Imam Khomeini Dalam Penuturan Ali Saghafi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i31024-imam_khomeini_dalam_penuturan_ali_saghafi
Suatu waktu, Khanum [istri Imam Khomeini] mengatakan, “Satu malam setelah salat, Imam Khomeini duduk dan saya berada bersama beliau. Fathimah Khanum [pembantu rumah] membawa teh dan meletakkannya di depan kami. Pembantu yang lainnya sedang sibuk bekerja di sudut ruangan. Kepada Imam saya katakan, Fathimah khanum ini adalah pembantu yang sangat baik. Imam Khomeini berkata:
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jan 16, 2017 09:11 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra dan Istri
    Imam Khomeini ra dan Istri

Suatu waktu, Khanum [istri Imam Khomeini] mengatakan, “Satu malam setelah salat, Imam Khomeini duduk dan saya berada bersama beliau. Fathimah Khanum [pembantu rumah] membawa teh dan meletakkannya di depan kami. Pembantu yang lainnya sedang sibuk bekerja di sudut ruangan. Kepada Imam saya katakan, Fathimah khanum ini adalah pembantu yang sangat baik. Imam Khomeini berkata:

“Jangan menggunjing.”

 

Saya katakan; Agha! Saya tidak menggunjing. Saya katakan bahwa dia baik. Imam Khomeini berkata:

 

“Ketika engkau mengatakan ini baik, karena dia [pembantu yang lainnya] mendengar, tampaknya engkau ingin mengatakan ini tidak baik, dan ini adalah menggunjing.”

 

***

 

Imam Khomeini baru saja datang ke Jamaran. Waktu itu masih di awal-awal perang. Di antara orang-orang yang datang menemui Imam Khomeini ada seorang wanita muda yang baru saja kehilangan suaminya. Anak perempuannya yang berusia beberapa tahun juga datang bersamanya. Anak perempuan itu menangis. Dari pagi banyak menangis. Kepala dan wajahnya lusuh dan air matanya tampak di pipinya. Ibunya sedih dan ingin anaknya ini dibawa ke Imam Khomeini. Barangkali tangan Imam Khomeini bisa menenangkan anak yang kehilangan ayahnya ini.

 

wanita itu berkata, “Saya tidak sedih dan saya sendiri yang menyiapkan kepergian suami saya ke medan perang. Tapi apa yang harus aku lakukan? Anak ini menyusahkanku dan saya pikir satu-satunya jalan adalah Imam Khomeini harus menolongnya.”

 

Pada saat itu saudara saya memegang tangan anak itu dan membawanya kepada Imam Khomeini yang sedang berjalan kaki di halaman. Ketika beliau melihat anak itu, harapan kami dari beliau adalah hendaknya membelai kepalanya, kemudian kami kembalikan lagi ke ibunya. Tapi ketika Imam Khomeini melihat anak ini menangis, beliau duduk di batu tepi kolam dan mengusap air matanya dan sibuk bersama anak ini untuk beberapa saat. Ketika anak ini benar-benar tenang, beliau membiarkannya dan kami mengembalikannya kepada ibunya.

 

***

 

Saya masih ingat, ketika itu awal tahun 1358 HS dan Imam Khomeini berada di Qom. Hari-hari yang pahit tapi juga indah. Pahit karena saat itu masih ada kelompok-kelompok, para pemikir liberal, orang-orang yang fanatik pada etnis dan orang-orang yang menginginkan pemerintahan kerajaan dan setiap saat bisa saja menunjukkan dirinya sebagai orang dalam karena sebuah alasan lantas mengklaim harta pembagian. Pada hari itu saya bersama ayah saya datang ke Qom untuk menziarahi makam Sayidah Maksumah dan menemui Imam Khomeini.

