Shalat Jumat di Tehran, 18 Januari 2019
-
Shalat Jumat di Tehran, 18 Januari 2019.
Khatib Shalat Jumat Tehran Ayatullah Mohammad Ali Movahedi Kermani mengatakan, hakikat pembentukan rezim anti-pencucian uang dan pendanaan terorisme global, Financial Action Task Force (on Money Laundering) (FATF) adalah menciptakan mekanisme untuk melacak informasi sumber dana Republik Islam Iran dan negara-negara dunia lain, terutama Front Muqawama.
Hal itu disampaikan Ayatullah Movahedi Kermani dalam khutbah Jumat kedua di Mushalla Besar Imam Khomeini di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Jumat, 18 Januari 2019.
Ulama senior Iran itu menambahkan, FATF hanyalah sarana bagi Amerika Serikat untuk memperpanjang sanksi terhadap Iran dan menjalankan hegemoni ekonominya atas negara lain.
"Standar FATF dimaksudkan untuk membantu AS melakukan penguasaan atas informasi keuangan dan ekonomi negara lain, dan memperpanjang sanksi terhadap Republik Islam Iran," ujarnya.
Ayatullah Movahedi Kermani menjelaskan, sementara AS dan negara-negara Eropa mengklaim bahwa tugas FATF dimaksudkan untuk memantau transaksi keuangan guna melawan pencucian uang dan terorisme, namun sebenarnya mereka menggunakan standar FATF untuk membenarkan tindakan mereka sendiri dan menekan orang lain.
Khatib Shalat Jumat Tehran juga menyinggung standar ganda AS dan Eropa mengenai terorisme. Dia mengatakan "AS dan Eropa dan sekutu regional mereka adalah pendukung utama terorisme di kawasan ini, dan tindakan mereka telah mengarah pada pembentukan kelompok teroris seperti Daesh (ISIS) dan al-Nusra."
Ayatullah Movahedi Kermani memuji semangat perlawanan negara-negara regional, dengan mengatakan bahwa perlawanan mereka terhadap para teroris adalah faktor utama di balik kekalahan Daesh dan penarikan pasukan AS dari Suriah.
Khatib Jumat Tehran menuturkan, pusat pencucian uang dan pendanaan terorisme adalah AS dan negara-negara Barat, mereka bersama rezim Zionis Israel merupakan pendukung terbesar terorisme di kawasan dan dunia.
Dia menegaskan, Iranlah yang memerangi kelompok teroris Daesh buatan Amerika dan mengusir kelompok ini dari Irak dan Suriah.
Khatib Jumat juga menyinggung pengakuan AS atas pembentukan Daesh di kawasan dengan maksud untuk memecah belah Asia Barat. Ayatullah Movahedi Kermani menandaskan, AS, Israel dan kelompok-kelompok bayaran mereka di kawasan adalah pendukung terbesar kejahatan terhadap rakyat tertindas Yaman dan telah menumpahkan darah ribuan anak dan perempuan negara itu.
Terkait kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina, Ayatullah Kermani menjelaskan, pasca langkah anti-Palestina yang dilakukan Presiden Amerika Donald Trump, rakyat Palestina setiap hari Jumat menggelar unjuk rasa damai di Jalur Gaza, namun dibalas kekerasan oleh militer Israel sehingga ratusan dari mereka gugur dan terluka.
Dia menegaskan, satu-satunya cara melawan kejahatan Israel dan AS adalah perlawanan dan buktinya telah kita saksikan di Suriah, Irak, Lebanon, Palestina dan penarikan pasukan Amerika dari Suriah. (RA)