Ghasemi: Menjaga Stabilitas Keamanan, Prioritas Kebijakan Luar Negeri Iran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, upaya untuk menjaga stabilitas, keamanan dan menumpas terorisme merupakan tujuan regional dari kebijakan luar negeri Iran pada periode baru ini.
Bahram Ghasemi mengatakan hal itu dalam jumpa pers di hadapan wartawan dari dalam dan luar negeri di Tehran, ibukota Iran, Senin (21/8/2017).
Pernyataan Ghasemi tersebut dilontarkan ketika ia menjawab pertanyaan wartawan IRIB mengenai prioritas kebijakan luar negeri pemerintahan ke-12 Iran dan perluasan kerjasama dengan negara-negara di kawasan.
"Upaya untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara tetangga dan negara-negara sekitarnya, membantu menciptakan perdamaian dan stabilitas regional merupakan prioritas kebijakan luar negeri Republik Islam Iran," terangnya.
Ia menjelaskan, prioritas pemerintahan ke-12 Iran di sektor kebijakan luar negeri adalah mendukung dan menjaga perjanjian nuklir (JCPOA) dan prestasi-prestasinya yang harus ditindaklanjuti dengan berbagai jalan dan cara.
Jubir Kemlu Iran menegaskan, JCPOA merupakan kesepakatan internasional dan banyak negara dunia juga mendukung kesepakatan ini, oleh karena itu, prestasi-prestasi dari konsensus luas tersebut harus dijaga.
Ghasemi lebih lanjut menyinggung kunjungan Mayor Jenderal Mohammad Hossein Bagheri, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran ke Turki dan pertemuannya dengan sejumlah pejabat tinggi negara ini.
"Kunjungan ini merupakan sebuah lompatan dan penyempurna proses hubungan antara Republik Islam Iran dan Turki," jelasnya.
Ia juga menyinggung hubungan antara Iran dan Arab Saudi dan apakah dalam pemerintah ke-12 Iran mendatang akan tercipta perubahan dalam hubungannya dengan Riyadh atau tidak.
"Para pejabat Arab Saudi harus menganalisa dengan lebih realistis tentang situasi di kawasan," ujarnya.
Mengenai perundingan Astana mendatang untuk menyelesaikan krisisi Suriah, Jubir Kemlu Iran menuturkan, pertemuan keenam di Astana akan diselenggarakan secepatnya.
Ia menyinggung pengaruh dari perundingan-perundingan Astana terhadap transformasi krisis Suriah, di mana perundingan ini tidak memiliki alternatif lain.
"Kerjasama tiga negara; Republik Islam Iran, Rusia dan Turki dalam kerangka perundingan Astana tentang Suriah berlanjut dan langkah-langkah yang hingga sekarang telah diambil dalam pertemuan ini dijadikan sebagai sarana efektif dan efisien untuk membantu penyelesaikan krisis Suriah," tuturnya.
Di bagian lain pernyataannya, Ghasemi menyinggung tuduhan sejumlah media Kuwait tentang hubungan Kedutaan Besar Iran di negara ini dengan kelompok al-Abdali dan klaim larinya anggota kelompok ini ke Iran atau menggelar pertemuan di Kedubes Iran di Kuwait.
"Ini bukan pertama kalinya media Kuwait mempublikasikan berita bohong, palsu dan tidak relevan yang anti-Republik Islam Iran. Di masa lalu, mereka juga melontarkan klaim-klaim palsu bahwa anggota kelompok tersebut melarikan diri ke Republik Islam," pungkasnya. (RA)