Hujjatul Islam wal Muslimin Hassan Saghafi Bercerita Tentang Imam Khomeini
https://parstoday.ir/id/news/iran-i29263-hujjatul_islam_wal_muslimin_hassan_saghafi_bercerita_tentang_imam_khomeini
Terkait kehidupan Imam Khomeini, masih banyak topik yang belum disampaikan dan saya akan menyampaikannya sekuat tenaga saya.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 26, 2016 18:20 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Terkait kehidupan Imam Khomeini, masih banyak topik yang belum disampaikan dan saya akan menyampaikannya sekuat tenaga saya.

Topik pertama tentang akhlak dan karakter Imam Khomeini di rumah. Beliau sangat menyenangkan, begitu akrab dan tawadhu. Sikapnya di rumah sangat dekat kepada keluarga. Kedekatannya kepada para tamu dan pelayan yang keluar masuk di rumahnya atau anak-anak  lebih dari yang diharapkan. Yakni tidak bisa dibayangkan, seorang pribadi dalam usia ini sedemikian tawadhu, akrab dan hangat. Sebatas yang saya ingat, bahkan dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, ketika beliau menjadi guru besar di Qom, dan kemudian sebagai marji taklid, beliau juga memikili ciri khas tersebut. Masalah ini menarik bagi semua orang. Khususnya bagi orang-orang yang berada di dalam rumah mengenal dan hidup bersama beliau. Sikap Imam Khomeini terhadap para pejabat yang datang ke Jamaran, serius dan istilahnya sekarang; memiliki kedisplinan tersendiri. Kelihatannya, dua kondisi ini merupakan dua sikap yang saling bertentangan. Yakni orang sikapnya di rumah sedemikian akrab, hangat seperti salah satu bagian dari anggota keluarga, sementara di luar, di hadapan masyarakat, wajahnya serius, tegas dan bersikukuh. Sehingga pandangan penuh wibawa beliau meliputi orang-orang yang datang menemui beliau, dan mereka menyaksikan kebesaran dan keagungan wajah Imam Khomeini.

 

Bahkan saya pernah sekali mengatakan kepada saudara saya [dia lebih besar dari saya dan pribadi yang sempurna serta memiliki kecintaan tersediri pada Imam Khomeini]: saya melihat dua wajah pada Imam Khomeini. Yang satu di dalam rumah dimana beliau sangat hangat dan akrab serta khas, dan yang lainnya, saat di luar dimana beliau sangat serius sedemikian rupa, sehingga ketika kami di luar bertemu beliau, dan kami bertanya, beliau menjawabnya. Kami bertanya, “Agha mengapa sikap Anda di sana demikian dan di sini demikian?” Beliau menjawab, “Di sana demikian...” kemudian kami tidak berani lagi mengulanginya dan kami tidak begitu berani menatap matanya. Pandangan stabil dan pancaran matanya, dengan sendirinya membuat kami harus menundukkan kepala kami. Namun ketika di dalam rumah, dan kami bangga bisa duduk makan bersama beliau dalam satu hidangan makanan, misalnya ketika beliau berjalan kaki di halaman rumah, beliau sangat menyenangkan dan akrab, soal jawabnya senantiasa dibarengi dengan senyuman.

 

Saya bertanya kepada saudara saya, “Apakah wajah Imam Khomeini yang hangat dan akrab di dalam rumah asli ataukah wajahnya yang stabil dan berwibawa saat bertemu masyarakat?” Saudara saya menjawab dengan indah, “Keduanya adalah asli. Tidak satupun darinya buatan. Kondisi yang beliau miliki di dalam rumah [tidak berbicara tentang politik dan pemerintahan] atau kondisi ketika berjalan kaki, berwudhu, mengerjakan salat dan makan, adalah karakter aslinya dan kondisi beliau saat di luar juga demikian adanya.”

 

Dari karakter lainnya Imam Khomeini adalah tawadhu. Dengan artian bahwa beliau menilai dirinya sama seperti salah satu anggota keluarga. Pada tahun-tahun terakhir ketika beliau tinggal di Najaf, kami juga sempat mengabdi kepada beliau sebentar. Di Najaf rumah beliau memiliki tangga yang tinggi dan sempit. Oleh karena itu, sulit rasanya untuk menuju ke tingkat dua, tiga dan atas rumah. Di atas rumah Imam Khomeini ini ada sebuah pintu yang harus dibuka saat siang dan ditutup saat malam. Saya, Haj Ahmad Agha dan yang lainnya tinggal juga di rumah itu dan bisa menutup pintu tersebut. Berkali-kali saya melihat Imam Khomeini setelah makan malam dan menyikat gigi, beliau turun dari atas rumah. Saya masih ingat, suatu hari seseorang dari anggota keluarga berkata, “Agha, ini bukan pekerjaan Anda. Kami yang akan menutup pintu atas rumah.” Beliau berkata:

 

“Tidak. Ini bagi saya tidak merepotkan. Bagi saya tidak sulit.”

