Hujjatul Islam wal Muslimin Hassan Saghafi Bercerita Tentang Imam Khomeini (3)
-
Imam Khomeini ra
Terkadang saya atau yang lainnya membawa bunga melati untuk beliau [Imam Khomeini] dan Imam menerimanya dengan tersenyum manis. Beliau juga sangat berbakat dan membuat syair-syair yang bagus.
Beliau punya buku kecil untuk menulis syair dan di dalamnya banyak syair-syair beliau yang bagus. Namun ketika SAVAK menyerang rumah beliau di Qom, buku syair itu diambil juga. Ayah saya juga berbakat membuat syair dan syair-syairnya dicetak. Kakek saya juga hebat dalam bidang syair dan sastra. Almarhum ayah saya mengatakan bahwa salah satu syair Imam Khomeini sangat penting dan beliau heran, seorang rohani yang pekerjaannya menuntut ilmu di bidang filsafat, fikih dan ushul fikih dan kesibukannya berkecimpung dengan para pelajar ilmu-ilmu agama, bagaimana mungkin bisa membuat syair-syair seperti ini? Itupun dengan gaya Sanai, dengan cara manouchehri, dengan cara Saib Tabrizi dan pakar-pakar lainnya yang gayanya kokoh dan penuh dengan resistensi.
Beberapa tahun yang lalu, beliau menyerahkan salah satu buku kepada saya tentang hikmat dan irfan dan isinya tentang poin-poin yang sulit agar saya salin tulisan itu dimana beliau menulis cacatan pinggir dalam buku itu dengan tulisan yang kecil-kecil. Beliau menulis [catatan pinggir] di buku ini pada tahun 1350 HQ, yakni ditulis ketika berusia tiga puluh dan tiga puluh lima tahunan. Dengan melihat buku itu, kecintaan saya kepada beliau semakin meningkat. Buku yang beliau syarahi dalam usia masih muda itu, seorang filsuf yang berusia delapan puluh-sembilan puluh tahun pun sulit baginya untuk menulisnya. Ada poin-poin halus dan lembut yang membuat takjub pembacanya. Misalnya, penulis buku memaknai sebuah riwayat dengan sebuah bentuk, sementara beliau memaknainya dengan cara lain dan secara keseluruhan mengulas riwayat itu. Pemilik buku memaknai riwayat menguntungkan kelompoknya dan tidak membayangkan sama sekali bahwa riwayat tersebut memiliki makna lain juga. Tapi Imam Khomeini menjelaskannya dengan penjelasan yang indah dan dalam beberapa baris pendek. Ini adalah potensi beliau di bidang keilmuan. Tentang akhlaknya di dalam rumah dan sikapnya kepada masyarakat, demikian juga dengan ibadah dan bakat-bakatnya. Ini semua adalah keistimewaan yang diberikan oleh Allah hanya kepada hamba-hamba-Nya yang dicintainya. Yakni mungkin harus berlalu selama beberapa tahun dan berabad-abad sehingga ada lagi orang besar seperti ini di alam.
Saya masih ingat ketika Imam Khomeini sudah datang ke Qom. Hampir setiap hari masyarakat datang menemui beliau dan di gang-gang mereka menyampaikan rasa simpatinya. Masyarakat membludak. Di sebelah sungai bagian sana, masyarakat bak ombak berdesakan. Imam Khomeini naik ke atas atap rumah dan membalas rasa simpati mereka. Sebagian berkata kepada beliau, “Agha! Jangan naik ke atas atap rumah, berbahaya.” Demi ngalap berkah, masyarakat melemparkan sesuatu pada Imam Khomeini. Tapi Imam Khomeini mengatakan:
“Tidak. Mereka datang ke sini dengan kecintaan.”
Sekali, berbagai kalangan masyarakat datang menemui beliau. Sekitar selama dua jam, masyarakat menyampaikan rasa kecintaannya dan ada seseorang dengan speaker berbicara meminta Imam Khomeini agar berpidato. Kami berdiri dan kami lelah sementara Imam Khomeini duduk di kursi. Yang penting adalah beliau mengangkat tangannya dan saya heran, betapa beliau harus mencintai masyarakat. Jelas bahwa bila kalian mengangkat tangan kalian selama sepuluh menit saja maka pasti lelah dan tentu hati kalian ingin menurunkan tangan kalian. Tapi selama masyarakat ada yang menangis, sebagian menyampaikan simpatinya, sebagian ada yang menyampaikan hajatnya, sebagian yang lain meminta doa, tangan Imam Khomeini tetap diangkat ke atas. Saya merasa bahwa tidak ada satu faktor pun selain kecintaan Imam Khomeini kepada masyarakat yang membuat pemandangan seperti ini. Benar-benar ada hubungan yang kuat antara Imam Khomeini dan masyarakat.
