Menyimak Lawatan Zarif ke Cina Pasca Keluarnya AS dari JCPOA
-
Zarif di Cina
Menyusul Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir antara Iran dan Kelompok 5+1, atau yang dikenal dengan JCPOA, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Sabtu (12/5) malam dilaporkan bertolak ke Beijing dan melakukan lobi dengan sejawatnya dari Cina mengenai nasib kesepakatan nuklir.
Setelah melakukan perundingan di Beijing, Zarif juga akan menuju Moskow dan Brussels untuk bertemu dengan petinggi Rusia dan Uni Eropa.
Rusia, Cina dan tiga negara Eropa tidak membenarkan langkah Presiden AS Donald Trump. Sejumlah analis saat menganalisa peran tiga negara Eropa di kelompok 5+1 meyakini, Eropa berusaha menjaga element ekonomi JCPOA, namun seberapa besar yang harus dibayar dari resistensi ini, sebuah masalah yang serius dan berlanjutnya peran Eropa di kesepakatan nuklir sangat bergantung pada element ini.
Ada banyak keraguan di sikap negara-negara Eropa yang menunjukkan bahwa percaya kepada mereka tanpa adanya jaminan pasti sama halnya dengan pengulangan dari kepercayaan kepada Amerika Serikat.
Koran Der Speigel menulis, Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konfliknya dengan Amerika terkait JCPOA memperingatkan harapan melampau batas Eropa dan di pidatonya di Musnter ia mengatakan, "Jangan menunjukkan kekuatan sejati kita....Eropa tidak mampu menunjukkan dirinya sebagai kekuatan perdamaian tanpa pihak lain."
Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier dalam sebuah pidatonya mendukung pernyataan Angela Merkel dan mengatakan bahwa pemerintah Jerman tidak memiliki kemampuan untuk melindungi perusahaan negara ini dari sanksi ekonomi Amerika terhadap Republik Islam Iran.
Perancis dan Jerman masing-masing memiliki catatan tersendiri, namun kondisi Cina dan Rusia sepertinya lebih transparan, karena terlepas dari JCPOA, kedua negara ini melawan Amerika dan mereka dengan Washington tidak dapat berkumpul dalam satu barisan.
Dalam pandangan Beijing dan Moskow, peran Iran di kawasan memiliki nilai strategis. Kesepakatan nuklir juga menunjukkan bahwa Iran memilki kapasitas besar di interaksi regional dan internasional untuk menyelesaikan isu-isu global. Oleh karena itu, berdiri di samping Iran bukan saja tidak memerlukan biaya bagi kedua negara anggota tetap dewan keamanan ini, tapi juga sangat urgen untuk menjaga perdamaian, stabilitas dan keamanan bersama di tingkat regional dan internasional, karena hal ini dapat mencegah unilateralisme Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi seraya menjelaskan bahwa JCPOA akan membantu Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) menjaga perdamaian dan stabilitas regional serta menyelesaikan isu-isu penting dunia mengatakan, menjadi tugas seluruh pihak yang bertikai dan harapan bersama masyarakat global untuk mempertahankan dan melaksanakan JCPOA.
Terlepas dari isu-isu strategis keamanan, dari sudut pandang perdagangan bebas dunia, melawan sanksi sepihak Amerika juga memiliki nilai vital. Sejatinya konsensus anti Washington sama halnya dengan membela kepentingan global dan di atas isu Iran serta JCPOA.
Tehran memberikan syarat untuk tetap berada di JCPOA dan syarat tersebut adalah adanya jaminan untuk merealisasikan harapan dan kepentingan Iran di bawah kesepakatan nuklir ini. Selain itu, kemampuan ekonomi dan kapasitas ekonomi Republik Islam Iran banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelum JCPOA.
Meski demikian, meski diasumsikan bahwa jika JCPOA hanya tinggal kulitnya saja, kekuatan diplomasi menunjukkan bahwa seluruh solusi dan jalan pastinya tidak akan berhenti ke Amerika. Menurut pandangan ekonomi global tidak terbatas pada Eropa Barat dan Amerika Utara serta Amerika pastinya pecundang di JCPOA. (MF)