Penuturan Doktor Mahmoud Boroujerdi Tentang Imam Khomeini ra (3)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i32477-penuturan_doktor_mahmoud_boroujerdi_tentang_imam_khomeini_ra_(3)
Ketika Imam Khomeini pergi mandi, pasti beliau mengganti bajunya. Ketika baju itu dibawa mau dicuci, Allah mengetahui, sungguh berbau bunga.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 06, 2017 17:13 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Ketika Imam Khomeini pergi mandi, pasti beliau mengganti bajunya. Ketika baju itu dibawa mau dicuci, Allah mengetahui, sungguh berbau bunga.

Saya masih ingat yaitu pada tahun 1357, waktu Zuhur beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan salat. Saya juga bersama beliau. Ketika kembali ke rumah, karena suhunya sangat panas dan berkeringat, beliau langsung mengganti bajunya. Biasanya, setelah malam lewat tiga jam, beliau keluar untuk pergi ke Haram, ketika kembali beliau mengganti lagi bajunya. Pada saat itu Imam memakai wangi-wangian dan bau khas wewangiannya mengharumi semua tempat. Beliau memakai wewangian untuk urusan mustahab dan urusan wajib. Adalah mustahab seseorang memakai wewangian saat bertemu dengan orang lain. Salah adalah urusan wajib dan hukumnya mustahab bagi pelaku salat untuk memakai wewangian.

---

Bila kalian memperhatikan tulisan-tulisan, pidato-pidato dan pesan-pesan Imam Khomeini, maka kalian akan menyaksikan satu poin yang lebih ditekankan oleh beliau yaitu tawakal kepada Allah. Dan ini juga berdasarkan pada ayat:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Bertawakal kepada Allah, menyebabkan seseorang menilai segala sesuatu berasal dari Allah dan senantiasa bekerja karena-Nya.

Tidak masalah di sini saya singgung tentang putra saya yang bernama Masih. Dia datang dan berkata, “Ayah, Imam Khomeini mengatakan, “Air yang kalian minum ini, minumlah karena Allah.”

Di antara nasihat-nasihat yang selalu disampaikan Imam Khomeini adalah tawakal kepada Allah. Kata-kata yang senantiasa beliau sampaikan adalah sebagai berikut:

“Bertawakal kepada Allah-lah yang menjadikan kalian menang.”

“Bertawakal kepada Allah-lah yang menjadikan revolusi kalian menang.”

“Bertawakal kepada Allah-lah yang menjadikan konspirasi akan terungkap.”

Beliau benar-benar perhatian pada makna ini sehingga mengatakan:

“Air yang engkau minum, minumlah karena Allah.”

Yakni dalam segala kondisi, seseorang harus senantiasa mengingat Allah dan mengenali dirinya dan ini berdasarkan pada ayat:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّـهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَ عَلَىٰ جُنُوبِهِمْ...

Terkait hal ini, saya juga punya dua kenangan menarik dari Imam Khomeini. Yang satu kembali pada detik-detik pertama kemenangan revolusi. Hari ketika saya bersama teman-teman dan istilahnya adalah menaklukkan SAVAK, kemudian saya pulang ke rumah di daerah Zarakhaneh. Begitu saya mendengar suara Revolusi Islam dari radio, saya segera pergi ke madrasah Alavi; tempat Imam Khomeini berada. Di sana sangat ramai. Kesimpulannya, saya pergi menemui Imam Khomeini. Saya melihat Imam sedang duduk di dalam ruangan dan keluarga kami juga berada di sisi beliau sedang menonton televisi. Dengan semangat saya mencium tangan Imam Khomeini dan mengucapkan selamat atas kemenangan revolusi. Dengan kondisi menakjubkan beliau mengatakan:

“Sekarang belum terjadi apa-apa. Sekarang belum apa-apa.”

Saya menyampaikan bentuk kalimat itu sendiri. Saya mengatakan, “Masalah yang sangat penting.” Beliau mengatakan:

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Tapi sekarang belum terjadi apa-apa.”

Saya merasa takjub. Telah runtuh rezim despotik selama dua ribu lima ratus tahun dengan kebesarannya di dunia, sementara beliau mengatakan, bukan apa-apa. Tentunya kemudian saya memahami bahwa beliau ingin menyampaikan bahwa ini adalah kehendak Allah. Bila kalian masih ingat, setelah penaklukan daerah Faw, Imam Khomeini di Huseiniyeh Jamaran juga berkata:

“Jangan sampai kalian sombong. Ini semua adalah pekerjaan Allah, dari sisi Allah.”

Yakni “Wa Man Yatawakkal Alallahi Fahuwa Hasbuhu.” Bertawakal kepada Allah membuat kemenangan ini menjadi bagian dari kami dan bertawakal kepada Allah juga menyebabkan  revolusi mencapai kemenangan. Masalah ini ada pada tempatnya sendiri. Sekarang saya akan menukil tentang kejadian sebaliknya.

Malam itu adalah malam yang sangat pahit. Ketika Khorramshar ada dalam kepungan pasukan Baath, saya dan beberapa teman sedang berjalan bolak-balik di kantor dan merokok. Di samping itu, setiap lima sampai enam menit datang kabar dari sana, sampai ketika Khorramshar jatuh. Teman-teman kepada saya mengatakan, “Pergi temuilah Imam Khomeini dan sampaikan masalahnya.”” Aduh, bagaimana aku bisa menemui beliau? Satu pekerjaan yang sulit. Pada hakikatnya, sekarang bila saya teringat masa itu, tenggorokan saya terasa tercekik. Akhirnya saya pergi dan masuk ke dalam ruangan. Saya melihat Imam Khomeini dan keluarga serta anak-anak sedang menonton televisi. Dari wajah saya, mereka tahu bahwa telah terjadi sesuatu. Setelah menghadap ke arah saya selama enam sampai tujuh menit, bertanya, “Ada apa?” dengan penuh kesedihan saya menyampaikan kepada beliau, “Khorramshar telah diambil.” Dalam kondisi menakjubkan beliau mengatakan:

“Tidak perlu sedih. Perang. Suatu waktu kita yang menang. Suatu waktu mereka. Tidak perlu sedih.”

Kalian melihat beliau dalam kondisi sebagaimana ketika di awal-awal revolusi. Allah tahu bahwa hatiku saat itu menjadi tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Kami mendapati dua sikap Imam Khomeini ini sebagai manifestasi ayat:

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ...

Masalah-masalah ini bisa menjadi pegangan untuk manajemen negara, lembaga eksekutif dan manajemen rumah tangga. Ini adalah pelajaran dimana seseorang tidak boleh menyerah dan kalah dalam menghadapi musibah, kesedihan maupun kegembiraan.

Saya banyak melihat para pasdaran dan pegawai negeri Republik Islam yang dengan bangga mengatakan bahwa Imam Khomeini telah menasihati kami. Salah satu masalah yang sering beliau sampaikan dalam nasihatnya adalah hendaknya bertawakal kepada Allah dan mudah memaafkan dalam kehidupan. Suami dan istri boleh jadi punya perselisihan. Bila keduanya seperti batu dan tidak mau mengalah kedua-duanya, maka perselisihan ini akan tetap ada. Tapi bila salah satunya mengalah, maka yang satunya akan menjadi baik. Tawakal kepada Allah selain untuk dunia materi juga untuk dunia spiritual [akhirat]. Ketika seseorang bertawakal kepada Allah, maka segalanya akan kokoh atas dasar tawakal. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Doktor Mahmoud Boroujerdi, suami Zahra Mosthafavi dan menantu Imam Khomeini.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh