeini.

 

Aktivitas politiknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan sangat jarang orang mengetahuinya seluk beluknya. Dia bersama teman-temannya menyewa sebuah rumah dan membawa data-data pidato Imam Khomeini ke sana untuk dicetak lebih banyak. Kemudian menyiapkan secepatnya untuk dibagikan ke kota-kota Iran di kalangan masyarakat dan para pendukung Imam Khomeini.

 

Sekali waktu Agha Ahmad bersama istri dan anaknya Hasan ketika masih kecil sekali, pergi ke Irak secara legal dengan memaki paspor dan setelah beberapa lama kembali lagi ke Iran. Kemudian ke Irak lagi pada tahun 1356 HS. Rencananya mau tinggal selama enam bulan, dan kembali lagi ke Iran. Namun ada masalah di paspornya dan diminta untuk bersabar menunggu sampai dua bulan lagi. Pada bulan Aban 1356 HS, Agha Mostafa mencapai syahadah dan pada saat itulah tanggung jawab berat jatuh di pundak Agha Ahmad. Ia terpaksa harus tinggal di Najaf supaya Imam Khomeini tidak sendirian. Terkadang Imam Khomeini kepadanya berkata:

 

“Bila engkau ingin kembali ke Iran, kembalilah! Jangan sampai merepotkan dirimu karena aku!”

 

Namun Agha Ahmad menjawab, “Tidak. Ini adalah kewajiban saya untuk mengabdi kepada Anda. Bila Anda mau, izinkanlah saya dan Fathi tinggal bersama Anda sampai akhir hayat.”

 

Setelah itu Agha Ahmad menyewa rumah di dekat rumah Imam Khomeini. Imam juga menginginkan agar dia memiliki rumah secara terpisah agar hidup nyaman. Perjalanan hidup ini berlanjut sampai ketika masalah kepergian Imam Khomeini ke Kuwait. Ketika Imam Khomeini tidak diperbolehkan ke Kuwait dan akhirnya pergi ke Paris, Agha Ahmad juga ikut mengiringi beliau. Kondisi saat itu benar-benar sensitif. Banyak orang dan tokoh-tokoh dari berbagai penjuru dunia ingin ke Paris untuk menemui Imam Khomeini. Ada juga sejumlah orang di sekeliling Imam Khomeini dan Agha Ahmad yang mengoordinasi semua urusan yang ada. Dialah yang menanggung risalah besar ini di masa-masa sensitif dengan penuh kejelian dan ketelitian.

 

Ketika Imam Khomeini berada di Najaf, beliau tidak ingin memiliki tape radio. Akhirnya beberapa orang santri merekam berita-berita yang disampaikan dari radio dan setiap sore menyerahkannya kepada Imam Khomeini. Imam Khomeini pun mendengarkan berita-berita dari radio yang sudah direkam. Misalnya radio BBC berbicara apa tentang Revolusi Islam Iran, misalnya di Tehran apa yang sedang terjadi dan apa kabarnya di kota-kota Iran. Tentunya ketika di Najaf, telepon senantiasa berdering. Di ruangan Imam Khomeini sendiri tidak ada telepon. Hanya ada satu telepon di bagian ruangan depan. Dengan demikian, Agha Ahmad senantiasa dipanggil berkali-kali; “Haj Agha Ahmad! Ada telepon dari Amerika, ada telepon dari Jerman, ada telepon dari London, ada telepon dari Paris, ada telepon dari Tehran...” Agha Ahmad pun terpaksa harus naik turun dari tangga sebanyak 15 sampai 20 anak tangga untuk menerima telepon di tingkat tiga rumah yang ada dan menyampaikan kabarnya kepada Imam Khomeini. Kesimpulannya, rumah Imam Khomeini mulai dari awal malam berubah menjadi markas politik dan kebanyakam kabar yang disampaikan kepada Imam Khomeini berkaitan dengan perkumpulan dan kelompok-kelompok tertentu, kecuali kabar yang tidak begitu penting. Wejangan dan pesan-pesan Imam Khomeini juga disampaikan kepada umat Islam dan para pejuang Iran melalui cara ini. Tugas berat ini menjadi tanggung jawab Agha Ahmad. Saya berpikir bahwa seandainya tidak ada Agha Ahmad, maka urusan ini tidak berkembang selaju ini dan revolusi tidak akan menemui kemenangan.

 

Beberapa tahun selanjutnya Agha Ahmad menceritakan kepada kami, “Begitu sering terjadi ada telepon di pertengahan malam, misalnya jam dua malam telepon berdering dan saya terpaksa harus bangun dan menerima telepon misalnya sejumlah orang anggota Munafikin telah melakukan kerusuhan di Isfahan dan atau terjadi banjir di provinsi Yazd. Ketika kami kembali ke Iran dan Revolusi Islam Iran mencapai kemenangan, masalah-masalah seperti ini masih ada saja. Misalnya lewat jam tiga malam saya dibangunkan katanya ada telepon. Saya pun mengangkat gagang telepon dan saya mendengar bahwa salah satu rumah yang dipakai kelompok Munafikin ketahuan dan senjata dan bom dalam jumlah besar telah disita dari mereka.”

