Hujjatul Islam wal Muslimin Hassan Saghafi Bercerita Tentang Imam Khomeini (2)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i29836-hujjatul_islam_wal_muslimin_hassan_saghafi_bercerita_tentang_imam_khomeini_(2)
Terkait salat tahajjud, Imam Khomeini sangat rajin. Bapak-bapak pasti juga tahu, hanya saja tidak sedetil ini. Saya terkadang bersama beliau, dan saya melihat beliau setiap malam pasti bangun pada waktu tertentu untuk mengerjakan salat tahajud.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 02, 2017 11:19 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Terkait salat tahajjud, Imam Khomeini sangat rajin. Bapak-bapak pasti juga tahu, hanya saja tidak sedetil ini. Saya terkadang bersama beliau, dan saya melihat beliau setiap malam pasti bangun pada waktu tertentu untuk mengerjakan salat tahajud.

Beliau mengerjakan salat tahajud, kemudian mengerjakan salat sunnah subuh. Karena Imam Khomeini sangat rajin mengerjakan salat nafilah. Saya tidak tahu apakah bapak-apak yang lain juga serajin ini dalam mengerjakan salat nafilah ataukah tidak. Salat nafilah Zuhur; empat salat dimana setiap salat dengan dua rakaat. Ketika kami mendatangi beliau di saat Zuhur, Imam Khomeini sedang mengerjakan salat nafilah Zuhur. Bila sebelum Zuhur, beliau tidak bisa melakukan salat nafilah dengan duduk, dan sujud, maka beliau melakukan dalam keadaan berjalan, karena salat nafilah bisa juga dikerjakan dengan berjalan. Salat nafilah Asar; empat salat dimana setiap salat dengan dua rakaat. Beliau juga rajin mengerjakannya. Ketika Imam Khomeini masih sehat, beliau mengerjakan salat nafilah dengan berdiri. Tapi sekarang terkadang mengerjakannya dalam keadaan berjalan. Selain itu, beliau selalu mengerjakan salat di awal waktu.

Poin lainnya, ketika beliau bangun untuk mengerjakan salat tahajud, beliau bangun tanpa suara. Ini sangat penting. Misalnya ayah saya sendiri ketika bangun malam untuk salat tahajud sambil bersuara dan membangunkan semuanya. Sementara Imam Khomeini tidak demikian. Karena, mungkin saya orang lain tidak ingin mengerjalan salat tahajud. Tentunya orang-orang anggota keluarga tahu tentang salat tahajud. Namun Imam Khomeini tidak mau bersuara. Saya masih ingat ketika di Paris. Di sana ada dua kamar kecil dan saya tidur di sana. Saya melihat Imam Khomeini bangun dari tidurnya sangat pelan seperti sebuah bayangan dan dengan berwudhu dengan tanpa suara dan mengerjakan salat tahajudnya. Di Paris juga beliau rajin mengerjakan salat tahajud.

Sebagian dari anggota keluarga dan kerabatnya, mengatakan, “Di sana kami ingin melihat, kapan beliau bangun dari tidur untuk mengerjakan salat tahajud. Tapi kami tidak berhasil, karena beliau mengerjakan salat tanpa bersuara.” Saya tahu bahwa beliau berhasil melakukan hal yang penting ini sejak usia remaja.

Salah satu teman Imam Khomeini, seumur ayah saya berkata, “Kami bersama Imam Khomeini di suatu tempat. Di masa itu Imam Khomeini sangat muda. Saya heran, remaja ini selalu bangun dari tidurnya sebelum azan subuh untuk mengerjakan salat tahajud. Meski saya juga rajin mengerjakan salat tahajud, tapi kegiatan beliau untuk bangun mengerjakan salat tahajud membuat saya juga bangun.” Tentunya ini adalah taufik yang diberikan oleh Allah kepada beliau. Padahal boleh jadi bersujud berkali-kali, dan rukuk serta duduk dengan dua lutut dalam salat bagi beliau tidak bagus, dan seringnya beliau salat dengan duduk di kursi, tapi tetap saja beliau rajin mengerjakan salat-salat ini.

Ciri khas lain yang beliau miliki dan saya tidak tahu apakah bapak-bapak yang lainnya juga memiliki ciri khas ini ataukah tidak, adalah sebatas yang saya ketahui, dari tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang, bila beliau tahu ada pelajar ilmu-ilmu agama suka belajar, dan sedang sibuk sekolah, Imam Khomeini pasti membantunya sekuat tenaga. Apakah santri itu di Qom atau di kota lain. Baik beliau mengenal santri itu ataupun tidak mengenalnya. Bila beliau merasa bahwa santri ini karena keseganannya atau karena sibuk sekolah tidak bisa mencari uang, maka beliau membantunya dengan berbagai cara. Baik melalui para wakil-wakilnya, atau melalui para mukallidnya yang menyetorkan uang pada beliau.

