Penuturan Almarhum Hujjatul Islam Shahaboddin Eshraghi Tentang Imam Khomeini ra
-
Imam Khomeini ra
Almarhum Ayatullah Sayid Mostafa mengatakan, “Setelah dua bulan Imam Khomeini dipenjara di Turki, saya mendatangi beliau dan saya melihat bahwa Imam Khomeini tidak pernah membuka korden yang ada selama dua bulan. Yakni, selama dua bulan beliau berada di dalam ruangan, tidak pernah melihat keluar. Saya katakan, mengapa Anda tidak melakukan hal ini? Imam menjawab:
“Untuk apa aku harus melakukan hal ini?”
Bagi beliau masalah ini tidak penting. Di luar tidak ada yang perlu ditonton bagi Imam. Saya meminta izin pada beliau untuk membuka korden. Karena saya Imam menyetujui. Setelah dua bulan beliau melihat pemandangan luar yang sangat luas dan banyak bunganya.
Ini menunjukkan kondisi kejiwaan Imam Khomeini, dimana penjara dan pengasingan bagi beliau tidak punya makna.
Doktor Mahmoud Boroujerdi (Menantu Imam Khomeini, suaminya Zahra Mosthafavi)
Saya lahir pada tahun1312 Hs. Pengenalan saya dengan Imam Khomeini, kembali apda pengenalan dan persahabatan ayah saya dengan beliau. Sejak Imam Khomeini berusia sembilan belas tahun, dan ayah saya berusia enam belas tahun, mereka berdua bersahabat. Sejak hari-hari pertama Imam Khomeini sebagai seorang santri yang datang dari Khomeini ke Irak, sampai akhir keduanya akrab.
Ketika saya masih kecil, saya melihat ayah saya memiliki banyak teman dan salah satunya adalah Imam Khomeini. Saya masih ingat ketika saya masih usia sekitar tiga tahunan, kebersihan Imam Khomeini terkenal di antara teman-temannya. Setiap kali saya melihat beliau, senantiasa dalam keadaan rapi dan bersih baik dari sisi pakaian maupun penampilan lahiriyah. Demikian juga, dari sisi pekerjaan beliau sangat rapi. Sebelum saya bangga karena ada ikatan keluarga dengan beliau, jauh-jauh sebelumnya kami sangat akrab karena persahabatan dua keluarga. Terkadang saya masuk ke dalam ruangan Imam Khomeini, meski ruangan itu penuh dengan buku dan kertas dan catatan, setiap kertas yang dimaukannya, beliau langsung menemukannya. Karena tersusun rapi dan pada tempatnya masing-masing.
Beliau sangat mengenal waktu. Berkali-kali terjadi, sebelum beliau pergi mengajar, saya berada di sisi beliau. Pada saat itu beliau berurusan dengan buku. Begitu waktu mengajar tiba, beliau langsung bangkit dan segera berangkat mengajar.
***
Pada tanggal 23 Azar tahun 1340 HS, saya berusia dua puluh delapan tahun. Setelah delapan bulan wafatnya Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi terjadilah ikatan keluarga ini. Tahun berikutnya muncul masalah Anjumanha-ye Iyalati va Velayati [sejenis sistem federal] dan tampaknya terjadi masalah bagi Imam Khomeini. Bila saya katakan “tampaknya”, karena terkadang sebagian mengatakan, “Penangkapan dan lain-lain ini karena langkahmu” dan saya katakan, “Tidak. Bahkan sebaliknya, langkahku sangat bagus. Karena masyarakat lebih mengenal Imam Khomeini dan mengikuti beliau dan lebih memahami Islam.” Dan akhirnya masalah ini berunjung pada masalah revolusi sampai akhirnya rezim despotik lengser berkat bimbingan Imam Khomeini dan aktivitas masyarakat dan pemerintahan Islam terwujud yang merupakan harapan Imam Khomeini.