 

Tentunya ini bagi saya benar-benar penting di mana seorang lelaki sebagai rujukan masyarakat dan memiliki banyak kesibukan, pergi menutup pintu atas rumah. Tentu saja kami juga melakukannya, tapi beliau tidak ingin menyuruh kami dan tidak ingin membebankan pekerjaan ini pada orang lain.

 

Ketika beliau ada tamu, bila sedikit buah dan teh disuguhkan, Imam Khomeini mengambil buah itu dengan tangannya sendiri dan menawarkan kepada tamunya:

 

“Bismillah, silahkan Anda ambil juga!”

 

Atau ketika ada tamu baru masuk ke sebuah pertemuan, Imam Khomeini pasti mengatakan, taruhlah buah untuknya atau ambilkan teh dimana ini adalah puncak tata krama dan ketawadhuan. Kami menyaksikan dalam pertemuan para marji atau pembesar lainnya, datang dua puluh – tiga puluh orang, namun mereka sama sekali tidak mengatakan, “Ambilkan teh untuk bapak itu!” atau “Mengapa tidak kalian suguhi teh?” atau “Letakkan buah ini, untuknya beliau.”  Bila dalam sebuah pertemuan ada buah dan teh yang dihidangkan, beliau selalu mengingatkan agar disuguhkan untuk semuanya.

 

Karakter lainnya adalah beliau tidak menginginkan keistimewaan untuk dirinya dan orang-orang dekatnya. Tentunya terkadang kondisilah yang membuat beliau dan orang-orang sekitarnya harus hidup secara khusus, namun beliau tetap pada pendiriannya jangan sampai diistimewakan. Saya masih ingat, setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini pergi ke Qom. Sehari-hari, banyak masyarakat yang datang mengunjungi beliau datang ke Qom. Losmen-losmen penuh dengan musafir. Restoran-restoran sate penuh dengan pembeli dan giliran barisan membeli roti juga menjadi panjang. Di hari-hari pertama ketika Imam Khomeini baru datang ke Qom, kota ini penuh dengan pengunjung. Seorang lelaki tua dan kurus yang mengabdi di rumah Imam Khomeini suatu hari dipanggil oleh Imam Khomeini, dia biasanya dipanggil baba. Kepadanya Imam Khomeini berkata:

 

“Baba! Aku mendengar engkau pergi dan berdiri. Mereka mengatakan, dia ini adalah pembantu Agha [Imam Khomeini] dan engkau disuruh maju dan mereka memberikan berapa saja roti yang engkau inginkan. Jangan lakukan itu. Hal ini tidak baik, seseorang dari rumah ini pergi keluar dan membeli tanpa mengikuti antrian. Engkau juga harus berdiri di barisan seperti yang lainnya. Jangan sampai ada keistimewaan untukmu.”

 

Beliau mengatakan seperti kandungan tersebut. Bagi saya ini luar biasa menarik. Kita telah membaca bagaimana gaya hidup para Imam Maksum as dan bagaimana perilaku para ulama. Tapi kita tidak langsung melihat dan mendengarnya. Seorang marji yang semua pikiran dan perhatiannya harus ditujukan pada menejemen pemerintahan dan kepemimpinan masyarakat, masih tetap menjaga poin-poin halus ini. Masalah ini membuat saya mencintai beliau sejak berapa tahun yang lalu. Saya masih ingat, kira-kira dua puluh tahun yang lalu sebelum saya memakai amamah [surban] almarhum ayah saya mengatakan kepada saya, “Aku melihat engkau begitu mencintai Agha [Imam Khomeini], melebihi seorang santri yang mencintai seorang marji dan engkau bangga ada kaitan dekat dengannya.” Kemudian melanjutkan, “Iya. Aku juga merasakan, beliau juga mencintaimu dan aku senang, engkau disayang oleh Agha [Imam Khomeini]. Maksud saya, saya mencintai Imam Khomeini, tapi dengan melihat contoh-contoh ini, membuat keimanan dan kecintaan saya kepada beliau meningkat. (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Hassan Saghafi, saudara istri Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh