Langkah Baru Iran di JCPOA
-
Instalasi nuklir Iran
Iran menambah cadangan uranium yang sudah diperkaya melampaui 300 kilogram sesuai aturan pasal 36 JCPOA.
Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif di hadapan wartawan Senin (1/7) menjelaskan, sebelumnya sudah disampaikan secara transparan sesuai program yang sudah diumumkan bahwa Iran akan menurunkan tingkat komitmennya dalam JCPOA.
Zarif menegaskan bahwa Iran dalam tahap-tahap berikutnya akan menurunkan komitmennya di JCPOA dengan meningkatkan pengayaan uranium hingga menembus level 3,67 persen.
Keputusan Iran untuk meningkatkan cadangan uraniumnya berdasarkan isi kesepakatan JCPOA dan tidak melanggar perjanjian internasional itu.
Kazem Gharib Abadi, duta besar dan perwakilan tetap Iran untuk organisasi internasional yang berbasis di Wina hari Senin merujuk 15 laporan IAEA tentang kepatuhan Iran terhadap JCPOA, dengan mengatakan, "Upaya Iran untuk mewujudkan haknya sesuai dengan JCPOA pasal 26 dan 36. Atas dasar ini, Iran telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi komitmennya sejak 8 Mei 2019,".
Pengurangan beberapa komitmennya terhadap JCPOA dan dimulainya sebagian aktivitas nuklir yang sebelumnya dibekukan dalam kerangka JCPOA adalah langkah pertama Iran dalam menanggapi penarikan AS dari perjanjian nuklir internasional, serta tuntutan terhadap negara-negara Eropa dalam memenuhi kewajibannya di JCPOA. Kini, penyimpanan air berat dan uranium yang diperkaya mencerminkan pesan yang signifikan bagi para pihak yang masih bertahan di JCPOA. Meskipun tindakan ini hanya bagian dari upaya besar yang bisa dilakukan Iran.
Analis internasional, Sabah Zanganeh mengatakan, "Selama Iran beroperasi dalam kerangka JCPOA, maka Iran memiliki hak untuk menggunakan kapasitasnya dan mengurangi komitmen tambahannya, oleh karena itu tidak akan terjadi kontradiksi dengan prinsip JCPOA."
Atas dasar ini, jumlah uranium yang diperkaya di Iran saat ini adalah 300 kilogram. dan surplus uranium yang diperkaya harus diekspor ke negara lain. Tapi AS dengan berbagai sanksinya bermaksud untuk menciptakan kebuntuan dalam implementasi JCPOA.
Tampaknya, ada dua target yang ingin dicapai AS. Pertama, untuk memaksa Iran menghentikan pengayaan uraniumnya. Sedangkan tujuan kedua untuk menciptakan klaim baru bahwa Iran melanggar JCPOA, padahal tindakan Iran sesuai dengan ketentuan dalam kesepakatan tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menjelaskan, "Sesuai JCPOA, kita harus mengkonversi atau menjual kelebihan dari 130 ton air berat dan surplus 300 kilogram uranium. Tetapi AS mengatakan tidak ada yang berhak untuk membelinya dari Iran, karena dia ingin menghentikan produksinya,"
Araqchi menegaskan, " Kami berkomitmen terhadap JCPOA. Oleh karena itu, jika kita tidak bisa menjualnya, kita harus menghentikan produksi. Pada langkah baru, kita tidak terikat oleh pembatasan produksi dan penjualan, dan kita ingin menyimpannya. Nilai strategisnya adalah keberadaannya yang tidak ada pembatasan di negara ini. "
Kini, tenggat waktu selama 60 hari yang diberikan kepada pihak Eropa hanya tinggal beberapa hari lagi, dan pengumuman peningkatan cadangan uranium Iran yang diperkaya melampaui batas 300 kilogram merupakan peringatan serius bagi pihak-pihak yang masih bertahan di JCPOA.
Setelah AS keluar dari JCPOA pada 8 Mei 2018 dan penerapan Pasal 36 oleh Iran, pihak Eropa menyampaikan 11 janji, yang tidak satupun dijalankan, sedangkan Instex sebagai pendahuluannya juga belum dijalankan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan, jika Eropa mengambil sejumlah langkah yang diperlukan untuk menjalankan komitmennya, maka mungkin langkah Iran bisa ditinjau ulang, tapi jika langkah itu tidak dilakukan, maka berdasarkan pasal 36 JCPOA, Iran akan menurunkan terus tingkat komitmennya.(PH)