Amir-Abdollahian: Eropa harus Menjaga Jarak dari Kebijakan Keliru AS
-
Hossein Amir-Abdollahian, Asisten Ketua Parlemen RII (kanan).
Penasihat Khusus Ketua Parlemen Republik Islam Iran untuk Urusan Internasional mengatakan, negara-negara Eropa bisa membantu menciptakan stabilitas dan mencegah kekerasan dan ekstremisme dengan cara mengambil jarak dari kebijakan keliru Amerika Serikat.
Hossein Amir-Abdollahian mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan Massimo D'Alema, mantan Perdana Menteri Italia di Tehran, ibukota Iran, Rabu (10/1/2018).
"Dukungan terbuka dan terselubung kepada kelompok-kelompok teroris dan pendekatan keliru AS terhadap transformasi regional telah menyebabkan kelanjutan instabilitas di Timur Tengah dan Afrika Utara yang meluas ke kawasan lainnya," imbuhnya.
Ia menjelaskan, dalam dekade terakhir, sejumlah negara di kawasan alih-alih menjalin kerjasama regional, namun justru terdorong oleh AS dan rezim Zionis Israel untuk menciptakan perang.
Amir-Abdollahian lebih lanjut menekankan peran penting negara-negara Uni Eropa termasuk Italia dalam proses perdamaian di Timur Tengah.
"Banyak kekhawatiran di kawasan, dimana dasar untuk menciptakan stabilitas dan ketenteraman di kawasan ini bisa disiapkan melalui dialog," pungkasnya.
Sementara itu, Mantan PM Italia dalam pertemuan itu menyebut Iran sebagai sebuah negara penting di kawasan.
"Penciptaan perdamaian dan stabilitas di kawasan tanpa melibatkan Republik Islam Iran adalah tidak mungkin, oleh karena itu peran sentral negara ini harus selalu dipertimbangkan," kata Massimo D'Alema.
D'Alema lebih lanjut mengkritik kebijakan pemerintah AS dalam isu-isu regional dan internasinal. Ia mengatakan, pendekatan AS dalam berbagai isu internasional tidak akan membantu perdamaian dan stabilitas global.
Mantan PM Italia itu berkunjung ke Iran untuk berpartisipasi dalam Konferensi Keamanan Tehran yang telah digelar pada hari Senin. (RA)