Tentunya saya menyaksikan ciri khas Imam Khomeini ini juga ada pada almarhum Ayatullah al-Udzma Sayid Ahmad Khansari. Bila beliau merasa ada seorang santri punya potensi belajar, beliau pasti membantunya dengan tanpa menunjukkan diri di hadapan santri tersebut. Dan terkadang mengatakan, “Orang-orang yang bisa belajar, maka masalah ini baginya bukan wajib kifa’i tapi wajib ‘aini.” Saya mendengar ucapan beliau ini berkali-kali. Oleh karena itu, bila beliau melihat di suatu tempat ada seseorang berpotensi untuk belajar, maka beliau membantunya dari sisi materi. Itupun berupa uang yang cukup sehingga bisa mencukupi kehidupannya. Sepertinya Imam Khomeini merasakan makna ini pada diri Ayatullah Khansari dan di dalam pesannya pada acara peringatan haul ayatullah Khansari, beliau menyebut tentang “Tarbiyat-e nufus-e mustaedde” [mendidik orang-orang yang berpotensi]. Yakni, Ayatullah Khansari membantu orang-orang yang benar-benar memiliki potensi belajar. Masalah ini menunjukkan bahwa karena Imam Khomeini sendiri memiliki ciri khas ini, beliau juga merasakan apa yang ada pada diri Ayatullah Khansari. Boleh jadi bapak-bapak yang lain juga memiliki ciri khas ini. Tapi saya tidak tahu. Tapi saya merasakan pada dua orang besar ini. Imam Khomeini, begitu beliau melihat seseorang giat belajar dan memiliki potensi, mengatakan:

“Mereka ini harus dikuatkan dan dikembangkan.”

Beliau memiliki kecintaan tersendiri pada al-Quran. Yakni beliau akrab dengan al-Quran. Al-Quran senantiasa ada di sisinya. Karena kalian tahu juga bahwa jadwal kehidupan Imam Khomeini benar-benar teratur dan detil. Misalnya, boleh saja setelah salat subuh beliau tidur sejenak, tapi beliau bangun tidur terlebih dahulu dari yang lainnya, membaca surat-surat yang berkaitan dengan beliau, atau membaca buku yang disukainya, atau surat kabar hari sebelumnya, atau mendengarkan radio.

Masalah pertanyaan yang sering disampaikan oleh Imam Khomeini juga penting. Misalnya, ketika bertemu seseorang, beliau bertanya, “Apa yang terjadi di tempat fulan? Siapakah yang menjadi imam salat jamaah di tempat anda? Ada acara-acara keagamaan ataukah tidak? Siapakah guru yang baik di tempat anda?

Misalnya, bila ada dua orang menemui Imam Khameini dan beliau tidak mengenal yang satunya, maka dengan pelan beliau bertanya, “Siapakah bapak ini?”

Padahal mungkin saja seseorang sudah beberapa tahun datang ke masjid tapi kita juga tidak tahu namanya. Namun bila seorang yang tak dikenal masuk ke [dalam lingkungan] beliau, maka beliau bertanya, “Siapakah bapak itu?”

Pagi-pagi juga menanyakan, “Radio fulan mengatakan apa?”

Bahkan pernah ketika kami menemui beliau, lantas menanyakan, “Bagaimana dengan demonstrasi yang terjadi? Bagaimana Anda melihatnya?”

Sebagaimana sudah saya katakan, beliau sangat akrab dengan al-Quran. Misalnya, setelah sarapan pagi dan bertemu dengan para pejabat dan lain-lain, [kira-kira itu dilakukan pada pukul delapan] sekitar pukul 9.30 pagi, setelah berjalan kaki, beliau mulai membaca al-Quran. Kemudian mengerjakan sebagian urusan seperti membaca surat-surat rahasia yang khusus untuk beliau saja. Kemudian mendekati azan Zuhur, beliau berwudhu dan membaca al-Quran lagi. Kemudian saat mendekati Magrib beliau membaca al-Quran lagi. Beliau sangat mencintai al-Quran dan doa-doa. Baik doa hari-hari tertentu maupun yang lainnya.

Beliau sangat rajin mendengarkan berita. Setelah makan siang, beliau mendengarkan berita dan istirahat sebentar.

Beliau punya radio kecil dan sering ada di tangannya. Ketika berjalan kaki di halaman, radio ini juga bersamanya. Terkadang radio tersebut diletakkan di atas teras tempat diletakkannya vas-vas bunga. Di malam hari beliau pasti menonton televisi. Terkadang juga para keluarga dekat sedang berbicara dan beliau menjulurkan tangannya memberikan isyarat agar diam.

Ciri khas lain Imam Khomeini adalah tidak membebankan pekerjaannya pada orang lain. Misalnya ketika mau minum obat, beliau tidak mengatakan, “Ambilkan obatku!” tapi beliau bangkit sendiri dan mengambil obat dan meminumnya. Bahkan yang lainnya protes, “Serahkan pekerjaan ini pada kami.” Namun beliau tidak menolaknya. Beliau tidak mau merepotkan orang lain dan tidak menilai dirinya lebih tinggi dari yang lainnya.

Meski demikian, ada kewibawaan tersendiri yang meliputi majlis beliau. Di ruangan kecil tempat beliau duduk, ada sofa pendek dan selama ini saya tidak pernah melihat seseorang berani duduk di atasnya selain Agha Pasandideh [saudara tua Imam Khomeini] dan Agha Lavasani [sahabat dan wakil Imam di Tehran, seorang Syiah, benar-benar suci, pandai dan beramanat]. Yakni kewibawaan Imam Khomeini tidak mengizinkannya. Seandainyapun seseorang ingin duduk di atasnya, saya pikir Imam Khomeini tidak akan mengatakan, “Turunlah ke bawah.” Padahal orang-orang besar seperti syahid Mihrab ketika menemui Imam Khomeini, duduk di bawah dan tidak mengizinkan dirinya untuk duduk di atas sofa. Bahkan sekali saya menyaksikan bahwa syahid Mihrab, Agha Ashrafi Isfahani duduk di bawah menghadap ke Imam Khomeini.

Ciri khas penting beliau lainnya adalah kebersihan Imam Khomeini. Beliau sangat bersih. Mungkin saja sebagian orang tidak begitu rajin menggosok gigi. Tapi beliau sangat rajin, dan mandi pada waktunya dan sangat rajin memakai wangi-wangian. (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Hassan Saghafi, saudara istri Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh