Sikap Tegas Iran Soal Program Pertahanan Rudal
https://parstoday.ir/id/news/iran-i51129-sikap_tegas_iran_soal_program_pertahanan_rudal
Presiden Iran Hassan Rouhani pada sebuah konferensi pers dengan wartawan lokal dan asing di Tehran, Selasa (6/2/2018) sore, menjelaskan posisi Republik Islam Iran mengenai isu-isu regional dan internasional.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Feb 07, 2018 12:06 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran Hassan Rouhani menggelar konferensi pers bersama wartawan lokal dan asing di Tehran, Selasa (6/2/2018) sore.
    Presiden Iran Hassan Rouhani menggelar konferensi pers bersama wartawan lokal dan asing di Tehran, Selasa (6/2/2018) sore.

Presiden Iran Hassan Rouhani pada sebuah konferensi pers dengan wartawan lokal dan asing di Tehran, Selasa (6/2/2018) sore, menjelaskan posisi Republik Islam Iran mengenai isu-isu regional dan internasional.

Rouhani menolak seruan untuk menegosiasikan ulang kesepakatan nuklir Iran, dan menegaskan Tehran tidak akan menerima perubahan apapun terhadap teks Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

"Iran tidak akan menjadi pihak pertama yang keluar dari JCPOA," kata Rouhani ketika menjawab Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan keluar dari kesepakatan nuklir jika tidak ada perubahan di dalamnya.

Konferensi pers Presiden Iran, Hassan Rouhani

"Republik Islam akan mempertahankan JCPOA selama kepentingannya terpenuhi, sementara keputusan Trump untuk keluar atau tidak, tidak akan berpengaruh pada keputusan Tehran," tegas Rouhani.   

Menurut presiden Iran, JCPOA adalah sebuah kesepakatan multilateral dan pelanggaran terhadap perjanjian ini akan mendiskreditkan Washington.

Pada kesempatan itu, seorang jurnalis televisi NBC AS meminta komentar Rouhani tentang tuntutan Trump agar merundingkan kembali JCPOA dan memasukkan program rudal Iran di dalamnya.

Dia menjelaskan bahwa Iran tidak mengejar senjata pemusnah massal, tidak seperti AS dan beberapa negara lain, di mana mereka mengembangkan senjata pemusnah massal dan senjata yang paling mematikan. Terkait senjata konvensional untuk tujuan pertahanan, Iran akan menyiapkannya dan tidak akan bernegosiasi dengan siapa pun dalam hal ini.

Pada 12 Januari 2018, Presiden AS memperpanjang penangguhan sanksi nuklir Iran untuk ketiga kalinya, tapi mengajukan sejumlah syarat, termasuk merevisi kesepakatan, memberi akses ke situs militer, dan memperlemah program rudal Iran sehingga AS akan setia bersama JCPOA.

"Jika Kongres dan Eropa tidak memenuhi persyaratan ini, maka penangguhan sanksi tidak akan diperpanjang pada tempo berikutnya dan AS keluar dari kesepakatan nuklir," tandasnya.

Selama kampanye pilpres AS, Trump sudah mulai menyerang JCPOA dan mengancam akan merobek kesepakatan tersebut pada hari pertama berkantor di Gedung Putih.

Iran memperingatkan bahwa jika Trump merobek JCPOA, pihaknya akan membakarnya. Sikap tegas ini membuat Trump dan tim penasehatnya kebingungan, dan Gedung Putih sampai saat ini gagal mendorong perubahan dalam kesepakatan nuklir.

Pada dasarnya, Trump ingin memaksa Tehran untuk mengubah kebijakan luar negerinya di Timur Tengah, namun Iran telah berubah menjadi kekuatan utama di kawasan dan memainkan peran efektif dalam perimbangan regional. Jadi, ancaman Trump untuk keluar dari JCPOA dan memperlemah kemampuan pertahanan Iran, tidak akan membuat Amerika, rezim Zionis, dan Arab Saudi mencapai tujuannya.

Posisi Iran di Timur Tengah tidak akan bisa dirusak oleh pengaruh lobi Zionis dan retorika Trump. Kekuatan regional Iran berbasis dukungan rakyat dan sikap independen.

Jadi, tuntutan Trump untuk merevisi kesepakatan nuklir dan merundingkan kemampuan rudal Iran adalah pekerjaan yang sia-sia. Kemampuan rudal dan kekuatan pertahanan konvensional Iran, tidak dapat dinegosiasikan dan Tehran tidak akan terperangkap dalam sandiwara politik Trump dan para pendukungnya. (RM)