Rouhani: Mereka harus Berbicara dengan Rakyat Iran dengan Sopan
Presiden Republik Islam Iran mengatakan, partisipasi jutaan rakyat Iran dalam pawai 22 Bahman tahun ini merupakan tampilan kekuatan nasional Iran dan jawaban terhadap ucapan keliru para pejabat baru Gedung Putih.
"Rakyat Republik Islam Iran –dengan partisipasi luas mereka dalam epik 22 Bahman– mengumumkan kepada dunia bahwa Pemimpin Besar Revolusi Islam tidak sendirian dan (mereka) harus berbicara dengan rakyat Iran dengan bahasa sopan dan menghormati serta menjauhi ancaman," kata Hassan Rouhani kepada wartawan di tengah kerumunan warga Iran yang mengikuti pawai 22 Bahman di Tehran, ibukota Iran, Jumat (10/2/2017) pagi.
Statemen tersebut dilontarkan Rouhani sebagai respon terhadap ancaman Donald Trump, Presiden baru AS terhadap Iran.
Rouhani menambahkan, rakyat Iran –dengan partisipasi luas mereka dalam pawai 22 Bahman– menunjukkan kembali kepada dunia bahwa Revolusi Islam tetap hidup dan sedang bergerak ke arah tujuan-tujuan mulianya.
"Pengalaman 38 tahun lalu membuktikan bahwa siapa saja yang berbicara dengan rakyat Iran dengan bahasa ancaman, ia akan menyesal," pungkasnya.
Eshaq Jahangiri, Wakil Presiden Iran di sela-sela pawai 22 Bahran kepada wartawan mengatakan, rakyat selalu bersama revolusi seperti biasanya dan pesan terpenting partisipasi luas mereka dalam pawai 22 Bahman adalah persatuan dalam menghadapi arogansi dunia.
Ia lebih lanjut menyinggung pernyataan Trump yang mengancam Iran, dan mengatakan, Trump hingga sekarang masih merasa dalam suasana pemilu dan orang-orang di sekitarnya terbagi menjadi beberapa kelompok, di mana satu dari kelompok itu adalah rezim Zionis dan kepentingan rezim ini lebih banyak dikejar melalui AS.
Pawai akbar jutaan rakyat Iran di Tehran dan ribuan kota dan desa di negara ini untuk memperingati kemenangan Revolusi Islam ke-38 dimulai pada Jumat pagi dengan mengunsung slogan "Mampus Amerika." (RA)