 

Dari pagi sekelompok masyarakat yang kebanyakan adalah suku Azari melakukan demonstrasi mendukung Agha Shariatmadari dan keluar masuk kota Qom. Lama-lama jumlah mereka menjadi banyak. Mendekati Zuhur ada sekelompok orang kira-kira ada dua ribu orang dan mereka membawa pentungan menuju makam Sayidah Fathimah. Tampaknya mereka ingin berkumpul di Daruttabligh. Begitu azan dikumandangkan, seperti biasanya, Imam Khomeini mulai mengerjakan salat. Beberapa menit kemudian, salah seorang pegawai kantor Imam Khomeini kelihatannya, Hujjatul Islam Sanei mengetuk pintu dalam dan ingin menyampaikan sesuatu. Dia mengusulkan agar saya menyampaikan masalahnya pada Imam Khomeini.

 

Dia berkata, “Sampaikan kepada Imam bahwa para pelaku demonstrasi kebanyakan berada di sekitar Daruttabligh dan dari speaker Daruttabligh mengumumkan bahwa bila Imam mengizinkan maka kami pulang ke rumah masing-masing. Lihatlah, apakah Agha [Imam Khomeini] menyetujui bahwa kami mengumumkan perizinan beliau?” Detilnya kata-kata ini saya sampaikan kepada Imam Khomeini. Imam Khomeini saat itu sedang membaca doa setelah salat. Kepada saya beliau berkata:

 

“Maksud dari Imam bukan saya. Tidak perlu izin.”

 

Detilnya kalimat ini saya sampaikan kepada Agha Sanei. Beliau datang sendiri karena ingin jawaban yang lebih meyakinkan. Imam Khomeini saat itu belum mulai salat asar. Agha Sanei kembali menyampaikan pertanyaannya. Imam Khomeini berkata:

 

“Saya katakan, maksud dari Imam, bukan saya.”

 

Saya dan dia kembali. Mungkin belum dua menit. Tiba-tiba diumumkan dari speaker Daruttabligh, “Imam Shariatmadari mengatakan, kembalilah ke rumah-rumah kalian. Pahala kalian semua bersama Allah.”

 

Kami baru paham apa yang dikatakan oleh Imam Khomeini.

 

***

 

Suatu hari setelah Zuhur, saya bersama saudara saya, Insinyur Mahdi Saghafi pergi ke rumah Imam Khomeini di Jamaran dan beberapa saat kami bersama Khanum [istri Imam Khomeini].

 

Mendekati maghrib kami ingin pulang. Saya berpikir bagaimanapun juga kita harus menemui Imam Khomeini untuk mengucapkan salam dan mencium tangannya. Khanum berkata, “Tidak masalah.”

 

Kemudian disampaikan kepada Imam Khomeini yang sedang berada di halaman samping bahwa Agha Ali dan Agha Mahdi akan menemui beliau.” Kami pergi ke halaman tempat Imam Khomeini berada. Kira-kira azan Magrib tinggal lima – enam menit lagi. Karena kami tahu kebiasaan Imam Khomeini bahwa beliau tidak akan melakukan transaksi salat di awal waktu dengan apapun, kami ragu apakah menemui beliau ataukah tidak.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menemui beliau di depan pintu mengucapkan salam dan mencium tangannya terus kembali. Begitu kami sampai di pintu gerbang gedung, Imam Khomeini membuka pintu dalam keadaan lengan bajunya sudah disingsingkan dan ketahuan kalau mau berwudhu. Beliau menyambut kami dengan hangat di depan pintu, kemudian kami kembali.

 

Saya katakan kepada saudara saya, “Lihatlah! Imam Khomeini dengan gerakan ini, pelajaran apakah yang diberikan kepada kami. Pertama, beliau memberikan kehormatan yang tinggi kepada kita dan beliau datang sampai ke depan pintu gedung. Kedua, dengan persiapannya untuk melakukan mukadimah salat, secara tidak langsung beliau ingin mengingatkan pada kita bahwa [sekarang adalah] waktunya salat.” (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Ali Saghafi, saudara istri Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh