Pemikiran Takfiri, Sumber Utama Ekstremisme dan Terorisme
Direktur Jenderal untuk Urusan Politik dan Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, sejumlah negara di kawasan –meskipun setelah satu dekade pengalaman pahit– hingga sekarang mereka masih melanjutkan dukungan finansial dan politiknya kepada pemikiran Takfiri.
Gholamhossein Dehghani mengatakan hal itu dalam pertemuan ke-44 para Menteri Luar Negeri Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang digelar di Abidjan, ibukota Pantai Gading pada Selasa dan Rabu (11-12/7/2017).
Pada dasarnya, Dehghani menegaskan dua poin mendasar; pertama, mengingatkan kembali peran dukungan sejumlah negara di kawasan kepada terorisme, di mana pada saat yang sama mereka mengklaim memerangi terorisme.
Ia mengatakan, "... rezim Arab Saudi dalam 50 tahun lalu secara langsung telah mengalokasikan dana sebesar 87 miliar dolar untuk memproduksi dan memperbanyak pemikiran Takfiri."
Dukungan Arab Saudi kepada perluasan pemikiran Takfiri dan ekstrem bukan rahasia lagi. Banyak laporan dan dokumentasi terkait hal ini telah sering dipublikasikan.
Surat kabar The Independent baru-baru ini mengutip salah satu pemikir Inggris bernama Henry Jackson, menulis, Arab Saudi sejak dekade 1960-an telah menghabiskan jutaan dolar untuk menyebarkan ekstremisme dan Wahhabisme di Inggris, dan ada hubungan yang jelas antara organisasi-organisasi yang mempromosikan kekerasan dan penyuplai dana mereka oleh Arab Saudi.
Satu hal terbaru yang membenarkan berita tersebut adalah dokumentasi dan bukti yang dipublikasikan Qatar tentang peran dukungan dan hubungan para pangeran Arab Saudi dengan para pemimpin kelompok-kelompok teroris.
Kedutaan Besar Qatar di Amerika Serikat baru-baru ini mempublikasikan dokumen tentang dukungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kepada kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) dan al-Qaeda. Dokumen tersebut diserahkan kepada Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Menlu Qatar.
Meskipun Qatar juga termasuk dari bagian yang mendukung kelompok teroris Takfiri, namun ketegangan terbaru negara ini dengan sejumlah negara Arab terutama Arab Saudi telah mendorong Doha untuk mengungkap skandal Riyadh dan sekutunya terkait dukungannya kepada kelompok-kelompok teroris Takfiri.
Poin mendasar dan penting kedua yang ditegaskan Dirjen untuk Urusan Politik dan Keamanan Internasional Kemlu Iran adalah kritikan kepada kebungkaman Barat khususnya AS atas dukungan Arab Saudi kepada pemikiran Takfiri dikarenakan kontrak militer dan kepentingannya dengan Riyadh
Dehghani mengatakan, "Tindakan ini dilakukan ketika sejumlah negara menerima kepemimpinan AS dalam mengulang klaim-klaim tidak berdasarnya terhadap Iran dan mereka juga mengulang klaim-klaim itu di organisasi yang bertujuan untuk memperkuat solidaritas dan persatuan di antara negara-negara Muslim."
Tidak diragukan lagi bahwa ekstremisme dan terorisme adalah fenomena paling berbahaya di era sekarang ini. Namun masalah utamanya adalah peran gerakan-gerakan dan para sponsor yang mendukung kelompok-kelompok teroris itu, di mana dukungan ini telah menggerakkan roda kekerasan dan kehancuran.
Hubungan berbahaya ini terbentuk di lapisan tersembunyi, dan dirancang oleh kekuatan-kekuatan dominan di kawasan. AS dan Arab Saudi serta sejumlah negara di kawasan yang selaras dengan mereka, terutama yang sejalan dengan rezim Zionis Israel membentuk kelompok-kelompok teroris dan mendukung mereka secara rahasia dan terang-terangan demi mewujudkan peta-peta jalan buruk negara-negara itu di kawasan.
Munculnya kelompok-kelompok teroris Takfiri seperti Daesh, Boko Haram dan al-Qaeda, salah satunya disebabkan oleh kebijakan George Bush yang menyebabkan banyak manusia tidak berdosa terbunuh. Sekarang, skenario yang sama juga sedang dibuat di masa Donald Trump, Presiden AS dan Arab Saudi serta sejumlah negara lainnya. Siklus berbahaya di Timur Tengah (Asia Barat) ini telah berubah menjadi adegan petualangan militer AS.
Wakil Menteri Keuangan AS dalam pernyataan terbaru, mengungkapkan kekhawatiran atas hubungan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi dengan kelompok-kelompok ekstrem. Ia juga menyatakan kekhawatiran atas meluasnya aktivitas al-Qaeda dan Daesh di Yaman.
Pernyataan wakil Iran dalam pertemuan OKI di Abidjan pada dasarnya merupakan penjelasan ulang dari posisi Iran dan berbicara mengenai apa sebenarnya yang menjadi akar terorisme dan ekstremisme di dunia. (RA)