Mencermati Komitmen Eropa Menghadapi Unilateralisme dan Sanksi Ekstrateritorial AS
-
Eropa berusaha mempertahankan JCPOA
Republik Islam Iran menyambut keinginan Perancis untuk menghadapi unilateralisme dan undang-undang ekstra teritorial Amerika Serikat.
Sayid Abbas Araghchi, Deputi Menteri Luar Negeri Iran urusan Hukum dan Internasional dalam pertemuan hari Senin (22/10) dengan Philippe Bonnecarrere, Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Perancis-Iran di Senat Perancis dan Delphine O, Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Perancis-Iran di Majelis Nasional Perancis di Tehran menekankan masalah ini dan menambahkan, upaya-upaya yang telah dilakukan terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) harus berujung pada solusi impelementasi dan operasional.
Tahap kedua dari sanksi AS terhadap Iran dimulai dari tanggal 4 November dengan fokus pada ekspor minyak Iran. Tujuan utama Trump dari sanksi ini adalah untuk menghapus ekspor minyak Iran pada tahap ini, tetapi bukti menunjukkan bahwa tujuannya tidak mulus. Karena negara-negara Eropa bertekad untuk berdiri melawan unilateralisme Amerika Serikat.
Majalah Foreign Policy yang berafiliasi dengan Dewan Hubungan Luar Negeri AS dalam sebuah makalah yang ditulis Peter Harel, menantang hipotesis bahwa Amerika Serikat dapat memberikan tekanan berat pada ekonomi Iran dengan memotong ekspor minyak. Menurut analis majalah ini ini, hanya ada satu "kemungkinan" bahwa dengan bersikeras meraih tujuan ini dapat memperburuk kondisi rapuh pasar minyak global dan mengarah pada sikap negara-negara dunia untuk melawan Amerika Serikat.
Eropa mencoba membangun mekanisme untuk mendukung JCPOA sebelum tanggal 4 November. Pernyataan bersama dikeluarkan pada pertemuan yang diadakan bulan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di bawah kepemimpinan Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Erop dengan partisipasi menteri luar negeri Iran dan kelompok 4 + 1.
Dalam pernyataan ini, para menteri luar negeri menyambut baik proposal praktis untuk pemeliharaan dan pengembangan saluran pembayaran, terutama inisiatif untuk membentuk "mekanisme khusus" demi memfasilitasi pembayaran ekspor (termasuk minyak) dan impor Iran.
Sementara itu, Philippe Bonnecarrere, Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Perancis-Iran di Senat Perancis, menindaklanjuti sikap Uni Eropa dan dalam konferensi pers di Tehran kembali menekankan upaya Eropa untuk mempertahankan JCPOA. Pejabat Eropa ini mengatakan, kami berusaha untuk menghubungkan setidaknya satu bank Iran ke SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) sebelum 4 November. Dengan cara itu, transaksi perbankan dan moneter dengan Iran untuk barang dan jasa yang tidak dikenakan sanksi dapat tetap melanjutkan aktivitasnya.
Menemukan mekanisme untuk pertukaran perbankan dan bagaimana Iran dapat meraih kepentingannya dari JCPOA adalah suatu keharusan dan Perancis berusaha untuk mengejar jalur ini dengan menggunakan mekanisme yang mendukung. Upaya ini adalah ekspresi dari keinginan Uni Eropa untuk menghadapi unilateralisme dan undang-undang Ekstrateritorial AS, yang tentunya menguntungkan semua negara Eropa. Namun, sekalipun diakui bahwa Eropa, memiliki kemauan politik untuk mempertahankan JCPOA, tapi untuk mempertahankan JCPOA tidak cukup hanya dengan kemauan politik. Sebagaimana dikatakan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, Eropa harus siap mengeluarkan biaya, jika tidak, mungkin Iran akan mengambil "cara ketiga".
Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran bulan September lalu dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden Perancis menyatakan, bila Eropa tidak melaksanakan komitmennya, kami akan mengambil jalan ketiga dalam masalah JCPOA.