Iran Aktualita, 12 Januari 2019
https://parstoday.ir/id/news/iran-i66471-iran_aktualita_12_januari_2019
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran kepada mahasiswa Iran yang menghadiri pertemuan asosiasi mahasiswa Islam di Eropa yang berlangsung di Hamburg, Jerman.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 12, 2019 14:21 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Khamenei
    Ayatullah Khamenei

Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran kepada mahasiswa Iran yang menghadiri pertemuan asosiasi mahasiswa Islam di Eropa yang berlangsung di Hamburg, Jerman.

Pekan lalu, Pemimpin besar Revolusi Islam Iran bertemu dengan warga Qom dalam acara memperingati peristiwa 19 Day. Isu lain mengenai rencana Iran mengirim dua satelit baru ke luar angkasa yang disampaikan langsung Presiden, Hassan Rouhani baru-baru ini. Kunjungan menteri pertahanan Iran ke Venezuela, Iran mengkritik standar ganda Eropa menyikapi masalah terorisme, dan berbagai sisu penting lainnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, kehadiran para mahasiswa Iran di setiap gerakan kemajuan di dunia dan membuat negara ini mandiri dari asing merupakan jihad di jalan Allah Swt.

Ayatullah Khamenei

Ayatullah Khemenei Serukan Mahasiswa Iran Berjihad di Jalan Allah

Rahbar menyampaikan hal itu dalam sebuah pesan untuk pertemuan ke-53 Union of Islamic Student Association in Europe (UISAE) di kota Hamburg, Jerman pada Sabtu (12/1/2019).

"Para mahasiswa adalah bagian dari puncak harapan untuk masa depan Republik Islam Iran," tambahnya.

"Perlu diketahui oleh semua bahwa berkat taufik Ilahi, saat ini sebagian besar dari mahasiswa di masa lalu sedang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan besar di Republik Islam. Mereka merasakan kenikmatan mengabdi untuk kemajuan sains dan teknologi di negaranya," ungkap Ayatullah Khamenei dalam pesan yang dibacakan oleh Hujjatul Islam Javad Ejei.

Rahbar meminta mahasiswa di mana pun mereka untuk bergabung dalam barisan para pengabdi dan memuat Republik Islam sepenuhnya mandiri dari asing, dan ketika gerakan ini dilakukan dengan tulus dan niat untuk Allah, maka ia akan terhitung jihad.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Rahbar: Iran akan Buat AS Jadi Pecundang Sejarah !

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan bahwa bangsa Iran akan menjadikan AS sebagai pecundang sejarah dengan mematahkan seluruh plotnya, terutama sanksi terbaru Washington terhadap negara ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Ayatullah Uzma Sayid Ali Khemenei hari ini, Rabu (9/1/2019)  dalam pidato di hadapan sejumlah warga provinsi Qom yang datang ke Tehran.

Dalam pertemuan memperingati peristiwa bersejarah perlawanan warga Qom melawan rezim Shah yang dikenal dengan peristiwa Heroik "19 Day", yang terjadi pada 9 Januari 1978, Rahbar mengatakan, "AS dengan bangga mengatakan bahwa sanksi terhadap bangsa Iran saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tapi kali ini bangsa Iran akan mematahkannya hingga menjadi momentum yang tidak pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya,".

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya menyinggung slogan "Mampus AS" yang bergema tidak hanya di Iran, tapi juga di berbagai negara dunia.

"Negara imperialis berupaya menakuti bangsa-bangsa dunia dengan Iranofobia, Islamofobia maupun sentimen anti Syiah. Tapi bangsa-bangsa dunia secara subtantif tidak memusuhi Iran Islami, sehingga ketika fakta disodorkan dengan jelas, mereka akan mendukungnya," papar Rahbar.

Mengenai pemicu permusuhan terhadap Iran yang dilancarkan AS dan sekutunya, Ayatullah Khamenei mengungkapkan bahwa substansi dari gerakan besar Revolusi Islam adalah keberanian, pengorbanan dan komitmen terhadap kebenaran, yang menjadi kekhawatiran kekuatan imperialis global.

"Dengan taufik ilahi, jika gerakan ini membuahkan hasil, maka imperialisme, terutama imperialisme Barat di dunia akan tercerabut," tegas Rahbar.

Di bagian lain statemennya, Ayatullah Khamenei menyebut jawatan intelejen AS saat ini melakukan kesalahan kalkulasi mengenai Iran, faktanya asumsi mereka banyak yang meleset.

Bahkan, tutur Rahbar, pejabat AS melakukan "Kebodohan kelas satu".

"Mereka menyerukan supaya Iran belajar HAM dari Arab Saudi; apakah ini bukan lelucon yang tidak lucu ?" sindir Ayatullah Khamenei.

Presiden Iran, Hassan Rouhani

Rouhani: Iran akan Kirim Dua Satelit Baru ke Luar Angkasa

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, hari ini rudal merupakan instrumen pertahanan Iran dan bangsa ini bangga dengannya. Dia menyampaikan hal itu pada acara haul ke-2 Ayatullah Hashemi Rafsanjani yang diadakan di kota Tehran pada Kamis (10/1/2019) pagi.

"Beberapa pekan ke depan, dua satelit baru akan dikirim ke luar angkasa dengan roket buatan Iran," ungkapnya.

Bangsa Iran, lanjut Rouhani, telah melakukan sebuah pekerjaan besar melalui kesepakatan nuklir dan JCPOA mampu membatalkan enam resolusi anti-Iran di Dewan Keamanan PBB dalam satu hari.

Dia lebih lanjut berbicara tentang perang yang dipaksakan atas Iran untuk merampas wilayah negara ini dan menurutnya, tujuan penting musuh Revolusi Islam dari pemaksaan perang adalah mencegah revolusi ini mendunia.

"Musuh terjun ke lapangan dengan seluruh kemampuan untuk menekan Iran secara politik dan ekonomi. Saya yakin lewat persatuan dan kesabaran, kita bisa mempertahankan dan melanjutkan jalan Revolusi Islam," tegas Rouhani.

"Sejak awal kebangkitan Islam dan gerakan Islami, Ayatullah Rafsanjani selalu menjadi teman dekat dan salah satu dari murid Imam Khomeini," tambahnya.

Ayatullah Hashemi Rafsanjani meninggal dunia akibat serangan jantung pada 8 Januari 2017.

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif

Zarif: Iran lebih Kuat dari yang Diperkirakan AS

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif Jumat malam (11/1) mengecam langkah AS menggelar forum anti Iran di Warsawa, Polandia. Zarif di akun Twitternya menulis, mereka yang berpartisipasi dalam sandiwara terbaru anti Iran, mereka itu mati, atau tidak memiliki kehormatan maupun telah terkucil. Zarif menjelaskan, Iran lebih kuat dari sebelumnya.

Sebelumnya, Menlu AS Mike Pompeo Jumat (11/1) mengkonfirmasikan dukungan Washington terhadap penyelenggaran konferensi mengenai Iran pada 13-14 Februari di Warsawa. Langkah Amerika ini sebagai kelanjutan dari kebijakan Iranphobia.

Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami

Menhan Iran Kunjungi Venezuela

Menteri Pertahanan Republik Islam Iran, Amir Hatami mengatakan, Republik Islam siap berbagi pengalaman dan kemampuan defensifnya dengan Venezuela.

Amir Hatami berkunjung ke Caracas untuk menghadiri acara pelantikan Nicolas Maduro sebagai Presiden Venezuela. Menhan Iran mengucapkan selamat atas terpilihnya Maduro, dan menilai sambutan rakyat negara ini atas berlanjutnya pemerintahan revolusioner Venezuela mengindikasikan kekalahan konspirasi AS. Menteri pertahanan Iran juga menekankan pentingnya untuk mengaktifkan kapasitas kerja sama Iran dan Venezuela di berbagai sektor.

Sementara itu, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menyampaikan terima kasih atas kehadiran menhan Iran beserta delegasi dalam acara pelantikan dirinya, dan menekankan tekad Caracas untuk memperluas hubungan dengan Tehran.

Presiden Venezuela hari Kamis mengucapkan sumpah jabatan dan secara resmi memulai periode kedua kepemimpinannya. Nicolas Maduro memenangkan pemilu presiden dengan meraih 68 persen suara.

Menteri Pertahanan Republik Islam Iran Amir Hatami juga bertemu dengan sejawatnya dari Venezuela Vladimir Padrino Lopez untuk membahas kerja sama pertahanan bilateral. Kedua pihak sepakat mengenai peta jalan komprehensif kerja sama kolektif dengan memanfaatkan seluruh kapasitas yang ada.

Sementara itu, Vladimir Padrino Lopez dalam pertemuan tersebut menyampaikan terima kasih atas partisipasi dalam acara pelantikan presiden Venezuela. Ia juga menegaskan urgensi kerja sama kedua negara bersahabat ini.

Alireza Jahangiri

Iran Kritik Dualisme Eropa Sikapi Terorisme

Wakil Republik Islam Iran di Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengkritik Uni Eropa karena menjadi tuan rumah pertemuan kelompok teroris dan menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Alireza Jahangiri di akun twitternya merespon penerapan sanksi baru Uni Eropa terhadap Iran, dengan menulis, "Uni Eropa yang menjadi tuan rumah kelompok teroris dan membiarkan mereka bebas melakukan aktivitas ilegalnya, namun menunjukkan sikap konfrontatif  terhadap Iran berdasarkan asumsi palsu.

Uni Eropa yang mengklaim berusaha mempertahankan JCPOA, hari Selasa lalu menerapkan babak pertama sanksi terhadap Iran berdasarkan klaim infaktual yang disodorkan Denmark.

Pada 30 Oktober 2018, Denmark menuding Iran berusaha melancarkan aksi teror di wilayahnya tanpa memberi data dan bukti. Klaim tersebut langsung dibantah tegas oleh Republik Islam Iran.(PH)