Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (7)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i41284-imam_khomeini_dalam_penuturan_hujjatul_islam_wal_muslimin_ali_akbar_ashtiyani_(7)
Haj Ahmad Agha beberapa hari setelah wafatnya Imam Khomeini menukil ucapan ibunya bahwa beberapa tahun yang lalu Imam Khomeini bermimpi dan menceritakan mimpi itu kepada istrinya dan mengingatkan:
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jul 19, 2017 05:46 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Haj Ahmad Agha beberapa hari setelah wafatnya Imam Khomeini menukil ucapan ibunya bahwa beberapa tahun yang lalu Imam Khomeini bermimpi dan menceritakan mimpi itu kepada istrinya dan mengingatkan:

“Selama aku masih hidup, aku tidak rela bila engkau menceritakannya kepada seseorang.

Beliau bermimpi bahwa dirinya meninggal dunia dan Imam Ali yang memandikan, mengkafani dan mensalatinya. Kemudian meletakkannya di dalam kuburan dan bertanya kepadanya, “Sekarang engkau sudah tenang?” Imam Khomeini berkata, “Di sebelah kanan saya ada sebuah batu bata dan membuat saya terganggu.” Pada saat itu Imam Ali memegang bagian kanan tubuh Imam Khomeini dan hilanglah gangguan tersebut.

Masalah ini dan masalah lainnya yang sudah disebutkan menunjukkan bahwa Imam Khomeini memohon kepada Allah untuk sampai pada derajat liqaullah.

Terkait ibadah Imam Khomeini, mungkin Anda banyak mendengarnya. Saya sendiri ketika masa-masa menjadai santri, mendapati banyak ulama. Tapi Imam Khomeini saya dapati berbeda dengan yang lainnya. Pada dasarnya harus saya katakan bahwa beliau sedemikian rupa sehingga gerakan dan diamnya senantiasa mengingatkan seseorang kepada Allah. Ucapan beliau menghidupkan ingatan dalam hati kepada Allah.

Imam Khomeini senantiasa mengatakan harus bergerak satu langkah di jalan menuntut ilmu dan pada saat itu juga harus bergerak dua langkah untuk membersihkan jiwa. Harus melangkah secara sama untuk mencari ilmu dan melangkah dua kali lipat ke depan untuk menjadi orang yang mengamalkannya. Ketawadhuan dan kekhusyuannya ketika bermunajat kepada Allah tidak bisa diceritakan. Imam Khomeini tidak memprioritaskan pekerjaan apapun dari mengerjakan salat di awal waktu. Karakter beliau yang sangat tinggi ini sejak masa remaja dan masa menjadi santri terkenal di kalangan orang-orang yang mengenalnya.

Saya mendengar dari orang-orang dekat Imam Khomeini bahwa doa dan munajat beliau selalu dibarengi dengan tangisan. Satu-satunya orang yang tidak mau berdamai [dengan musuh] di masa kontemporer, sedemikian rupa hadir di hadapan Allah sehingga mengingatkan seseorang pada Imam Ali as saat duri dicabut dari kakinya ketika mengerjakan salat, sementara beliau tidak mengetahuinya.

Menurut riwayat orang-orang dekatnya, untuk bulan-bulan tertentu seperti bulan Ramadhan, Imam Khomeini memiliki acara khusus. Di bulan mulia ini beliau tidak membaca syair. Tidak mengumandangkannya dan juga tidak mendengarkannya. Pada dasarnya beliau mewujudkan perubahan khusus sesuai dengan bulan penuh berkah ini. Bulan ini sepenuhnya digunakan untuk membaca al-Quran dan memenuhinya dengan amalan-amalan mustahab yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.

Masyarakat yang mulia telah menyaksikan salat tahajjudnya Imam Khomeini di rumah sakit dan hari-hari terakhir kehidupannya yang penuh berkah dari tv IRIB dan melihat buku doa Mafatih dan al-Quran di sisi tempat tidurnya dalam kondisi jasmani beliau lemah. Kalian juga menyaksikan bagaimana Imam Khomeini mengerjakan salatnya dengan ikhlas dan kehadiran hati sementara selang infus ada di tangannya.

Imam Khomeini benar-benar penuh kasih sayang. Sebagai contoh, beliau sangat akrab dengan anak Haj Ahmad Agha dan berjam-jam bermain dengannya.

Suatu waktu saya pergi ke Mashad untuk berziarah ke makam Imam ke delapan [Imam Musa Ridha as] bersama sebagian teman-teman. Ali, anaknya Haj Ahmad Agha juga bersama kami. Ketika kami menelpon dari Mashad ke Tehran, Imam Khomeini yang biasanya tidak berbicara dengan seseorang melalui telpon, saat itu meminta untuk berbicara dengan Ali. Pada saat itu juga beliau mengetahui kalau Ali sakit dan berpesan agar menjaganya.