 

Satu lagi masalah yang membuat pikiran Agha Ahmad berputar adalah kesehatan Imam Khomeini dan harus adanya kejelian dan ketelitian dalam merawat beliau. Imam Khomeini sampai dua kali telah mengalami gangguan jantung. Agha Ahmad segera bertindak dan memanggil tim dokter untuk memeriksa kesehatan Imam Khomeini.

 

Keberadaan Agha Ahmad sangat penting bagi Imam Khomeini. Misalnya, bila Agha Ahmad pergi ke kota untuk beberapa jam, mungkin sampai sepuluh atau lima belas kali menanyakannya:

 

“Ahmad di mana? Ahmad di mana? Kapan dia datang? Ke manakah dia pergi?”

 

Kami menjawab, “Dia pergi ke kota.” Langsung Imam Khomeini berkata:

 

“Teleponlah. Ada di manakah dia? Kapan dia akan datang?”

 

Kondisi semacam ini membuat Agha Ahmad tidak pernah pergi ke mana-mana ketika Imam Khomeini masih hidup. Kalaupun dia pergi ke kota Qom. Berkali-kali menelpon dan menanyakan keadaan Imam Khomeini. Terkadang begitu memikirkan Imam Khomeini sehingga membatalkan kepergiannya yang sudah setengah jalan dan di pertengahan jalan kembali pulang lalu mendampingi Imam Khomeini.

 

Setelah Imam Khomeini kembali ke Iran dan menuju Qom dan di sana beliau mengalami serangan jantung, beliau dibawa kembali ke Tehran dan opname di rumah sakit jantung. Setelah kejadian itu, Agha Ahmad merawat dan mendampingi Imam Khomeini secara penuh. Tentunya Imam Khomeini menolak program-program yang sifatnya protokoler. Namun tidak ada jalan lain. Tim kedokteran dan para ahli jantung senantiasa mengawasi beliau dan mengontrol kondisi jasmaninya.

 

Pada masa perang yang dipaksakan oleh rezim Irak Saddam Hossein, ketika Tehran dan kota-kota lainnya di hujani bom dan rudal, berkali-kali diusulkan agar dibangun sebuah tempat perlindungan untuk Imam Khomeini. Namun beliau menolak. Suatu malam Agha Ahmad datang dan berkata, “Radio Perancis mengumumkan bahwa Jamaran malam ini akan dihujani bom.”

 

Imam berkata:

 

“Katakanlah, omong kosong!”

 

Kali berikutnya Agha Ahmad datang dan berkata, “Radio London juga menguatkan masalah ini.” Imam Khomeini berkata:

 

“Omong kosong.”

 

Kali yang ketiga, Agha Ahmad datang menemui Imam Khomeini dan berkata, “Radio-radio telah mengumumkan bahwa Jamaran malam ini akan dihujani bom.” Di dekat-dekat sini ada tempat perlindungan. Sebaiknya Anda pergi ke sana malam ini saja.”

 

Imam Khomeini berkata:

 

“Saya tidak akan bergerak dari tempatku, mereka semua ini omong kosong.”

 

Kali yang terakhir masalah ini dinukil dari radio Israel. Namun kali ini Imam Khomeini juga berkata:

 

“Saya tidak akan bangkit dari tempatku. Semua radio omong kosong!”

 

Bagaimanapun juga malam itu Imam Khomeini tidak bangkit dari tempatnya dan syukurlah tidak terjadi apa-apa. Suatu hari para dokter membahas tentang kondisi jasmani Imam Khomeini. Pak dokter Arefi berkata, “Tidak ada masalah penting dan sakit yang ada akan segera sembuh.”

 

Pada saat itu Imam Khomeini berkata:

 

“Jangan terlalu memikirkan saya. Pergilah dan pikirkanlah kondisi masyarakat apa yang sedang menimpa mereka.”

 

Maksudnya adalah Imam Khomeini sama sekali tidak pernah mengkhawatirkan dirinya sendiri. Sebagaimana setelah beliau pulang dari rumah sakit. Diputuskan agar dibangun sebuah rumah sakit di dekat rumah Imam Khomeini dan pada saat yang sama agar bermanfaat untuk para penduduk sekitar. Namun Imam Khomeini tidak diberi tahu. Kalaupun beliau bertanya, mereka menjawab, “Para tetangga sedang membangun sebuah bangunan.”

 

Sampai ketika bulan Farvardin 1365 HS, Imam Khomeini kembali mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit ini. Di sana Imam Khomeini bertanya:

 

“Ini di mana?”

 

Dikatakan kepada beliau, “Di sini adalah sebuah rumah sakit yang dibangun di belakang rumah tempat tinggal Anda dan segalanya lengkap.”

 

Imam Khomeini tahu bahwa dengan semangat Haj Agha Ahmad, telah dilakukan pekerjaan yang besar dan penting. Alasan yang disampaikan oleh Agha Ahmad terkait pembangunan rumah sakit ini adalah “Bila suatu waktu Imam mengalami serangan jantung lagi, kemungkinan terjadi apa-apa di tengah jalan saat dibawa ke rumah sakit Rajai. Itulah mengapa kami memutuskan untuk membangun rumah sakit yang lengkap di dekat rumah Imam Khomeini yang juga bisa digunakan oleh orang lain.” (Emi Nur Hayati) 

 

Dikutip dari penuturan Farideh Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

 

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.