Di hari-hari itu juga, sejumlah orang mengatakan, “Agha, bila Anda mau naik ke atas atap rumah, izinkan kami dulu yang naik ke atas, untuk kami lihat bagaimana kondisinya. Kemudian Anda naik.” Bahkan kalimat ini berkali-kali disampaikan oleh Agha Eshraghi [semoga Allah merahmatinya] tapi Imam Khomeini tidak mempedulikannya. Begitu mendengar suara masyarakat dari gang, Imam Khomeini langsung memakai amamah [surban]nya dan memakai sandalnya, lalu pergi ke atas atap rumah. Berkali-kali terjadi; begitu Imam Khomeini mendengar suara masyarakat , beliau segera menuju ke atas atap rumah. Padahal yang lainnya setelah itu baru tahu. Ini sangat penting bahwa beliau senang menghormati masyarakat yang datang menemui beliau dengan rasa senang dan semangat.
Terkait karomah Imam Khomeini, ada banyak poin. Misalnya mereka mengambil gula padat dari tangan Imam dan meminta agar Imam membaca doa pada minuman dan diminumkan pada orang yang sakit. Anak dari salah satu teman kami sakit. Anak itu kakinya sakit dan tidak bisa berjalan. Bapaknya sangat sedih. Ketika awal-awal Imam Khomeini berada di Jamaran, pertemuan dengan beliau sangat mudah. Bapak itu tahu bahwa kadang-kadang ada anak-anak yang dibawa kepada Imam Khomeini dan beliau membelai kepalanya. Dia berkata, “Anak saya cacat dan tidak bisa berjalan. Sudah saya bawa berobat ke dokter tapi tidak membuahkan hasil. Kalau bisa, bawalah anak saya ke Imam Khomeini.” Sore hari saya gendong anak yang kira-kira berusia tiga tahun itu pergi menemui Imam Khomeini. Bapaknya tidak ikut masuk. Saya menyampaikan masalahnya kepada Imam. Imam membelai kepala anak itu dan menciumnya serta mendoakannya dan berkata:
“Insyaallah akan sembuh. Ayah dan ibunya jangan khawatir.”
Saya katakan, “Ayahnya bekerja di salah satu lembaga pemerintahan.” Beliau berkata:
“Tidak. Jangan khawatir. Insyaallah akan sembuh.”
Saya menggendong anak itu dan pamitan pada Imam Khomeini. Ketika ada di gendongan saya, anak itu tertawa. Ayahnya mengambil anaknya dalam keadaan air mata memenuhi matanya. Bapak itu bersyukur dan istrinya di situ berdiri dan sangat senang.
Ia menuturkan bahwa saya punya seorang putra yang mengalami sakit parah. Tentunya kesembuhan anak ini ada kaitannya dengan doa Imam Khomeini. Saya yakin. Karena penyakitnya sedemikian parah sehingga dalam kondisi hampir mati. Tapi dengan doa Imam Khomeini, ia selamat dari kematian. Para dokter mengatakan bahwa penyakit ini akan mematikannya.
Sekitar dua tahun yang lalu, saya membawa anak saya ke luar negeri untuk berobat. Saya melihat bapak tersebut. Dia kemudian menjadi duta di Swiss atau Inggris. Karena ada acara dia ke Paris. Saya melihat dia membawa anak lelaki berusia lima-enam tahunan. Anak itu lari-lari, tertawa dan berbicara bahasa Perancis dan Inggris. Bapak itu berkata, “Agha Saghafi! Tahukah Anda siapa anak ini?”
Saya katakan, “Tidak.” Dia berkata, “Dia adalah anak yang Anda bawa kepada Imam Khomeini.” Dengan takjub saya berkata, “Benarkah apa yang Anda katakan?”
Dia menjawab, “Iya. Dia sudah sembuh dan sudah sekolah. Saya menilai kesembuhan anak saya berkat doa baik Imam dan belaian tangan beliau pada kepalanya.”
Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, salah satu teman kami menyerahkan uang khumus banyak sekali ke saya untuk saya sampaikan ke Imam Khomeini. Oleh karena itu, dia akhirnya punya hutang. Kalian tahu bila mereka membayar khumus dan tidak mampu membayar semuanya, maka dia punya tanggungan hutang. Karena orang tersebut berhutang banyak, kepada saya berkata, “Katakan kepada Imam Khomeini agar mendoakan kami.” Saya menemui Imam Khomeini dan menceritakan masalah yanga ada. Imam Khomeini berkata:
“Insyaallah sukses dan tahun depan bisa membayar hutangnya.”
Saya katakan, “Agha, berdoalah, sehingga baginya sebuah doa. Anda mengatakan semoga sukses membayar hutangnya?” Imam Khomeini berkata:
“Inilah doa untuknya.”
Saya menyampaikan masalah itu pada bapak tersebut. Dia berkata, “Imam betul. Ini adalah doa untuk saya.” Sebagaimana yang saya katakan, hutangnya sangat banyak sehingga dia tidak berharap bisa membayarnya dalam jangka tiga-empat tahun. Ketika kondisi ekonominya sudah membaik, tahun berikutnya orang ini bisa pergi ke Mekah. Dia mengatakan, “Saya tahu, ini adalah berkat doa baik Imam. Saya tidak berharap bisa membayar hutang ini dalam jangka satu tahun. Namun alhamdulillah kondisi perdagangan saya membaik dan saya tahun ini saya ingin pergi ke Mekah lagi. Dia tidak hanya bisa membayar hutangnya, bahkan kembali dia menghitung uangnya dan mungkin dua kali lipat dari tahun sebelumnya, dia membayar khumusnya.
Salah satu ciri khas lainnya Imam Khomeini dan merupakan keistimewaan beliau adalah beliau tidak membedakan antara orang-orang terdekat dengan orang-orang asing. Bila salah satu orang terdekat ada keperluan dan orang asing juga ada keperluan yang sama, maka beliau memperlakukannya sama. Misalnya, bila ada seseorang yang ada hubungan dekat dengan beliau memerlukan dana lima puluh ribu tuman untuk biaya menikah dan ada orang asing juga memerlukan dana lima puluh ribu tuman, maka bila Imam Khomeini punya kemampuan, beliau akan membantu keduanya dan bila tidak, maka beliau tidak akan membantu siapapun dari keduanya.
Ketika Imam Khomeini berada di Paris, saya ingin pergi ke sana menemui beliau. Salah satu keluarga dekatnya yang juga ada kaitan dengan kami, memberikan surat kepadaku dan berkata, punya hajat.
Saya berkata, “Jenis hajat ini besar dan saya tidak berpikir Imam akan mengabulkannya. Karena banyak masalah. Bila ada kemungkinan, tentunya harus membantu semuanya. Bila saya menyebutkan nama Anda secara khusus, saya tidak berpikir beliau akan mengabulkannya. Paling tidak, saya tahu beliau tidak akan mengabulkan saya. Dia berkata, “Saya tidak punya orang lain lagi. Karena Anda mau ke Paris, sampaikan masalah ini pada Imam.” Ketika saya di Paris sudah menemui Imam, saya keluarkan surat dan saya katakan, “Agha! Isinya surat ini demikian. Bila Anda mengizinkan, saya akan baca surat ini.” Imam berkata:
“Saya tidak bisa membantu dia. Karena banyak orang yang sama seperti dia. Harus membantu semuanya atau membantu dia saja, tidak baik. Dan saya tidak bisa melakukan hal ini.”
Saya katakan, “Sebagian uang milik Anda dimana para mukallid Anda menyerahkannya kepada saya untuk saya sampaikan kepada Anda. Apakah Anda mengizinkan uang ini saya pinjamkan ke bapak ini terlebih dahulu, sehingga ketika dia mampu, dia akan membayarnya? [karena saham Imam, khusus penggunaannya dimana tanpa seizinnya, tidak bisa dikasihkan kepada siapa saja dan marji’ taklid yang harus memutuskannya] bila dia tidak bisa membayarnya, banyak juga orang yang mendapatkan bantuan dari Anda. Kemudian beliau sejenak berpikir dan mengangkat kepalanya dan berkata:
“Tidak ada orang yang memberikan izin semacam ini kepada saya.”
Ketika saya kembali ke Iran, saya menceritakan masalah ini kepada bapak tersebut. Pertama saya menganggap dia akan sedih. Namun dia biasa-biasa saja dan berkata, “Barakallah. Sungguh manusia yang menakjubkan. Beliau benar. Yang lain juga ada. Iya. Dari mana beliau harus mendatangkan uang itu bila harus membantu semuanya?” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Hassan Saghafi, saudara istri Imam Khomeini ra.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh