Unjuk Rasa Tuntut Pembebasan Jurnalis Press TV
-
Unjuk Rasa Tuntut Pembebasan Jurnalis Press TV .
Ratusan aktivis, mahasiswa dan awak media dan budaya serta berbagai lapisan masyarakat menggelar unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Swiss (penjaga kepentingan luar negeri Amerika Serikat) di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran.
Demonstrasi yang digelar pada hari Minggu, 20 Januari 2019 itu menuntut pembebasan jurnalis Press TV yang ditangkap agen FBI AS. Jurnalis dan presenter televisi Press TV, Marzieh Hashemi ditahan dan dipenjara oleh pihak berwenang Amerika Serikat tanpa alasan dan dakwaan yang jelas.
Presenter televisi Republik Islam Iran itu ditahan ketika tiba di St. Louis Lambert International Airport in St. Missouri, Minggu, 13 Januari 2019. Wanita kelahiran Melanie Franklin, Amerika ini telah dipindahkan oleh FBI ke fasilitas penahanan di Washington, D.C. Otoritas AS sejauh ini menolak untuk memberikan alasan penahanan Hashemi kepada kepada keluarganya.
Hashemi kembali ke AS untuk menjenguk saudara lelakinya yang sakit kanker dan juga anggota keluarga lainnya. Menurut rencana, dia akan kembali ke Iran pada pekan depan. Selama penahanan itu, kerabat Hashemi tidak dapat menghubunginya. Dia diizinkan untuk menghubungi putrinya dua hari setelah penahanannya.
Hashemi telah memberi tahu kepada putrinya bahwa dia diborgol, dirantai kakinya dan diperlakukan seperti penjahat. Dia dipaksa melepas jilbab dan bahkan difoto tanpa kerudung setibanya di penjara.
Jurnalis saluran televisi Iran itu juga hanya diizinkan mengenakan kaos padahal cuaca saat ini sangat dingin. Dia juga hanya diberi makanan haram dari daging babi padahal petugas penjara mengetahui bahwa dia adalah seorang Muslimah.
Hashemi menolak mengkonsumsi makanan haram tersebut dan selama dua hari terakhir, dia hanya makan sebungkus kerupuk. Saat ini, anggota keluarga Hashemi dan aktivis media meluncurkan kampanye di media sosial dengan tagar #FreeMarziehHashemi dan # Pray4MarziehHashemi untuk mendukung presenter Press TV tersebut.
Penangkapan jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi sebagai bagian dari perang politik baru yang dilancarkan AS terhadap Republik Islam Iran menjelang peringatan empat dekade kemenangan Revolusi Islam.
Direktur IRIB World Service, Peyman Jebeli dalam pertemuan bertema "HAM AS" menyinggung masalah penangkapan jurnalis Press TV oleh otoritas keamanan AS. "Permusuhan pemerintah AS bukan hanya dengan Marzieh Hashemi dan Press TV saja, tapi sudah dilakukan selama empat dekade di berbagai bidang karena kedaulatan, ketulusan dan keteguhan bangsa Iran dan gerakan perlawanan yang telah menyebabkan AS kalah di berbagai bidang," ujar Jebeli.
"AS mengkhawatirkan langkah media Republik Islam Iran yang menyuarakan kebenaran di tengah gegap-gempita media internasional. Mereka mengkategorikan setiap aktivitas media yang tidak sejalan dengan AS maupun mengkritik rezim Zionis dan Arab Saudi sebagai propaganda," tegasnya.
Perempuan AS berusia 59 tahun yang lahir dengan nama Melanie Franklin ini ditahan ketika tiba di St. Louis Lambert International Airport in St. Missouri, Minggu, 13 Januari 2019. Ironisnya, otoritas keamanan AS sejauh ini menolak untuk memberikan alasan penahanan Marzieh kepada keluarganya. Bahkan pihak pengadilan AS sendiri tidak menyebutkan apa kesalahannya ditangkap dan diadili.
AS selama ini mengklaim sebagai pengibar garda depan bendera demokrasi dan hak asasi manusia di dunia. Dengan klaim tersebut Gedung Putih begitu mudah memberikan label pejoratif terhadap negara-negara yang dianggap menghalanginya kepentingannya. Pada saat yang sama, AS sendiri menginjak-injak nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia yang diklaimnya tersebut sebagaimana dilakukan terhadap Marzieh Hashemi.
Pelanggaran AS terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM bukan kali ini saja terjadi, terutama dilakukan terhadap Iran. Di bidang media, AS melakukan pemutusan program siaran parabola televisi Iran dan memblokir rekening sejumlah media internasional milik Iran dengan dalih yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Pertanyaannya, apa target AS kali ini menangkap Marzieh Hashemi ? AS selama bertahun-tahun menggelontorkan dana puluhan miliar dolar untuk menciptakan citra buruk mengenai Iran di mata publik dunia. Oleh karena itu kehadiran media internasional milik Iran yang berupaya menyampaikan realitas sebenarnya dipandang AS sebagai musuh yang harus diberangus, karena menghalangi tujuannya.
Analis politik Iran, Mohammad Mehdi Esmaili mengatakan, penangkapan Marzieh Hashemi menunjukkan kepada publik dunia mengenai betapa dalamnya intervensi politik di ranah HAM yang terjadi di AS. Media alternatif seperti Press TV memberikan tayangan siaran yang relatif berbeda darinarasi yang selama ini diangkat media-media Barat, terutama AS. Kehadiran media-media alternatif tersebut menurunkan tingkat kepercayaan publik dunia terhadap media mainstream Barat yang selama ini dipandang sebagai arus utama media global. Kini publik dunia mulai beralih mengadopsi tayangan yang diberikan media-media alternatif seperti Press TV.
Tampaknya inilah maksud dari statemen Direktur IRIB World Service, Peyman Jebeli, "Marzieh Hashemi menemukan kehidupan baru bersama Revolusi Islam Iran dengan mengubah agama, nama, pola berpakaian, tempat tinggal dan pekerjaaannya yang terlihami oleh Revolusi Islam, dan dia tumbuh bersama Revolusi Islam ini. Oleh karena itu, ia menjadi contoh dari pengaruh Revolusi Islam saat ini,".
Meskipun menghadapi rintangan politik, tapi suara perjuangan akan terus berkumandang. Sebab, publik dunia saat ini menilai dan menentukan mana yang bisa mereka percayai sebagai realitas dari sebuah berita. Penangkapan Marzieh sebuah pesan penting bagi publik dunia tentang wajah sejati AS yang selama ini ditutupi topeng kebohongan. (RA)