Kegagalan Strategi Unjuk Kekuatan Israel di Hadapan Respons Presisi Iran
-
Tembakan rudal Iran
Pars Today - Perang 12 Hari, meski dimulai dengan ilusi unjuk kekuatan oleh rezim Zionis, tapi Iran melalui serangkaian respons presisi dan berjenjang berhasil mengambil inisiatif di medan pertempuran dan menunjukkan bahwa setiap serangan dapat membawa biaya yang jauh lebih berat dan tak terduga bagi pihak Zionis.
Menurut laporan FNA, dalam perang 12 hari yang dimulai dengan ilusi unjuk kekuatan dari pihak rezim Zionis, Iran dengan serangkaian respons presisi dan meningkat berhasil mengambil inisiatif di medan perang. Berbagai respons itu bukan hanya berhasil menetralisir tindakan agresi Israel, tetapi juga menunjukkan bahwa setiap serangan dapat berujung pada biaya berat dan tidak dapat diprediksi bagi Israel.
Sejak detik pertama, respons Iran membuat jalur perang berubah dari “serangan untuk menekan” menjadi “konfrontasi dengan biaya nyata”.
Kisah 12 Hari Tembakan dan Tangkisan
Rezim Zionis pada jam-jam pertama dari perang 12 hari memasuki medan perang dengan ilusi bahwa mereka mampu menciptakan keunggulan psikologis dan operasional melalui rangkaian serangan kilat di wilayah Iran. Para analis Israel pada hari-hari awal berasumsi bahwa Iran, berdasarkan pertimbangan regional, akan merespons dalam kerangka pencegahan konvensional.
Namun, hanya beberapa jam berselang, menjadi jelas bahwa aturan main kini telah berubah.
Salah satu serangan Israel adalah serangan terhadap Markas Komando Polisi pada hari ketiga perang, tindakan yang dimaksudkan untuk merusak otoritas pengendalian keamanan internal Iran.
Namun, respons angkatan bersenjata Iran dilakukan secara presisi dan langsung dengan menargetkan markas Mossad dan Aman. Para pejuang Angkatan Dirgantara IRGC, melalui sebuah operasi berpengaruh, meskipun adanya sistem pertahanan udara sangat canggih, berhasil menyerang pusat intelijen militer Angkatan Bersenjata Rezim Zionis yang dikenal sebagai Aman, serta pusat perencanaan operasi teror dan pelaku kejahatan rezim Zionis (Mossad) di Tel Aviv. Padahal sebelumnya dikatakan bahwa lokasi-lokasi ini berada di tempat-tempat yang tidak diketahui di Wilayah Pendudukan.
Dalam kelanjutan perang, musuh menargetkan pangkalan-pangkalan ekonomi dan infrastruktur, dan melakukan serangan terhadap depot bahan bakar di kawasan Shahran.
Namun sekali lagi, respons Iran hadir secara proporsional tetapi lebih keras. Kali ini kilang Haifa, yang berada di jantung struktur energi rezim Zionis, menjadi sasaran serangan. Tingkat konfrontasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya bagi Israel. Mereka memang mengantisipasi adanya respons, tapi tidak respons yang mengguncang pilar ekonomi mereka.
Selanjutnya, Israel menargetkan Bandar Udara Syahid Madani di Tabriz dalam upaya mengganggu kemampuan logistik Iran.
Iran, sebagai balasan, menargetkan Bandar Udara Ben Gurion. Sebuah respons dengan pesan jelas bahwa jika ancaman melampaui tingkat operasional, maka respons Iran akan melampaui tingkat strategis. Pesan ini dianalisis secara serius di ibu kota-ibu kota kawasan, bahkan di Washington.
Serangan Balasan dengan Kekuatan Berlipat
Sepanjang 12 hari itu, satu kenyataan tampak lebih jelas dari apa pun. Setiap kali rezim Zionis melakukan serangan, serangan balasan Iran bukan hanya lebih keras, tetapi juga lebih terarah. Inilah perbedaan antara tindakan serampangan dan tindakan yang diperhitungkan. Keseimbangan kekuatan tidak ditentukan oleh volume tembakan semata, melainkan oleh kualitas dan ketepatannya.
Di dalam negeri, sebuah pemandangan lain terbentuk. Persatuan sosial dan dukungan yang terbangun di sekitar angkatan bersenjata, sebagaimana disebut sebagian pakar, menjadi bagian penting dari kekuatan keras. Solidaritas spontan ini merupakan respons alami terhadap agresi asing yang dipandang masyarakat sebagai ancaman terhadap martabat nasional dan keamanan kehidupan sehari-hari mereka.
Kali Ini Berbeda…
Kini, setelah berakhirnya Perang 12 Hari, para analis keamanan telah mencapai satu kesimpulan bersama bahwa “kali ini situasinya berubah secara mendasar”. Mereka memperingatkan bahwa jika rezim Zionis kembali melakukan kesalahan perhitungan, maka respons Iran tidak akan selalu bersifat simetris atau terbatas.
Israel dalam perang terakhir memahami bahwa mereka kehilangan inisiatif, dan setiap serangan baru dapat memicu rangkaian respons yang tidak mungkin mereka kendalikan.
Perang 12 Hari menandai dimulainya sebuah fase baru dari pencegahan nyata, sebuah fase yang menunjukkan bahwa agresi memiliki biaya langsung, segera, dan meningkat.
Keberlanjutan situasi ini bergantung pada keputusan pihak Zionis, tapi setiap kali mereka melakukan kesalahan, perhitungan ini akan terulang dengan cara yang lebih menghentak.(sl)