Rouhani: AS Tidak Patuhi Perjanjian Internasional
-
Presiden RII, Hassan Rouhani
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani mengatakan, Amerika Serikat tidak pernah komitmen dengan kewajiban-kewajibannya, dan keluarnya negara ini dari perjanjian Nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) bisa diprediksi.
Hal itu dikatakan Rouhnai dalam pernyataannya pada hari Selasa (8/5/2018) malam ketika mereaksi pengumuman Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika keluar dari JCPOA.
"Mulai sekarang, perjanjian ini akan ditindaklanjuti melalui kerja sama Republik Islam Iran dengan Rusia, Cina, Perancis, Inggris dan Jerman," ujarnya.
Menurutnya, keluarnya AS dari perjanjian internasional JCPOA bisa diprediksi sebelumnya.
"Sejarah 40 tahun Revolusi Islam dan bahkan sebelum itu membuktikan kepada kita bahwa AS selalu mengadopsi perilaku bermusuhan terhadap bangsa besar Iran dan masyarakat regional. AS tidak pernah bertindak untuk perdamaian dan stabilitas regional dan dunia," jelasnya.
Presiden Iran lebih lanjut menyinggung inkonsistensi pemerintahan Trump terhadap berbagai perjanjian internasional.
"Keputusan Trump tentang JCPOA adalah awal sebuah perang psikologis terhadap Republik Islam Iran, namun rakyat resistan negara ini tidak akan terpengaruh oleh perang urat saraf ini," ujarnya.
Rouhani menambahkan, meskipun AS tidak mematuhi kewajibannya, namun JCPOA akan berlanjut, dan kami bisa melangkah di jalur perdamaian dengan mitra-mitra lainnya, namun jika kepentingan kami dalam perjanjian ini tidak terjamin, maka kami akan mengambil keputusan-keputusan baru.
Presiden AS pada Selasa waktu setempat, mengklaim bahwa JCPOA tidak efektif dan dia menginstruksikan untuk keluar dari perjanjian internasional yang telah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB ini.
Trump juga melontarkan tuduhan tidak berdasar terhadap Iran seperti intervensi dalam urusan negara-negara di kawasan dan juga tuduhan bahwa Tehran mengejar senjata nuklir.
Uni Eropa, Perancis, Inggris, dan Jerman menyatakan penyesalan atas keputusan Trump keluar dari kesepakatan nuklir Iran.
Tidak lama setelah pengumukan Trump, Perdana Menteri rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan kepuasannya atas keputusan tersebut. (RA)