Dinamika Terbaru Iran dalam Perspektif Rahbar
-
Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei
Selama beberapa hari terakhir terjadi kerusuhan di beberapa kota di Iran setelah dimulainya implementasi program pengelolaan bahan bakar minyak (BBM) baru. Peristiwa getir yang dipicu oleh aksi kekerasan seperti pembakaran dan perusakan fasilitas publik dan menimbulkan korban jiwa dan terluka, menjadi perhatian Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.
Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pernyataan yang disampaikan hari Minggu (17/11) menekankan dukungannya terhadap keputusan yang telah diambil kepala pemerintah Iran dan menyinggung peristiwa terbaru yang terjadi di negaranya.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan di sini. Pertama, ketika sebuah keputusan telah diambil oleh kepala negara, maka kita harus melihatnya secara optimistik. Saya tidak menguasai masalah bensin ini, karena saya tidak memiliki keahlian di bidang tersebut. Saya telah sampaikan kepada Anda bahwa terdapat pandangan dari para ahli yang berbeda-beda dalam masalah bensin ini. Sebagian kalangan memandang perlu dan harus dilakukan, tapi sebagian ahli melihat sebaliknya, merugikan. Oleh karena itu, dengan posisi saya yang bukan ahli dalam masalah ini, saya mendukung apapun keputusan yang sudah diambil tiga pemimpin lembaga negara,".
Penekanan Rahbar mengenai dukungannya terhadap keputusan yang sudah diambil tiga kepala lembaga negara, mengandung beberapa poin penting. Beliau meminta pihak berwenang untuk secara cermat dan hati-hati memonitor semua aspek dari implementasi program manajemen BBM baru tersebut, dan menegaskan untuk mengatasi masalah apapun yang timbul dari dampaknya. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung peristiwa getir baru-baru ini dan meminta para pejabat keamanan untuk melaksanakan tugasnya secara serius.
Masalah ekonomi selalu menjadi salah satu tantangan besar, dan terkadang bertentangan dengan upaya reformasi infrastruktur yang dilakukan pemerintah. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa setiap gerakan di bidang ini sering disertai dengan perlawanan.
Masalah terbaru yang terjadi di Iran menyangkut keputusan pemerintah untuk mengembalikan pendapatan dari kenaikan harga bensin kepada rakyat melalui bantuan langsung tunai, terutama untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Program ini bertujuan untuk mendukung mata pencaharian masyarakat.
Di sisi lain, salah satu masalah penting yang ditekankan oleh perencana sistem ekonomi Iran dalam beberapa tahun terakhir mengenai manajemen energi dan penciptaan hubungan rasional antara biaya produksi dan konsumsi energi di Iran yang Implementasinya telah ditunda beberapa kali.
Penundaan ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa implementasi program saat ini menjadi lebih sulit. Tentu saja, implementasi program yang sedemikian penting harus mempertimbangkan banyak faktor, termasuk kekhawatiran terjadinya kenaikan harga barang, terutama kebutuhan pokok akibat kenaikan harga bensin.
Masalah ini telah menjadi perhatian serius masyarakat selama beberapa tahun terakhir dengan terjadinya tren kenaikan inflasi dibandingkan dengan pendapatan tetap rata-rata masyarakat. Dengan demikian, masalah mata pencaharian menjadi tuntutan publik yang perlu ditangani oleh pemerintah.
Tentu saja, ketahanan terhadap tekanan ekonomi dan sanksi berat AS yang menjadi bentuk dari manifestasi terorisme ekonomi terhadap rakyat Iran bergantung pada banyak komponen, termasuk kewaspadaan terhadap arus pihak-pihak yang ingin merusak keamanan dan ketentraman masyarakat.
Rahbar dalam hal ini mengingatkan, "Dalam masalah ini semua pusat kejahatan di dunia menyerang kita; dari rezim dinasti Pahlevi hingga para penjahat Munafik, mereka secara masif melancarkan provokasi di media maya yang berujung kerusuhan. Saya tegaskan, siapapun tidak boleh membantu para perusuh ini. Tidak ada orang yang berakal dan mencintai negaranya sendiri, ataupun menyukai kehidupan tenang, yang akan membantu mereka. Ini bukan dilakukan masyarakat biasa,".
Pengalaman selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kerusuhan pasca pemilu presiden tahun 2009 dan peristiwa getir lainnya yang berhubungan dengan masalah ekonomi ditunggangi oleh AS dan musuh-musuh Iran yang berambisi mewujudkan tujuannya dengan merusak keamanan nasional dan ketentraman masyarakat. Tujuan utama musuh menciptakan krisis politik dan target akhirnya menghancurkan negara.(PH)