Amerika tak Akan Bisa Kucilkan Iran
Ketua Badan Energi Atom Iran, AEOI mereaksi statemen Presiden Amerika Serikat terkait upaya mengucilkan Iran di arena internasional. Ia mengatakan, Washington tidak akan mampu mengucilkan Iran.
Donald Trump, Presiden Amerika dalam lawatan terbarunya ke Arab Saudi mengulang kembali klaim tak berdasar yang menyebut Iran sebagai bagian dari masalah kawasan, dan ia mengancam akan mengucilkan Tehran.
Ali Akbar Salehi, Ketua Badan Energi Atom Iran dalam wawancara dengan surat kabar Perancis, Le Figaro yang dimuat dalam edisi hari Selasa (23/5) menegaskan, Donald Trump harus tahu Iran tidak pernah terkucil bahkan di era sanksi, dan tetap melanjutkan kemajuan dan pembangunannya.
Sikap Amerika pasca penandatanganan kesepakatan nuklir Iran lebih kental dengan nuansa ancaman. Pasca Rencana Aksi Bersama Komprehensif, JCPOA, Washington kembali menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu dan perusahaan Iran di dalam maupun luar negeri dengan dalih uji coba rudal. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk membatalkan kesepakatan nuklir Iran.
Akan tetapi sejauh mana Trump mampu menjalankan programnya tersebut, masih banyak yang meragukan. Beberapa hari sebelum digelarnya pemilu presiden Iran periode ke-12 tanggal 19 Mei 2017, Trump memperpanjang pencabutan sanksi atas Iran yang merupakan bagian dari kesepakatan nuklir. Ia ingin menunjukkan tidak berkomitmen pada JCPOA, dan pada saat yang sama, menerapkan sanksi-sanksi baru dengan dalih ancaman rudal Iran.
Sebagian kalangan menganggap statemen Trump dalam lawatan terbarunya ke Saudi adalah upaya untuk mendorong dilakukannya perundingan baru terkait nuklir Iran. Padahal tidak ada satu alasanpun yang bisa menjustifikasi tindakan semacam ini dan pemerintah Amerika sendiri meyakininya. Oleh karena itu, Trump menggunakan skenario lain untuk mengganggu kesepakatan nuklir Iran.
Di sisi lain, kesepakatan nuklir Iran memiliki dukungan internasional dan berada dalam kerangka resolusi Dewan Keamanan PBB. Karena itu, Amerika tidak akan bisa memutuskannya secara sepihak serta memaksakan sikapnya kepada negara-negara anggota Kelompok 5+1 lainnya.
Maka dari itu, satu-satunya opsi yang tersisa bagi Amerika adalah melanjutkan ancaman terhadap Iran. Statemen berbau ancaman Trump tetap disampaikan padahal Dan Coats, Direktur Intelijen Nasional Amerika pada sidang Komisi Angkatan Bersenjata Senat, hari Selasa (23/5) mengakui, Iran menjaga komitmennya atas isi kesepakatan JCPOA yang ditandatangani tahun 2015.
Menurut pandangan masyarakat internasional, merusak kesepakatan nuklir Iran akan menyebabkan hubungan Amerika dengan negara-negara lain pendukung JCPOA yaitu Uni Eropa, Cina dan Rusia, semakin rumit dari sebelumnya. Selain itu kemungkinan untuk kembali menerapkan sanksi multilateral, juga sudah tertutup.
Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa sebelumnya pernah mengatakan, tidak ada kemungkinan untuk membuka kembali kesepakatan nuklir Iran secara sepihak. JCPOA adalah hasil kesepakatan seluruh penandatangan dan resolusi DK PBB menegaskannya. (HS)