Menyorot Kunjungan Zarif ke Beijing
https://parstoday.ir/id/news/iran-i77059-menyorot_kunjungan_zarif_ke_beijing
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif Selasa (31/12) dijadwalkan bertemu dengan petinggi Cina di Beijing.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 31, 2019 08:45 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif Selasa (31/12) dijadwalkan bertemu dengan petinggi Cina di Beijing.

Kunjungan Zarif ke Beijing atas undangan resmi sejawatnya dari Cina, Wang Yi. Kunjungan ini digelar sehari setelah kunjungan Zarif ke Mskow dan perundingannya dengan sejawatnya dari negara ini, Sergei Lavrov. Pertanyaannya di sini, apa urgensitas kunjungan Zarif ini?

Pertanyaan ini dijawab oleh media dan pakar politik dengan sejumlah asumsi mengingat perundingan hari Senin (30/12) antara Zarif dan Lavrov. Sekaitan dengan ini, sejumlah isu mulai dari nasib Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) hingga transformasi Suriah, Afghanistan dan keamanan Teluk Persia menjadi perhatian.

Penekanan atas peran Iran dalam menjaga stabilitas dan keamanan regional merupakan hal pasti dalam mencermati kunjungan menlu Iran ke dua negara besar Asia dan dua kekuatan dunia anggota Dewan Keamanan. Bagi Cina dan Rusia, Iran sangat penting mengingat kondisi geopolitik kawasan.

Kunjungan Zarif ke Rusia dan Cina tak lama setelah manuver gabungan Iran, Rusia dan Cina di Laut Oman dan Samudra Hindia pastinya membawa pesan jelas dalam kasus ini. Seperti yang diungkapkan Lavrov tak lama setelah bertemu dengan Zarif, Rusia dan Iran memiliki pandangan bersama di berbagai isu regional dan intenasional serta inisiatif perdamaian kedua negara juga mengindikasikan hal ini.

JCPOA

Isu penting lain di lobi ini adalah nasib JCPOA.

Sergei Lavrov di perundingannya dengan Zarif menyebut keluarnya AS dari JCPOA sebagai langkah sepihak dan ilegal dan menilainya melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB. Ia mengingatkan, semua pihak harus berusaha mempertahankan JCPOA dan mencegah keruntuhannya.

JCPOA menyodorkan teladan baru untuk menyelesaikan masalah melalui wacana bersama dan interaksi internasional yang didukung oleh Dewan Keamanan,namun pelanggaran janji Amerika telah mempengaruhi keyakinan ini. Amerika dengan melanggar JCPOA dan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan bukan saja Rusia, Cina dan Uni Eropa sebagai pihak lain di kesepakatan ini menghadapi berbagai kendala akibat pelanggaran JCPOA Washington, bahkan masyarakat internasional juga terkena imbasnya.

Javad Mansouri, pengamat Asia Timur seraya menjelaskan bahwa Cina dan Rusia terkait JCPOA memiliki pandangan sangat dekat dan serupa, menjelaskan, kedua negara tersebut di masalah ini mengingat berbagai alasan memiliki sensitifitas khusus, karena JCPOA sebuah pakta internasional dan setiap pelanggaran bisa jadi akan mempengaruhi pihak lain.

Negara-negara yang tidak terlibat di perjanjian ini, juga memahami urgensitas JCPOA dan menyebut Amerika akar dari seluruh krisis yang muncul.

Iran untuk mempertahankan JCPOA, memiliki argumentasi rasional dan menjelaskan selama seluruh negara penandatangan kesepakatan ini tetap mendukung JCPOA dan komitmen dengan janjinya serta merealisasikan kepentingan Tehran di kesepakatan ini, maka Iran akan tetap komitmen dengan isi perjanjian tersebut.

Iran berdasarkan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak melanggar JCPOA, namun kesabaran strategis Iran untuk mempertahankan kesepakatan ini hampir habis dan langkah keempat Iran tidak direspon memuaskan oleh pihak Eropa. Di kondisi saat ini, jalan yang dipilih Eropa, mengingat sikap terbaru petinggi Eropa, akan berujung pada kehancuran total JCPOA.

Wajar jika pihak lain meninggalkan total JCPOA dan menyerah dihadapan represi Amerika, maka tidak ada jalan lain bagi Iran kecuali keluar dari JCPOA. Dari sudut pandang ini, kunjungan menlu Iran ke Rusia dan Cina dapat dicermati sebagai upaya dan peluang terakhir untuk mempertahankan tautan lemah yang tersisa di JCPOA. (MF)