Wapres Iran: Penyelesaian Masalah Regional Tidak Memerlukan Intervensi Asing
https://parstoday.ir/id/news/iran-i175748-wapres_iran_penyelesaian_masalah_regional_tidak_memerlukan_intervensi_asing
Wakil Presiden Republik Islam Iran pada Jumat pagi waktu setempat di Rusia mengatakan bahwa strategi Republik Islam adalah tidak adanya campur tangan negara dan kekuatan asing, khususnya dalam geopolitik kawasan.
(last modified 2025-08-15T21:16:42+00:00 )
Aug 16, 2025 04:11 Asia/Jakarta
  • Wapres Iran: Penyelesaian Masalah Regional Tidak Memerlukan Intervensi Asing

Wakil Presiden Republik Islam Iran pada Jumat pagi waktu setempat di Rusia mengatakan bahwa strategi Republik Islam adalah tidak adanya campur tangan negara dan kekuatan asing, khususnya dalam geopolitik kawasan.

Tehran, Pars Today-Wapres Iran, Mohammad Reza Aref, dalam pertemuannya dengan Mikhail Mishustin, Perdana Menteri Rusia, yang berlangsung di sela-sela pertemuan para perdana menteri negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia, menekankan pentingnya peningkatan hubungan kedua negara dalam berbagai isu kawasan.

Wakil Presiden Iran menegaskan bahwa Republik Islam siap sepenuhnya untuk meningkatkan kerja sama bilateral, multilateral, dan regional dengan Rusia. Ia menyinggung pembicaraan nuklir Iran dan mengatakan bahwa Teheran selalu berupaya melakukan negosiasi dan membangun kepercayaan terkait aktivitas nuklir damainya, namun negara-negara Barat sejak awal telah menjadikan isu nuklir Iran sebagai proyek politik.

Aref juga menyinggung perkembangan di Kaukasus dan menegaskan bahwa Iran menyambut setiap bentuk kesepahaman dan kerja sama untuk meredakan ketegangan serta menjalin hubungan persahabatan dan keakraban di antara negara-negara kawasan dan tetangga. Ia menambahkan, strategi Iran adalah menolak campur tangan negara dan kekuatan asing, khususnya dalam geopolitik kawasan, karena masalah kawasan tidak memerlukan kehadiran kekuatan asing. Semua negara di wilayah Kaukasus dan Asia Tengah dapat hidup berdampingan dalam perdamaian, stabilitas, dan keamanan.

Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah berniat menggunakan teknologi, khususnya teknologi nuklir, untuk tujuan non-damai. Ia menyebut bahwa rezim Zionis, bekerja sama dengan Amerika Serikat, menyerang Iran di tengah pembicaraan tidak langsung, tanpa alasan logis atau dapat diterima, padahal menurut klaim Amerika, proses negosiasi sedang menuju tahap pembangunan kepercayaan.

Wakil Presiden Pertama Iran mengecam kejahatan rezim palsu Zionis di Gaza, menegaskan bahwa rezim ini terus memperlihatkan perilaku tidak manusiawi dan zalimnya kepada dunia, berupaya mempertahankan agresinya di Gaza, dan merampas hak hidup penduduknya. Ia menekankan perlunya peningkatan kerja sama untuk mencegah kejahatan tersebut.

Aref juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran, seperti halnya Rusia, menentang unilateralisme Amerika di dunia. Ia mengatakan bahwa strategi multilateral, keamanan, dan stabilitas kawasan harus dijalankan dengan bantuan negara-negara kawasan, dan penyelesaian masalah kawasan tidak memerlukan campur tangan negara-negara luar karena negara-negara tersebut mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Aref menambahkan bahwa Iran percaya pada pengembangan dan pendalaman kerja sama yang serius dan berkelanjutan di semua bidang dengan negara sahabat dan saudara, Rusia. Ia menyatakan bahwa potensi kerja sama Teheran–Moskow lebih besar daripada yang ada saat ini, dan hubungan harus dikembangkan dalam kerangka program komprehensif strategis, khususnya di bidang energi, pariwisata, transportasi, kereta api, dan koridor-koridor perdagangan.

Mikhail Mishustin, Perdana Menteri Rusia, dalam pertemuan tersebut menegaskan bahwa kerja sama perdagangan dan ekonomi Teheran dan Moskow telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyatakan bahwa pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas antara Iran dan Uni Eurasia akan berdampak pada peningkatan volume hubungan Teheran dengan negara-negara kawasan di berbagai bidang. Dalam konteks ini, ia menilai pembangunan Koridor Utara–Selatan memiliki arti penting dalam memperdalam hubungan tersebut.

Mishustin juga, dengan menyinggung perkembangan di kawasan Kaukasus, menegaskan bahwa semua negara kawasan harus menjalin hubungan berdasarkan prinsip bertetangga yang baik, dan bahwa masa depan kawasan dapat dibangun bersama dengan kerja sama semua pihak.(PH)