Fathimah Zahra as Sebagai Pelipur Lara Rasulullah Saw; Pembela Hak Wilayah
https://parstoday.ir/id/news/iran-i45453-fathimah_zahra_as_sebagai_pelipur_lara_rasulullah_saw_pembela_hak_wilayah
Hadis dari sumber pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Fathimah as,
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Okt 06, 2017 09:16 Asia/Jakarta
  • Rahbar Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei
    Rahbar Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei

Hadis dari sumber pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Fathimah as,

“Ya Fathimah, innani lam aghni anka minallahi syaian, yakni wahai fathimah! Aku tidak bisa membuatmu tidak membutuhkan sesuatu di sisi Allah.” Yakni engkau harus memikirkan dirimu sendiri, dan dia sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya yang pendek memikirkan dirinya. Kalian lihat, bagaimana beliau menjalani hidupnya. Sebelum menikah, sebagai seorang anak perempuan, beliau memperlakukan ayahnya yang sedemikian agung itu sehingga mendapatkan gelar ummu abiha, ibu ayahnya. Di masa itu, nabi yang penuh rahmat dan cahaya, pencipta dunia baru dan pemimpin serta komandan besar revolusi dunia; - sebuah revolusi yang harus tetap ada selamanya - dalam kondisi mengibarkan bendar Islam. Sia-sia bila tidak mau menyebut ummu abiha; beliau disebut dengan julukan ini karena pengabdian, kerja dan perjuangan sertya usahanya. Beliau dengan segala kesulitannya, berada di sisi ayah dan sebagai pelipur laranya baik ketika di Mekkah, ketika di Sye’eb Abu Thalib, maupun ketika ibunya; Khadijah meninggal dunia, dan Rasulullah Saw ditinggalkan sendirian. Hati Rasulullah hancur dengan dua kejadian yang tidak jaraknya tidak lama; wafatnya Khadijah dan wafatnya Abu Thalib. Dalam jarang yang pendek, dua sosok ini meninggalkan Rasulullah dan Rasulullah merasa sendirian. Pada hari-hari itu Fathimah Zahra tumbuh membesar dan menghilangkan debu-debu kesedihan Rasulullah Saw dari wajahnya dengan tangannya yang mungil. Ummu abiha sebagai pelipur lara Rasulullah Saw. Julukan ini bersumber dari hari-hari itu. Kalian lihat, betapa besarnya lautan kepribadian dan perjuangan ini! Kemudian sampai pada masa Islam. Kemudian sampai pada pernikahan dengan Ali bin Abi Thalib as. Yaitu Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebuah bukti sempurna seorang relawan revolusi yang penuh pengorbanan.

---

Amirul Mukminin as tidak menyisahkan modal sama sekali untuk dirinya sendiri. Selama sepuluh tahun itu, sepuluh tahun kehidupan Rasulullah Saw, Amirul Mukminin as melakukan segala pekerjaan demi Islam. Bila kalian melihat bahwa Fathimah Zahra as dan Amirul Mukminin as serta anak-anaknya kelaparan, sebabnya ya ini. Kalau tidak, pemuda ini bila memikirkan untuk mencari keuntungan, maka beliau bisa mencari keuntungan lebih dari setiap pencari keuntungan. Inilah Ali yang kemudian di masa tua menggali sumur; sumur yang bak lehernya onta, air keluar darinya. Kemudian duduk menulis surat waqaf sumur, sementara tangan dan wajahnya masih dipenuhi oleh debu karena penggalian. Beliau banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti ini. Betapa banyak kebun kurma yang disuburkannya. Mengapa Amirul Mukminin as di masa muda harus kelaparan? Disebutkan dalam riwayat bahwa Fathimah Zahra as pergi menemui Rasulullah Saw. Sedemikian laparnya, sehingga Rasulullah Saw menyaksikan kepucatan wajahnya karena kelaparan. Hari Rasulullah Saw trenyuh dan mendoakan putrinya. Semua usaha Amirul Mukminin as adalah di jalan Allah dan untuk kemajuan Islam. Beliau tidak bekerja untuk dirinya sendiri. Ini adalah bukti sempurna seorang relawan. Dari sekian banyak peminang, Fathimah Zahra as telah memilih pemuda suci yang memberikan segala yang dimilikinya di jalan Allah yang senantiasa ada di medan perang ini. Bukan sebuah candaan! Putri seorang pemimpin besar Islam dan penguasa yang kuat zaman itu. Punya peminang sebanyak itu, di antara para peminang itu, ada yang kaya, punya posisi. Tapi Allah telah memilih Ali untuk Fathimah as dan Fathimah Zahra juga ridha dengan pilihan ilahi  dan senang dengan pilihan itu. Kemudian hidup bersama Amirul Mukminin as dimana beliau benar-benar ridha dengannya. Kata-kata yang disampaikan kepada Amirul Mukminin di akhir usianya merupakan saksi dan bukti makna ini. Saya tidak ingin menyebutkan kata-kata yang menyedihkan itu di hari raya ini. Beliau bersabar, mendidik anak-anaknya, membela hak wilayah dengan jiwanya, beliau harus menanggung kesakitan dan siksaan di jalannya, kemudian dengan tangan terbuka pergi menyambut syahadah besar itu. (dalam pertemuan bersama para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw dalam rangka ulang tahun kelahiran Sayidah Zahra as, 9/3/1373)

