Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (5)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i24739-penuturan_doktor_fahimeh_mostafavi_tentang_ayahnya_imam_khomeini_ra_(5)
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 02, 2016 10:00 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!

Jadwal sehari-hari Imam Khomeini sangat teratur. Setiap hari pukul 7.00 pagi beliau pergi ke kantor kerjanya. Tentunya, terkadang para dokter datang untuk memeriksanya. Tapi biasanya Agha Rasouli atau Agha Tavassoli dan Agha Ansari di kantor yang mengatur jadwal pertemuan-pertemuan khusus beliau. Pertemuan-pertemuan ini terkadang untuk acara nikah, terkadang urusan negara dan terkadang [pertemuan] bersama bapak-bapak atau ibu-ibu yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Sekitar pukul 9.00 pagi, beliau keluar dari ruang kerjanya untuk menjalankan jadwal rutin harian jalan kakinya. Kemudian kembali lagi ke ruangannya untuk menelaah buletin berita dan laporan yang sudah distempel yang dikirim dari seluruh penjuru negeri. Telaah ini berlangsung sampai pukul 9.45 menit. Pada saat itu beliau disuguhi  buah yang sesuai dengan musimnya, jeruk, murbei atau salad supaya Imam Khomeini memakannya.

Pukul 10.10 pagi beliau pulang untuk istirahat dan berlangsung sampai pukul 11.00 atau 11.30 menit. Kemudian beliau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan salat. Yakni berwudhu, membaca al-Quran, mengerjakan salat wajib dan salat sunnah. Sampai pukul 13.05 menit dan waktunya makan, Imam Khomeini menggunakan waktunya selama 10 menit untuk berbicara dengan anak-anaknya yang datang mengunjunginya atau melanjutkan telaahnya di pagi hari.

Pukul 13.05 menit beliau mendatangi ibu untuk makan siang dan biasanya menunya adalah Ab Gusht Limu [Kuah daging kambing asam]. Ab Gusht Limu adalah menu kesukaan Imam Khomeini. Meskipun terkadang beliau juga makan nasi dan lauk sesuai dengan kondisi yang ada. Tapi kesukaan pribadi beliau adalah Ab Gusht Limu. Itulah mengapa, makanan beliau biasanya berbeda dengan makanan yang lainnya. Ketika makan, semuanya harus teratur dan tetap. Mangkok dan piring alasnya mangkok serta sendoknya, khusus untuk beliau. Ketika makan, biasanya beliau memakai celemek panjang. Celemek itupun dilapisi plastik tipis.

Setelah makan, beliau berbincang-bincang beberapa menit dengan putri-putrinya atau cucu-cucunya yang berada di sisi beliau. Tentunya selama ini sambil mendengarkan radio. Sebelum pukul 14.00 beliau masuk ke kamarnya dan mendengarkan berita jam 2 dari radio di sana. Setelah mendengarkan berita dari radio, beliau menggunakan waktunya untuk menelaah laporan-laporan berita. Sampai pukul 4.00 sore beliau istirahat.

Pukul 4.00 sore beliau minum teh dan berjalan kaki selama setengah jam. Saat jalan kaki, bila radio tidak menyiarkan berita penting, maka beliau sambil berzikir. Pada saat itu, terkadang cucu-cucunya mengelilingi beliau; menarik tangannya atau membelokkan jalannya. Selama itu Imam Khomeini tidak memprotesnya sama sekali. Kecuali bila ingin mendengarkan masalah penting dari radio. Bila demikian, maka tidak boleh seorangpun mengganggunya. Pukul 16.30 kembali beliau minum teh.

Jadwal setelah pukul 16.30 tergantung pada panjang atau pendeknya hari. Di hari-hari yang panjang musim panas, setelah jalan kaki setengah jam di sore hari, beliau kembali menelaah berita koran-koran pagi dan sore. Beliau memperhatikan dengan seksama artikel dan ceramah yang diinginkan. Beliau rajin menelaah sendiri. Terkadang bila beliau lelah dan kami juga di sana, beliau minta supaya kami yang membacakan topik-topik yang ada di koran supaya kami tidak menganggur. Di hari-hari yang pendek musim dingin, jadwal menelaah dilakukan setelah jalan kaki dan jadwal minum teh dibatalkan, kemudian beliau membaca al-Quran. Kemudian beliau berwudhu dan kembali membaca al-Quran. Kemudian siap-siap mengerjakan salat sunnah. Seringnya beliau mengerjakan salat langsung di bawah langit di halaman. Kecuali bila suhunya benar-benar dingin dan ada kemungkinan terjangkit flu. Setelah salat, beliau kembali menelaah. Beliau membaca buku-buku cetakan baru dengan detil. Di samping itu juga menelaah semua koran dan majalah. Sejak acara televisi dimulai pada sore hari, beliau tidak mendengarkan radio di sore hari dan hanya nonton televisi. Baik itu chanel satu maupun chanel dua. Kemudian beliau mengerjakan salat dan kembali menelaah. Sekitar selama seperempat jam atau dua puluh menit beliau mendengarkan radio asing. Pada pukul 19.00 beliau mendengarkan berita dengan detil. Sehingga cukup hanya menjawab salam kami atau menanyakan kabar kami hanya dengan isyarat mata. Maknanya adalah kami harus diam atau jangan berbicara satu sama lainnya. Karena beliau pasti tidak suka, meski tidak menyampaikannya dengan kata-kata.