Beberapa hari setelah wafatnya Ayatullah Boroujerdi, rencananya Imam Khomeini mau hadir acara tahlilan beliau. Agha Lavasani datang dari Tehran. Saya dan almarhum Eshraghi dan salah satu ulama lainya berjalan di belakang Imam Khomeini. Meski selisih kami dengan Imam Khomeini tidak lebih dari satu langkah, beliau menghadap ke belakang dan berkata kepada kami:
“Kalian jalan lebih dahulu atau kalian bersabar sebentar sehingga saya jalan terlebih dahulu.”
Beliau ingin memberitahukan kepada kami bahwa saya tidak rela kalian berjalan di belakang saya. Beliau sangat teliti dan senantiasa jalan sendirian.
***
Saya menyaksikan dan mengamati kejadian, sejak awal perselisihan dan masalah yang terjadi antara santri dan pemerintah. Keteguhan Imam Khomeini dalam masalah yang berkaitan dengan hukum Islam sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun bahkan marji’ taklid masa itu bisa mengalihkan Imam Khomeini dari pendapatnya.
Saya masih ingat masa situ ketika pemerintah menetapkan sebagian pendapat santri dalam ratifikasi rancangan undang-undang Anjomanha-ye Iyalati va Velayati dan dalam surat kabar Ettelaat ditulis tentang masalah ini dengan judul kecil sekitar sebanyak dua belas sampai tiga belas baris. Imam Khomeini berbicara melalui telepon dengan salah satu marji’ taklid. Sebagaimana dalam kandungan ucapan Imam Khomeini kelihatan bahwa marji’ taklid tersebut bersikukuh mengatakan, “Sekarang pemerintah telah mundur dari pendapatnya, sebaiknya kita juga menerima.”
Imam Khomeini mengatakan:
“Tidak. Kita jangan sampai menerima. Karena telah memukul Islam dan al-Quran dengan judul yang besar di surat kabar dan sekarang seharusnya mereka kembali dengan cara ini dari pendapat mereka. Kalau tidak, maka ini adalah kekalahan bagi Islam dan bagi santri. Bila kita menerima hal ini, berarti kita kembali ke belakang. Padahal mereka harus tunduk di hadapan Islam dan santri.”
Dan di akhir pembicaraan, Imam benar-benar bersikukuh dan lebih menyerupai ancaman.
***
Salah satu masalah dimana seluruh teman Imam Khomeini sepakat dalam hal itu adalah beliau secara mutlak tidak pernah menggunjing. Sejak masa muda, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri beliau, beliau tidak mengizinkan sama sekali menggunjing seseorang. Bila seseorang ingin memulai menggunjing, maka Imam Khomeini mengganti topik pembicaraan.
Ayah saya menceritakan, “Bila dalam sebuah pertemuan ada beliau dan di antara teman-teman mulai menggunjing dan berlanjut, maka beliau langsung membubarkan pertemuan.” Di rumah juga demikian, bila seseorang ingin menggunjing, maka beliau marah.
Pribadi semacam ini yang sejak usia muda komitmen pada masalah dan akhlak Islam, maka pada saat beliau berposisi sebagai marji’ taklid tidak akan membiarkan kesucian Islam seperti al-Quran dan hukum al-Quran mengalami penghinaan. Itupun dari pemerintahan yang mengklaim sebagai Islam. Oleh karena itu, meski musuh merencanakan untuk menghancurkan Islam di Iran secara bertahap dan ingin sampai pada tujuannya, Imam Khomeini akan berdiri kokoh menghadapinya dan tidak akan pernah mundur dari programnya. Mereka menetapkan sumpah pada kitab samawi sebagai ganti sumpah pada al-Quran, dan Imam Khomeini mengatakan:
“Ini adalah mukadimah kerjaan, mereka menginginkan al-Quran tidak ada.” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Shahaboddin Eshraghi, Menantu Imam Khomeini, suaminya Siddighe Mosthafavi.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.