Menakar Kesuksesan Sanksi Minyak Iran oleh AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i69480-menakar_kesuksesan_sanksi_minyak_iran_oleh_as
Presiden AS Donald Trump secara sepihak meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA pada 8 Mei 2018 dan kemudian mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 23, 2019 10:44 Asia/Jakarta

Presiden AS Donald Trump secara sepihak meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA pada 8 Mei 2018 dan kemudian mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran.

Sanksi tahap pertama yang mencakup sektor otomotif, transaksi emas dan logam mulia serta rial Iran mulai berlaku pada 6 Agustus 2018. Tahap kedua yang menargetkan sektor perbankan dan minyak diterapkan pada 5 November 2018.

Pemerintah AS bertekad menghentikan ekspor minyak Iran ke titik nol sejak tanggal tersebut. Namun, beberapa hari sebelum sanksi berlaku, Washington memberikan pengecualian kepada delapan negara konsumen utama minyak Iran.

Di tengah kekhawatiran dunia mengenai lonjakan harga minyak, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo justru memberikan kabar mengejutkan bahwa AS tidak akan memperpanjang keringanan sanksi terhadap delapan negara importir minyak Iran mulai 2 Mei 2019.

"Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah meyakinkan AS bahwa tidak akan terjadi masalah di pasar minyak," ujar Pompeo pada hari Senin (22/4/2019).

Misi utama AS adalah melarang total penjualan minyak serta hubungan perbankan, perdagangan, dan ekonomi antara Iran dan negara lain, dan pada akhirnya meruntuhkan perekonomian Republik Islam.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengkritik keputusan AS yang akan mengakhiri keringanan sanksi bagi para pembeli minyak Iran. Dia mengatakan langkah itu tidak akan membantu perdamaian dan stabilitas di kawasan.

"Kami tidak menerima sanksi dan pemaksaan sepihak tentang bagaimana Turki harus membangun hubungannya dengan para tetangga," kata Cavusoglu via akun Twitter-nya.

Sanksi minyak Iran akan memicu lonjakan harga minyak di pasar dunia dan juga mendorong kenaikan harga bahan bakar di AS. Kenaikan ini tentu akan meningkatkan ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Trump.

Di samping itu, negara-negara seperti Turki dan Cina, menekankan tekadnya untuk tetap membeli minyak dari Iran, dan mereka tampaknya tidak peduli dengan ancaman sanksi oleh Washington.

Pemerintahan Trump mungkin mampu membatasi ekspor minyak Iran, tetapi mustahil bisa menekannya ke titik nol, karena AS tidak akan mampu meyakinkan semua importir minyak untuk menghentikan pembelian mereka dari Iran.

Cina dan India – sebagai importir utama minyak Iran – memiliki hubungan yang sangat luas dengan Republik Islam dan mereka bergantung pada sumber-sumber energi negara ini.

Sanksi AS terhadap Venezuela serta kekhawatiran tentang produksi minyak di Libya dan Aljazair juga ikut mempengaruhi kenaikan harga minyak dunia.

Lalu, apakah Saudi mampu menutupi absennya Iran di pasar minyak dunia? Lebih dari itu, apakah sanksi minyak akan membuat Iran tunduk di hadapan AS? Jawabannya, tentu saja tidak!

Iran sudah melawan sanksi AS dalam 40 tahun terakhir dan berhasil menggagalkan konspirasi-konspirasi Washington.

Mantan diplomat AS dan juru runding senior nuklir, Wendy Sherman menganggap sanksi minyak Iran oleh pemerintahan Trump, tidak akan efektif.

"Sanksi akan memusatkan semua opsi termasuk duduk di meja perundingan, tetapi Iran sangat tidak mungkin bernegosiasi dengan Trump," tulis Sherman dalam sebuah tweet. (RM)