Infiltrasi AS di Iran dalam Perspektif Rahbar
-
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei Minggu pagi bertemu dengan pada siswa dan mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru negara ini menjelang peringatan "Hari Perlawanan terhadap Imperialisme Global".
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya menyinggung upaya AS yang berupaya mendistorsi sejarah, yang menghubungkan permusuhan Amerika dengan Iran dari pendudukan kedutaan AS di Tehran sebagai pemicunya. Rahbar mengatakan, "Amerika sejak awal ingin menunjukkan diri tampak ramah terhadap Iran, tapi di dalamnya memusuhi bangsa Iran. Permusuhan tersebut semakin nyata dengan kudeta 28 Mordad. Inilah awal permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran,".
Sejarah pasang surut hubungan AS dan Iran dipenuhi dengan berbagai peristiwa kelam, konspirasi, dan permusuhan. Kudeta sebelum Revolusi Islam pada 28 Mordad 1332 Hs, yang bertepatan dengan Agustus 1953, sebagai peristiwa yang terjadi dengan peran langsung Amerika Serikat dan Inggris dalam menggulingkan sebuah pemerintahan yang berdaulat di Iran.
Para pejabat AS berulangkali melakukan segala cara untuk menyerang Iran dengan metode dan alasan yang berbeda-beda, tapi pada intinya tetap mengedepankan permusuhan terhadap bangsa Iran.
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya mengungkapkan sepak terjang Amerika selama empat dekade terakhir terakhir, termasuk ancaman, kudeta, sanksi, hasutan etnis, separatisme, kekacauan, blokade ekonomi, intervensi, dan berbagai metode lainnya.
"Mereka menempuh segala cara untuk melawan institusi yang muncul dari revolusi, terutama prinsip Republik Islam," ujar Rahbar.
Kelanjutan permusuhan dan konspirasi AS terhadap Iran menunjukkan bahwa permusuhan tersebut berakar dari masalah yang lebih mendasar dari persoalan terbongkarnya aksi spionase Washington terhadap Iran di sarang mata-mata AS di Tehran yang terjadi awal kemenangan Revolusi Islam.
Ayatullah Khamenei menegaskan sebuah fakta bahwa perilaku AS terhadap Iran tidak pernah berubah sejak dahulu hingga kini.
"Kejahatan yang sama, sifat serigala yang sama, upaya yang sama untuk menciptakan kediktatoran internasional dan dominasi ekstrem yang sama, masih ada di Amerika saat ini. Tentu saja lebih kejam dan tragis," tegas Rahbar.
Menurut Ayatullah Khamenei, Republik Islam menghadapi sepak terjang AS dengan "membendung jalan bagi infiltrasi politik Amerika dan dominasi Amerika di Iran".
"Metode yang rasional ini akan menutup jalan bagi infiltrasi AS, sekaligus menunjukkan kebesaran sejati dan kewibawaan kepada dunia, dan sebaliknya meruntuhkan kebesaran rekaan pihak lawan kepada dunia," papar Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.
Mengenai tuntutan AS terhadap Iran yang tidak pernah berakhir, Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Mereka saat ini mengatakan jangan aktif di kawasan, jangan membantu front perlawanan, dan tidak boleh hadir di beberapa negara, serta menghentikan pertahanan rudal dan kemampuan produksi rudal Anda. Namun setelah tuntutan ini, mereka akan mengatakan hentikan masalah hukum dan peraturan agama dan jangan menekankan masalah jilbab Islami. Oleh karena itu, tuntutan AS tidak akan pernah berakhir,".
Tidak diragukan lagi Amerika Serikat selalu mencari peluang untuk memaksakan kehendaknya terhadap rakyat Iran. Arogansi global, terutama Amerika Serikat ingin menunjukkan kebencian dan permusuhannya dengan segala cara yang bisa dilakukan, dan mereka ingin membawa Iran kembali menuju kondisi sebelum revolusi Islam, tetapi mereka tidak akan pernah berhasil.
The Washington Post menulis dalam sebuah analisisnya menyinggung kebijakan keliru pemerintah AS yang salah arah sejak kudeta 28 Mordad dengan menulis,"... para pejabat tinggi Amerika kembali menunjukkan diri sebagai pelupa sejarah dan kini sedang memainkan game berbahaya yang bisa menyebabkan kekalahannya sendiri."
Sebagaimana yang ditekankan oleh Rahbar, "Revolusi Islam lebih kuat dari semua ini, dan tekad baja Republik Islam tidak akan pernah mengizinkan AS kembali ke Iran dengan plot semacam itu,".(PH)