Setelah berita dan laporan berita, bila ada wawancara atau pidato, beliau pasti mendengarkannya. Banyak acara-acara di radio yang beliau sukai. Tapi beliau tidak suka acara keluarga. Suatu hari ketika saya ada di sisi Imam Khomeini, acara keluarga sedang ditayangkan. Beliau langsung bangkit dan mematikan televisi. Ketika saya menanyakan alasannya, beliau berkata:

“Acaranya sama sekali tidak bagus.” 

Saya berkata, “Mengapa?”. Beliau menjawab:

“Sangat dibuat-buat. Sama sekali tidak bagus.”

Setelah mendengarkan berita dan laporan berita, beliau berolahraga selama seperempat jam. Untuk hal ini beliau berbaring di lantai dan meletakkan kain selimut di bawah kepalanya. Kemudian melakukan gerakan pemanasan berdasarkan perintah dokter. Dengan cara meluruskan kakinya ke atas dan menekuknya dari lutut kemudian meluruskannya lagi sambil menghitung gerakannya.

Dari pukul 9.00 malam beliau siap untuk makan malam. Tentunya sambil menunggu makan malam siap, beliau menonton televisi. Setelah selesai makan malam, beliau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan khusus dirinya. Setelah itu, pada pukul 10.00 atau 10.10 menit malam beliau masuk kamar untuk beristirahat. Dan pada pukul 2.00 malam beliau bangun untuk salat tahajud. Tentunya jam tidur dan salat malam beliau juga mengalami perubahan sesuai dengan musim yang ada. Beliau mengerjakan salat malam dan nafilah sampai mendekati Subuh. Sebelum salat Subuh; beberapa menit beliau memeriksa istiftaat dari kantor yang diletakkan dalam sebuah kotak karton. Setelah salat Subuh beliau istirahat kembali sampai pada pukul 6.00. Dari pukul 6.00 pagi sekitar selama setengah jam, beliau jalan kaki dan setelah itu membaca al-Quran. Setelah membaca al-Quran, beliau sarapan pagi. Dan tepat pukul 7.00 beliau pergi ke kantor.

Pada dasarnya kedisiplinan Imam Khomeini sungguh menakjubkan. Bila misalnya waktu sore kami mengatakan kepada beliau, “Bila Anda mau minum teh, saya ambilkan untuk Anda?”

Beliau melihat jamnya dan berkata:

“Masih beberapa saat lagi” 

Yakni masih beberapa detik lagi waktunya minum teh! Atau bila pada jam 13.10 menit setelah Zuhur beliau belum membuka pintu dan masuk ke ruangan bagian dalam, maka semuanya akan mengkhawatirkannya. Karena beliau jadwal kerjanya sedemikian rupa sehingga tepat pada pukul 13.10 menit membuka pintu dan datang ke ruangan bagian dalam untuk makan siang. Beliau senantiasa tepat menitannya untuk membuka pintu dan datang untuk makan siang. Beliau tidur juga senantiasa tepat menitannya. Sehari tiga kali, jalan kaki. Bila waktunya belum habis, beliau menambah dua sampai tiga langkah lagi. Kemudian masuk ke dalam rumah.

Kedispilinan Imam Khomeini senantiasa, yakni sejak masa mudanya, bukan merupakan sesuatu yang asing. Suatu hari saya menghadapi sebuah masalah. Saya merasa Imam memperhatikan masalah itu. Saya berkata kepada beliau, “Sepertinya Anda telah memperketat kedisiplinan pekerjaan-pekerjaan yang ada. Perhatian Anda begitu besar!”

Dengan sangat serius Imam Khomeini berkata:

“Tidak! Selama ini ya senantiasa demikian.”

Tidak pernah terjadi ketika salah satu anak-anaknya masuk ke ruangan dan Imam berbicara dengannya dalam kondisi menganggur. Kami selalu masuk dengan mengucapkan salam dan duduk. Karena beliau kalau tidak sedang mendengarkan radio ya sedang menonton televisi. Atau membaca program yang sampai kepada beliau. Atau menelaah berita yang sampai kepada beliau. kesimpulannya beliau tidak pernah menganggur meski hanya satu menit. Bahkan ke kamar mandi pun beliau membawa radionya atau ketika mengambil wudhu beliau mengalungkan radionya di punggungnya. Tentunya bila kami ada masalah atau pertanyaan penting dan televisi tidak ada acara yang penting, beliau mematikannya. Pada saat itu kami harus menyampaikan pertanyaan kami dan mendengarkan jawabannya. Tujuannya adalah waktu Imam Khomeini jangan sampai terbuang. Meski dengan yakin bisa saya katakan bahwa tidak ada waktunya Imam Khomeini yang terbuang.

Suatu malam Imam Khomeini berbaring di lantai sesuai jadwalnya, sedang melakukan olahraga pemanasan. Pada saat itu beliau juga sambil menonton acara yang sedang ditayangkan di televisi. Pada saat yang sama beliau juga menghitung gerakannya. Acara televisi pada saat itu, sebuah acara duka dan begitu mempengaruhi jiwa Imam Khomeini. Sambil menghitung gerakannya, beliau juga menangis.  (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjere