Qassemi: Saudi Terlibat Dosa Besar di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/iran-i37620-qassemi_saudi_terlibat_dosa_besar_di_yaman
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, Arab Saudi berdosa besar akibat agresinya ke Yaman yang telah merenggut nyawa lebih dari 11.000 warga negara ini dan memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
May 15, 2017 06:39 Asia/Jakarta
  • Bahram Qassemi, Jubir Kemlu Iran
    Bahram Qassemi, Jubir Kemlu Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, Arab Saudi berdosa besar akibat agresinya ke Yaman yang telah merenggut nyawa lebih dari 11.000 warga negara ini dan memporak-porandakan infrastruktur penting Yaman.

Bahram Qassemi mengungkapkan hal itu dalam wawancara dengan al-Araby al-Jadeed terbitan London baru-baru ini ketika menyinggung invasi militer Arab Saudi ke Yaman yang dimulai sejak Maret 2015.

"Rakyat Yaman memiliki banyak senjata, dan Arab Saudi yang tidak memperhitungkan hal ini berpikir bahwa semua akan berakhir dengan keuntungannya," ujarnya.

Jubir Kemlu Iran lebih lanjut membantah isu dan rumor tentang bantuan senjata dari negaranya ke Yaman.

"Sejumlah negara menuding Republik Islam Iran menyelundupkan senjata ke Yaman. padahal, dari satu sisi, pemerintah Tehran tidak memiliki partisipasi militer dan finansial dalam perang Yaman, dan dari sisi lain, rakyat Yaman sama sekali tidak memerlukan senjata dari Republik Islam Iran," tegasnya.

Di bagian lain statemennya, Qassemi menyinggung hubungan antara Iran dan Arab Saudi.

"Negara-negara tertentu sedang mengejar untuk mengisolasi dan mencemarkan nama baik Republik Islam Iran serta perang dengan negara ini. Masalah yang mempengaruhi hubungan antara Tehran dan Riyadh adalah kesalahpahaman dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap Republik Islam," jelasnya.  

Ia menambahkan, Arab Saudi harus menghentikan tuduhan dan kebijakan-kebijakan anti-Iran, dan jika hal ini dilakukan, Tehran siap untuk melakukan pembicaraan bilateral dengan Riyadh.

Terkait dengan krisis Suriah, jubir Kemlu Iran menuturkan, sejumlah negara membuka perbatasannya dan mendukung kelompok-kelompok teroris serta mengejar keruntuhan pemerintah sah Suriah, namun mereka telah gagal.

Kini, lanjut Qassemi, negara-negara itu mencapai kesimpulan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Bashar al-Assad, Presiden Suriah, sebab, tidak adanya Assad berarti tidak ada orang yang memberantas kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS).

Jubir Kemlu Iran juga menyinggung penyelenggaran babak keempat perundingan di Astana, ibukota Kazakhstan untuk membahas krisis Suriah dan kesepakatan tentang zona peredam konflik di negara Arab ini.

"Kesepakatan ini bukan berarti pembagian Suriah. Republik Islam Iran menentang pembagian Suriah dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi," pungkasnya. (RA)