Tekanan Maksimum Vs Perlawanan Maksimum
https://parstoday.ir/id/news/iran-i71970-tekanan_maksimum_vs_perlawanan_maksimum
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menyebut kebijakan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran sebagai tindakan teroris, dan mengatakan Republik Islam tidak akan pernah berunding dengan teroris.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 18, 2019 06:47 Asia/Jakarta
  • Tekanan Maksimum Vs Perlawanan Maksimum

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menyebut kebijakan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran sebagai tindakan teroris, dan mengatakan Republik Islam tidak akan pernah berunding dengan teroris.

"Perang ekonomi AS tidak menargetkan militer atau pejabat Iran, tetapi masyarakat biasa. Ini adalah tindakan teroris untuk memajukan agenda politiknya dan ini harus dihentikan," tegasnya dalam pernyataan kepada wartawan di New York, Rabu (17/7/2019).

Sanksi dan tekanan telah menjadi kebijakan tetap pemerintah AS untuk melawan rakyat Iran pasca kemenangan Revolusi Islam. Pengaruh kuat AS di Iran secara praktis hilang dengan kemenangan Revolusi Islam dan tuntutan untuk mandiri yang disuarakan rakyat Iran.

Fakta ini mendorong para pemimpin Gedung Putih untuk mengubah kebijakan pemerintah Iran dengan mengandalkan sanksi dan konspirasi.

Dalam hal ini, Wakil Tetap Iran untuk organisasi internasional yang berbasis di Wina, Kazem Gharib Abadi menilai sanksi sepihak AS melanggar hukum internasional.

"AS berada di garis depan perilaku-perilaku ilegal dan menggunakan sanksi sebagai instrumen untuk mengubah kebijakan negara lain," ungkapnya.

Korps Pasdaran memamerkan bangkai drone pengintai Global Hawk AS yang ditembak jatuh setelah menerobos masuk ke wilayah Iran.

Pelapor Khusus Dewan HAM PBB, Idriss Jazairy mengkritik sanksi sepihak AS terhadap Iran dan menyebut sanksi itu sebagai aksi blokade ilegal dan hukuman massal, di mana keduanya melanggar hukum humaniter internasional.

"Penggunaan sanksi ekonomi untuk tujuan politik melanggar hak asasi manusia dan norma perilaku internasional," tegasnya.

Jazairy menandaskan penerapan sanksi ekstrateritorial dan sepihak jelas bertentangan dengan hukum internasional. "Saya sangat prihatin bahwa satu negara dapat menggunakan posisi dominannya dalam keuangan internasional untuk melukai tidak hanya rakyat Iran, yang telah memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan nuklir yang disetujui PBB, tetapi juga semua orang di dunia yang berdagang dengan mereka."

Setiap kali rakyat Iran mengukir sebuah prestasi baru, pemerintah AS langsung bergerak menjatuhkan sanksi. Namun, kebijakan negara ini yang berdasarkan pada Revolusi Islam tetap tidak berubah.

Pengalaman 40 tahun perlawanan membuktikan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada AS dalam kondisi apapun, bahkan jika pemerintah seperti pemerintahan Trump telah menggunakan terorisme ekonomi untuk melawan Iran.

Trump berusaha menyeret Tehran ke meja perundingan melalui kebijakan tekanan maksimum dan ancaman, tetapi Iran membendung kebijakan ini melalui perlawanan maksimum.

Meski AS menerapkan sanksi yang paling berat dalam satu tahun terakhir, namun kebijakan sanksi Washington tidak akan membuat Tehran menyerah. Para pejabat Gedung Putih tidak akan mencapai tujuannya dengan terorisme ekonomi.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Bangsa Iran berada di bawah penindasan sanksi-sanksi kejam, tetapi mereka tidak lemah, mereka kuat. Dengan kuasa Allah Swt, bangsa ini akan mencapai semua target yang sudah ditetapkan." (RM)