Sekarang saya akan mengisyaratkan tentang jiwa Imam Khomeini yang penuh kasih sayang. Saya telah lama menderita sakit sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya. Saya terpaksa harus pergi keluar negeri untuk berobat. Pagi sebelum berangkat, saya menemui Imam Khomeini. Imam siap bertemu masyarakat secara umum di huseiniyeh Jamaran. Di ruangan Imam Khomeini ada Haj Ahmad Agha, juga Agha Kaffashzadeh salah seorang sesepuh dan dihormati Imam Khomeini. Imam Khomeini yang mengetahui kondisi saya, beliau memegang tangan saya dan menggenggamnya kuat-kuat. Kemudian menghadap ke arah Agha Kaffashzadeh dan berkata:

“Beliau adalah sahabatku yang mulia. Berusahalah jangan sampai terjadi masalah dalam pengobatannya.”

Kemudian beliau mendoakan saya di sisi telinga saya dan keluar menuju balkon huseiniyeh untuk bertemu masyarakat. Imam Khomeini memiliki ciri khas istimewa dan itu adalah sikapnya yang penuh kasih sayang sehingga membuat orang-orang sekitarnya tertarik kepadanya dan memang hati beliau penuh kasih sayang.

---

Setiap bulan saya pergi ke Qom untuk membagikan uang bulanan Imam Khomeini kepada para pelajar agama [santri]. Biasanya safar ini berlangsung selama dua atau tiga hari. Terkadang bisa lebih lama dan Imam Khomeini menanyakan kabar saya melalui Haj Ahmad Agha dan menanyakan sebab keterlambatan pulang saya.

Imam Khomeini sangat perhatian pada perbuatan dan perilaku para pegawai kantornya. Bapak-bapak yang terhormat yang semuanya adalah para ulama juga perhatian pada ketelitian dan perhatian Imam Khomeini dan berusaha memisahkan tanggung jawab yang dimilikinya di luar kantor dengan pekerjaan kantor.

---

Sekali waktu saya memutuskan untuk ikut menjadi kandidat Majlis Syura Islami. Setelah daftar dan memenuhi yang diperlukannya, saya pergi ke Ashtiyan dan sibuk urusan kampanye. Dari pihak staf pemilu yang telah dibentuk, dicetak stiker saya dan ada fotonya Imam Khomeini juga. Tujuannya akan ditempelkan di berbagai kota. Tentunya, berdasarkan undang-undang hal ini tidak masalah. Setelah itu, Haj Ahmad Agha menyampaikan ucapan Imam Khomeini bahw beliau mengatakan:

“Mengapa Anda membawa Agha Boroujerdi yang ada kaitannya dengan Bait [rumah Imam Khomeini] ke Ashtiyan untuk ceramah?”

Harus saya sampaikan bahwa Agha Boroujerdi adalah menantunya Imam Khomeini. Saya katakan kepada Haj Ahmad Agha, “Sampaikan salam saya kepada Imam dan katakan bahwa saya tidak melakukan hal yang salah. Bahkan saya hanya menggunakan foto saya bersama Imam saja dalam bentu poster untuk kampanye dan ini juga tidak bertentangan dengan undang-undang pemilu. Selain itu kaset Agha Boroujerdi juga ada dan bila Anda mengizinkan, maka akan saya kirim supaya jelas bahwa dia tidak berbicara untuk saya dan untuk terpilihnya saya. Dengan demikian, bila Imam Khomeini khawatir, maka saya mohon agar Anda menentukan sebuah delegasi untuk melakukan penelitian dan hasilnya disampaikan kepada Imam.”

Pada hakikatnya adalah ada sebuah surat yang ditulis kepada Imam dengan niat buruk. Dalam surat tersebut ingin menunjukkan sesuatu di luar kenyataan bahwa saya sedang menyalahgunakan keterkaitan saya dengan kantor Imam atau persahabatan saya dengan orang-orang terdekat Pemimpin Revolusi.

Pemilu telah dilaksanakan dengan baik dan saya tidak mendapatkan suara cukup untuk masuk ke Majlis Syura Islami. Setelah itu, ketika saya ingin bertemu Imam Khomeini, pertama saya membayangkan bahwa Imam Khomeini sampai saat ini masih memikirkan surat tersebut. Tapi setelah pandangan saya tertuju pada wajah Imam, saya menyaksikan bahwa beliau memandang saya dengan senyuman dan wajah yang ceria. Dengan ramah beliau bertanya kepada saya:

“Bagaimana pemilunya?”

Saya katakan, “Pemilu sangat bagus, tapi saya tidak mendapatkan suara [cukup].”

Setelah beberapa waktu saya mendengar dari Haj Ahmad Agha bahwa Imam sangat gembira atas jawaban saya dan kebenaran ucapan-ucapan saya. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh