Inilah Bagian Pidato Menlu Iran di Hadapan Anggota Parlemen Inggris
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menjelaskan sikap dan pandangan negaranya tentang persoalan internal, regional dan internasional di hadapan anggota-anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi Inggris.
Mohammad Javad Zarif menjelaskan hal itu dalam pidatonya di hadapan anggota-anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi Inggris pada Kamis (4/2/2016) malam.
Ia mengatakan, Barat tidak mencapai satupun dari keinginan-keinginannya dalam mengembargo Iran.
"Jika tekanan dan sanksi memiliki hasil bagi Barat, maka Amerika Serikat tidak akan datang ke meja perundingan," imbuhnya.
Zarif lebih lanjut menjelaskan sikap dan posisi Iran terhadap krisis Suriah.
Ia menegaskan, kehadiran penasihat (militer) Iran di Suriah atas undangan pemerintah negara ini dan Republik Islam tidak memiliki pasukan di Suriah, di mana hal ini bertentangan dengan klaim-klaim para pejabat AS.
"Republik Islam Iran sejak awal krisis Suriah telah mengumumkan bahwa gencatan senjata harus segera dilakukan dan dialog Suriah-Suriah harus dimulai," tegasnya.
Menlu Iran juga menyinggung eksekusi mati di negaranya. Orang-orang yang dihukum mati di Republik Islam Iran, kata Zarif, adalah anggota-anggota sindikat bersenjata penyelundupan narkoba, di mana sekitar 85 persen narkoba yang seharusnya mencapai negara-negara Barat telah disita di Iran.
"Tak seorang pun dieksekusi mati di Iran karena pemikiran dan ide-idenya," tegasnya.
Menurutnya, sindikat-sindikat bersenjata penyelundupan narkoba biasaya adalah para pendukung kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda dan Taliban.
"Republik Islam Iran siap untuk berdialog dengan pemerintah dan lembaga-lembaga Barat tentang hukuman mati dan hal-hal terkait dengan Hak Asasi Manusia," ujarnya.
Zarif menuturkan, sejumlah pemerintah Barat memiliki hubungan bersahabat dengan pemerintah-pemerintah di kawasan yang dalam sehari saja mengeksekusi puluhan orang.
Di bagian lain pidatonya, Zarif menyinggung undang-undang baru Kongres AS terkait pembatasan visa bagi warga Iran yang ingin berkunjung ke Amerika.
"Tak satupun dari operasi teroris, khususnya peristiwa 11 September 2001 dan setelahnya, yang di situ ada orang Iran yang terlibat, namun AS mengambil perilaku tidak benar ini terhadap warga Iran," pungkasnya. (IRIB Indonesia/RA)