Syuhada Agresi Rezim Zionis terhadap Iran
Kesyahidan Pemuda Tehran Berusia 19 Tahun pada Malam Idul Ghadir
Dua bulan telah berlalu sejak pesawat tak berawak Zionis jatuh dan meledak di sebuah gang di lingkungan Jalili, Teheran, menewaskan seorang pemuda, melukai lima anggota keluarga, dan menghancurkan rumah seorang penduduk.
Pagi hari Sabtu, 14 Juni, tak akan pernah terhapus dari ingatan warga di lingkungan Jalili, Distrik 17, Teheran. Hari ketika pesawat tanpa awak rezim Israel memasuki salah satu rumah di gang sempit milik Shahid Mohammad Salimi di Jalan Shahid Sohrab Borzo dan, setelah meledak, menyebabkan gugurnya "Morteza Abbasi", melukai "Hosam Esmailzadeh" dan 4 anggota keluarganya, serta kebakaran dan penghancuran rumah "Mohsen Biparva".
Menurut Pars Today, mengutip Hamshahri Online, ayah Shahid Abbasi menceritakan bagaimana putranya gugur sebagai syahid: "Sabtu, 14 Juni, bertepatan dengan Idul Ghadir, dan malam sebelumnya, putra saya sibuk memasang spanduk dan plakat di lingkungan sekitar karena aktivitasnya di markas Basij Shahid Muharram Ali Moghadam dan Asosiasi Pecinta Velayat.
Pekerjaan mereka berlangsung hingga tengah malam dan ia pulang bersama salah satu temannya, tetapi sebelum memasuki rumah, sebuah drone menghantam rumah tetangga dan pecahannya mengenai kepala dan dahi Morteza."
Jalal Abbasi, yang menyatakan bahwa putranya berusia 19 tahun, melanjutkan: “Malam itu kami membawa jenazah Morteza ke Rumah Sakit Sinai untuk operasi kepala, dan mereka mengatakan bahwa putra saya mungkin kehilangan penglihatannya atau kehilangan kesadaran. Bagaimanapun, putra saya menjalani operasi, tetapi tidak berhasil dan ia gugur syahid 3 hari kemudian.”
Abbasi berkata: “Rezim Zionis mengklaim bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil selama perang 12 hari, padahal tidak ada pangkalan militer di gang kami dan tidak ada pejabat militer yang tinggal di sini.”
Seorang anak yang menjadi pemilik rumah
Akibat benturan dan ledakan drone, 5 anggota keluarga yang tinggal di Shahid Mohammad Salimi terluka dan kini berjuang menghadapi banyak masalah. Hossam Esmailzadeh bercerita tentang bagaimana ia dan keluarganya terluka,"Malam itu, ibu, ibu mertua, dan saudara ipar saya sedang berada di rumah kami. Ketika saya dan istri hendak berpamitan dengan mereka di gang, sebuah drone menghantam rumah di seberang kami dan akibat ledakan itu, pecahannya mengenai kami berlima."
Ia menambahkan,“Saya mengalami cedera di beberapa bagian, termasuk bagian belakang lutut kiri, betis kiri, tangan kiri, dan paha kanan. Sisi istri dan ibu mertua saya cedera, dan saudara ipar saya mengalami cedera serius dari lutut kaki kanannya hingga telapak kakinya. Sebagian wajah ibu saya juga cedera, dan mata kirinya rusak.”
Ia menyatakan bahwa ibu dan ibu mertuanya sedang dalam pemulihan, Esmailzadeh berkata,“Kondisi fisik saudara ipar saya, yang berusia kurang dari 10 tahun, juga tidak memuaskan. Cederanya sangat parah sehingga ia tidak dapat menggerakkan kaki kanannya dari lutut ke bawah, dan semua harapan kami tertuju pada fisioterapi. Ia terkurung di rumah pada usia semuda ini dan bahkan tidak dapat berjalan beberapa langkah.”
Ia menjelaskan,“Selama masa ini, saya juga menjalani beberapa operasi, tetapi masih terdapat serpihan dan benda asing di beberapa bagian tubuh saya, seperti bagian belakang lutut kiri, telapak kaki kanan, dan permukaan tangan kanan saya. Mobil saudara laki-laki saya juga rusak parah.”
Mengacu pada klaim palsu rezim Zionis, Esmailzadeh mengatakan,“Banyak orang seperti saya dan keluarga saya terluka dalam perang ini, dan sayangnya, sejumlah orang tak berdosa juga gugur. Sudah cukup jika masalah yang menimpa keluarga-keluarga ini dilaporkan di media agar dunia tahu apa yang telah dilakukan rezim jahat ini terhadap warga sipil.”
Kami berterima kasih kepada pemerintah kota
Masuknya drone ke rumah tinggal Mohsen Biparva dan ledakannya menyebabkan kerusakan sebagian besar rumahnya dan terbakarnya semua harta bendanya.
Ia berkata,"Sekitar pukul 12.30 dini hari, saya sedang berada di rumah bersama istri dan dua putri saya, yang berusia 25 dan 11 tahun, ketika sebuah drone memasuki ruang tamu melalui jendela rumah, menghantam dinding, dan kemudian meledak. Kami tidak terluka dalam insiden ini, tetapi gelombang ledakan dan pecahannya menyebabkan seorang pemuda gugur, beberapa orang terluka, dan kerusakan pada 7 mobil dan beberapa rumah di lingkungan kami."
Biparva, yang menyatakan bahwa dampak dan ledakan drone tersebut menyebabkan barang-barangnya terbakar dan hancurnya banyak bagian rumahnya, sehingga tidak memungkinkan untuk ditinggali. Ia berkata, "Setelah kejadian ini, kami benar-benar mengungsi karena pada hari-hari pertama, tidak jelas lembaga mana yang dapat membantu orang-orang seperti kami. Oleh karena itu, kami tinggal di rumah saudara laki-laki dan kenalan saya selama beberapa hari, dan kami pergi ke rumah saudara perempuan saya di Shahriar untuk sementara waktu, hingga kami menetap di sebuah hotel apartemen atas nama pemerintah kota. Pemerintah kota juga telah memulai renovasi rumah dan saat ini sedang dalam tahap akhir."
Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pejabat Pemerintah Kota Distrik 17 atas renovasi rumahnya, dengan mengatakan bahwa ia telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk membeli perabotan untuk rumahnya, tetapi rezim Zionis telah menyebabkan banyak masalah bagi ia dan keluarganya dengan membakarnya.