Interaksi Dua Orang Besar Keluar Dari Sisi Pikiran Manusia

Kehidupan Fathimah Zahra as, karena kebesaran dan keajaibannya yang ada di dalamnya bak legenda sejarah. Pada hakikatnya mata kita tidak mampu melihat posisi spiritual beliau - “Anda besar dan tidak bisa dilihat dalam cermin yang kecil” - kita tidak bisa membayangkan ketinggian dan keagungannya meski dengan mata pikiran yang pendek ini. Namun sangat besar, bila mata kita bisa melihatnya meski hanya sekedarnya. Yakni kehidupan yang pendek itu baik di masa remaja, maupun di masa menikah dan berumah tangga, begitu bermakna. Memangnya setiap orang bisa menjadi istrinya Amirul Mukminin? Keagungan Ali sebagaimana gunung-gunung besar bisa dicairkan di hadapannya, sebagai istri Amirul Mukminin juga sebuah tanda kebesaran. Namun kalian melihat bagaimana interaksi suami istri ini dan dua orang besar yang keluar dari sisi pikiran manusia. Bagaimana mereka berdua berbicara. Bagaimana mereka menjalani hidup. Bagaimana kehidupan yang bisa menjadi teladan dan contoh ini memenej sejarah. Bagaimana masing-masing dari keduanya berperan? Semua ini bukan kebetulan. Peran suaminya di masa perjuangan dan peperangan adalah menjadi orang pertama dan pembuka jalan derajat pertama dan penyelesai masalah yang pertama dan yang terakhir. Di masa pasca wafatnya Rasulullah, peran ini berubah. Tetap ada keberanian itu, kekuatan itu dan keagungan itu. Namun muncul dalam peran lainnya. Memangnya bisa setiap orang bertahan mengahadapi kejadian besar sepeninggal Rasulullah itu? Namun Imam Ali bertahan menghadapinya dan ini sama sebagaimana keberanian di Khaibar dan kekuatan di Uhud dan disini membutuhkan kesabaran. Kemudian masa khilafah di mana setiap kata-katanya, dan langkah-langkahnya meninggalkan bekas dalam sejarah Islam dan sejarah manusia. Maka peran yang sesuai dengan sosok pribadi ini adalah peran Fathimah Zahra as. Bila kemazluman besar dan menyedihkan dalam sejarahnya itu tidak ditunjukkan, maka hakikat Islam yang kemudian menjadi jelas, tidak akan pernah jelas. Semua ini bukan kebetulan. Semua ini sudah dirancang dengan menejemen ilahi. Hanya saja orang-orang yang dipilih untuk kancah ini dan peran yang sulit ini adalah orang-orang yang potensinya adalah potensi pilihan Allah. (dalam pertemuan bersama para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw dalam rangka ulang tahun kelahiran Sayidah Zahra as, 19/7/1377)

Bertahan Menghadapi Kesakitan Dan Sulitnya Perjuangan

Ketika kalian melihat, dari sisi kehidupan perjuangan beliau adalah seorang yang tidak kenal lelah. Seorang pejuang selamanya, menghadapi segala kesakitan dan kesulitan dan melanjutkan perjuangan. Fathimah Zahra adalah orang seperti ini. (seminar peran wanita di tengah-tengah masyarakat, di universitas Tarbiat Moallem, 10/12/1364)

Membela Kebenaran Sampai Akhir Hidup

Dari sisi keberanian dan kekuatan jiwa, setelah wafatnya Rasulullah Saw wanita ini pergi sendiri untuk menuntut hak yang menurut keyakinannya adalah milik suaminya yakni milih pengganti Rasulullah Saw. Bila bukan suaminya, beliau tetap melakukan hal ini. Dengan segala bentuk perjuangan beliau melakukan perjuangan ini. Meski harus menyerahkan jiwanya dan pada akhirnya juga beliau menyerahkan jiwanya untuk hal ini. (dalam pertemuan dengan para wanita negara, 21/12/1363) (Emi Nur Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Uzhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami.