Safavi: Membela Palestina dan Suriah, Kerangka Jihad Defensif
https://parstoday.ir/id/news/iran-i55968-safavi_membela_palestina_dan_suriah_kerangka_jihad_defensif
Asisten dan penasihat tinggi panglima tertinggi seluruh korps Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, mengatakan, berdasarkan pandangan fikih Imam Khomeini dan Pemimpin Besar Revolusi Islam, membela Palestina, Suriah, Irak dan Yaman adalah dalam kerangka jihad pertahanan (defensif).
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
May 01, 2018 04:12 Asia/Jakarta
  • Mayor Jenderal Sayid Yahya Rahim Safavi
    Mayor Jenderal Sayid Yahya Rahim Safavi

Asisten dan penasihat tinggi panglima tertinggi seluruh korps Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, mengatakan, berdasarkan pandangan fikih Imam Khomeini dan Pemimpin Besar Revolusi Islam, membela Palestina, Suriah, Irak dan Yaman adalah dalam kerangka jihad pertahanan (defensif).

Mayor Jenderal Sayid Yahya Rahim Safavi mengatakan hal itu dalam sesi dialog khusus mengenai wacana Revolusi Islam, pertahanan suci dan perlawanan dalam pemikiran Imam Khomeini, yang digelar pada hari Senin (30/4/2018).

 

"Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini menilai kondisi jihad defensif sebagai hal yang wajib bagi semua umat Islam, sebab, hal ini menyebabkan terjaganya independensi dan kemandirian negara-negara," kata Rahim Safavi.

 

Dia menambahkan, Imam Khomeini dalam sistem pemikirannya meyakini tentang strategi pertahanan komprehensif politik, budaya, ekonomi dan pertahanan.

 

"Hari ini, kekuatan pengaruh politik, budaya dan spiritual telah menyebar dari Republik Islam Iran ke Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman dan mempengaruhi bangsa-bangsa, dan juga meliputi bangsa-bangsa dari negara-negara lain seperti Venezuela," ujarnya .

 

Penasihat Tinggi Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei itu menjelaskan, dengan menularkan pengalaman sukses penggunaan kekuatan rakyat, yaitu mobilisasi orang-orang tertindas ke Irak dan Suriah, kekuatan ini mampu melawan kelompok-kelompok teroris takfiri dan bahkan mencapai kemenangan.

 

"Mengingat rezim Zionis (Israel) memiliki lebih dari 200 hulu ledak nuklir dan 90.000 pasukan Amerika Serikat dan 50 kapalnya hadir di kawasan, maka Republik Islam Iran memerlukan kekuatan rudal dan tidak akan mundur darinya," pungkasnya. (RA)