Keinginan Eropa Pertahankan JCPOA
https://parstoday.ir/id/news/iran-i51397-keinginan_eropa_pertahankan_jcpoa
Perwakilan Uni Eropa dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di sidang bersama mereka ke-6 di Wina menekankan dukungan terhadap Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Feb 11, 2018 10:14 Asia/Jakarta

Perwakilan Uni Eropa dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di sidang bersama mereka ke-6 di Wina menekankan dukungan terhadap Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Berdasarkan statemen yang dirilis, wakil tinggi Uni Eropa sebagai koordinator Komisi Bersama JCPOA akan terus menjalin kontak dengan IAEA terkait kelanjutan implementasi kesepakatan nuklir ini. Sementara itu, IAEA sampai saat ini telah sembilan kali membenarkan kepatuhan Republik Islam Iran terhadap JCPOA.

Uni Eropa dan IAEA

Di sisi lain, sikap pemerintah Donald Trump terkait JCPOA telah menciptakan kondisi sensitif bagi kesepakatan penting internasional ini. Presiden AS, Donald Trump saat menangguhkan sanksi nuklir terhadap Iran untuk ketiga kalinya pada 12 Januari 2018, juga menetapkan syarat untuk tetap berada di kesepakatan nuklir ini. Ia bahkan memperingatkan jika Kongres dan Eropa tidak mencapai kesepakatan untuk merevisi JCPOA, maka Washington akan keluar dari kesepakatan nuklir tersebut. Di antara syarat Trump adalah memasukkan isu rudal dan peran Iran di kawasan di perundingan.

Ultimatum Trump untuk merevisi kesepakatan nuklir Iran hingga pertengahan bulan Mei 2018 mendorong JCPOA semakin mendapat perhatian kalangan ilmuwan dan media. Bersamaan dengan ultimatum ini, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mulai menggelar lobi padat dengan sejawatnya dari Inggris, Perancis dan Jerman untuk merevisi JCPOA.

Di berbagai media disebutkan Eropa dan AS di kasus ini telah membetuk tim kerja untuk mencapai titik persamaan terkait JCPOA. Sikap keras kepala AS untuk merevisi JCPOA menuai penentangan keras dari Iran. Deputi menlu Iran bidang politik, Sayid Abbas Araqchi menjelaskan, "Tak penting bagi Iran seberapa besar kerja sama Eropa dan Amerika atau mereka membentuk tim kerja. Yang penting adalah JCPA sebuah kesepakatan pasti dan final serta tidak ada peluang untuk menggelar perundingan kembali atau merevisinya."

Trump dan JCPOA

Selain Iran, Rusia dan Cina juga berulang kali menekankan bahwa JCPOA tidak dapat direvisi. Duta besar Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vasily Nebenzya hari Jumat (9/2) menekankan, kesepakatan nuklir Iran sampai tingkat tertentu seimbang dalam kepentingan dan sebuah kesepakatan yang tidak dapat dimodifikasi atau direformasi.

Amerika dengan berbagai metode tengah merusak atmosfer konstruktif yang dibutuhkan bagi implementasi penuh JCPOA. Pendekatan pemerintah Trump adalah membuat konsesi ekonomi JCPOA bagi Iran mencapai titik nol. Berlanjutnya pendekatan ini serta potensi Eropa mengiringi kebijakan Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran di sektor rudal dan peran regional Tehran, secara praktis sama halnya dengan kematian JCPOA.

Eskalasi atmosfer keraguan merupakan kebijakan yang tempuh Trump saat ini meski terbukti kepatuan Iran terhadap seluruh janjinya di JCPOA, sehingga para investor asing tidak berminat menanam modalnya di Iran. Di kondisi seperti ini, Presiden Iran Hassan Rouhani pekan lalu menekankan, "Selama kepentingan Republik Islam Iran terjamin di JCPOA, maka Tehran akan tetap bergabung dengan kesepakatan ini dan keputusan AS untuk tetap atau keluar dari JCPOA tidak akan berpengaruh pada keputusan Tehran."

Kesepakatan Nuklir Iran dan Kelompok 5+1

Sementara itu, kebijakan yang diumumkan Eropa adalah penekanan untuk tetap di JCPOA dan menjaga kesepakatan nuklir ini. Namun potensi sikap Eropa mengiringi pendekatan Amerika untuk memasukkan isu-isu parsial ke JCPOA serta perundingan terkait isu tersebut, tidak akan membantu upaya pelestarian JCPOA.

Opsi lain adalah negara-negara Eropa mengambil kebijakan independen terkait JCPOA dan hal ini selain dapat mengucilkan Amerika di tingkat dunia, juga dapat berkerja sama dengan Iran di luar koridor Gedung Putih serta dapat menikmati bersama manfaat JCPOA.

Dalam hal ini, Denis Chaibi mengungkapkan, jika Amerika keluar dari JCPOA dan menerapkan kembali sanksi anti Irannya, Uni Eropa juga berpotensi menerapkan undang-undang yang ditujukan untuk melindungi perusahaan Eropa yang bekerja sama dengan Iran. (MF)