Rahbar: Sunni-Syiah Saling Topang di Saat-saat Kritis
-
Ayatullah Khamenei
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai perlawanan Iran atas "kebodohan modern", di tengah semua sanksi dan konspirasi militer serta budaya musuh, adalah berkat kekuatan iman dan pengorbanan rakyat.
Penjelasan Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan panitia kongres syuhada Provinsi Sistan-Baluchestan yang diselenggarakan tanggal 5 Februari 2018 lalu, dipublikasikan hari ini, Selasa (13/2) di lokasi kongres yang bertempat di Zahedan, tenggara Iran.
Rahbar mengatakan, dengan segenap potensi yang dimilikinya, di era Qajar dan Pahlevi, rakyat Sistan-Baluchestan diabaikan dan hal ini menyebabkan terjadinya praktik diskriminasi terhadap mereka.
Menurut Ayatullah Khamenei, Sistan-Baluchestan, sebagaimana juga Provinsi Kurdistan dan Golestan, adalah wujud persatuan Islam dan teladan dunia tentang kerja sama serta hidup rukun dan bersahabat antara Sunni dan Syiah.
Ia juga menekankan kewaspadaan dalam menghadapi upaya pecah belah yang dilakukan musuh dan menjelaskan, gugurnya seorang remaja Sunni di masa perang pertahanan suci (agresi militer Irak ke Iran) atau gugurnya seorang ulama Ahlu Sunnah karena membela Revolusi Islam, di tangan kelompok anti-revolusi, membuktikan persaudaraan yang kuat di antara warga Sunni dan Syiah di Iran.
Sunni dan Syiah, kata Rahbar, selalu saling menopang di berbagai situasi tersulit dan kenyataan ini harus diwujudkan dan ditampilkan dengan kerja-kerja budaya dan seni.
Ayatullah Khamenei menegaskan, manifestasi sempurna keimanan kokoh dalam rantai keimanan dan perlawanan yang sangat penting adalah para syuhada, oleh karena itu pemerintahan Islam perlu menghormati mereka. (HS)