AS Belum Memahami Posisi dan Keagungan Bangsa Iran Selama 41 Tahun Terakhir
https://parstoday.ir/id/news/iran-i78542-as_belum_memahami_posisi_dan_keagungan_bangsa_iran_selama_41_tahun_terakhir
Pada peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam, jutaan warga Iran di berbagai kota melakukan pawai akbar pada 22 Bahman (11 Februari) untuk menekankan ketegaran dan perlawanan mereka terhadap plot arogansi global yang dipimpin AS.
(last modified 2026-02-03T18:32:04+00:00 )
Feb 12, 2020 17:00 Asia/Jakarta
  • Peringatan kemenangan Revolusi Islam ke-41
    Peringatan kemenangan Revolusi Islam ke-41

Pada peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam, jutaan warga Iran di berbagai kota melakukan pawai akbar pada 22 Bahman (11 Februari) untuk menekankan ketegaran dan perlawanan mereka terhadap plot arogansi global yang dipimpin AS.

41 tahun yang lalu pada 22 Bahman 1357, bangsa besar Iran dengan kemauan yang kuat dan tanpa bersandar pada negara adidaya memenangkan Revolusi Islam yang agung. Bangsa Iran telah menghadapi musuh bebuyutan dan keras kepala selama bertahun-tahun, tetapi apa alasan permusuhan terhadap revolusi ini dan sistemnya? Mengapa tidak ada akhir dari permusuhan ini?

Ilustrasi pertentangan AS dan Iran

Penyebab paling jelas dari permusuhan ini dapat dilihat dalam pengaruh revolusi ini melintasi perbatasan Iran. Sejak awal kemenangannya, Revolusi Islam pada hakikatnya telah menjadi paradigma yang menjanjikan untuk pembebasan bangsa-bangsa yang tertindas dari sistem dominasi. Oleh karena itu, jelas bahwa kemenangan besar bangsa Iran dan pengusiran negara adikuasa Amerika dari tanah ini bagi kekuataan seperti Amerika Serikat menjadi sesuatu yang tak tertahankan. Amerika dan musuh-musuh revolusi ini melakukan segala yang mereka bisa untuk memulihkan masa lalu, tetapi mereka gagal. Pertanyaan penting lainnya adalah mengapa AS dan musuh-musuh bangsa Iran telah gagal mencapai tujuan mereka selama ini?

Pidato Presiden Republik Islam Iran pada peringatan kemenangan revolusi sebenarnya adalah jawaban untuk pertanyaan ini.

Dalam bagian pidatonya, Rouhani berkata, "Ini adalah jalan kami menuju kemajuan dan keunggulan di negeri ini, jadi Anda melihat kebencian dan kedengkian ini muncul dalam berbagai bentuk selama 41 tahun terakhir, tetapi jalan revolusi adalah jalan hari pertama."

Presiden Republik Islam Iran telah dengan tepat mengatakan, "Apa yang telah memperkuat revolusi adalah kehadiran rakyat dan suara rakyat."

Rouhani mengingatkan bahwa Amerika Serikat telah melakukan kesalahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini. Amerika Serikat telah melakukan banyak kejahatan sejauh ini, dan dalam aksi teroris baru-baru ini, Amerika Serikat meneror Letjen Qassem Solaemani, yang menjadi tamu Irak. Pada hari-hari pahit perpisahan dengan syahid yang mulia, Letjen Qassem Solaemani, masyarakat datang ke jalan-jalan dengan begitu semarak sehingga bahkan musuh-musuh sistem ini dan revolusi terpaksa mengakui kenyataan ini. Dengan bantuan rakyat dan tentara Irak, syahid Solaemani memberi stabilitas pada Irak, Suriah, dan Lebanon.

Sejak awal kemenangan Revolusi Islam, Amerika telah keliru dalam perhitungan. Penyebab kesalahan perhitungan ini terletak pada dua faktor:

Pertama, elemen dan kepercayaan agama dan spiritual tidak memiliki tempat dalam perhitungan ini.

Kedua, musuh sejauh ini gagal mengenali warga Iran dengan benar.

Perhitungan yang tidak tepat dapat memaksa kalah kekuatan besar. Selama 41 tahun bangsa Iran melawan Amerika dan perlawanan ini tidak keluar dari kaidah dan kerangka yang ada.

Apa yang tidak mampu dipahami oleh AS adalah bahwa ia belum menyadari posisi dan kebesaran bangsa Iran selama 41 tahun terakhir.

Tindakan bodoh Trump menunjukkan bahwa ia tidak memiliki pemahaman realistis tentang masa lalu dan masa kini Amerika-Iran. Iran di masa Obama tidak menampakkan kegembiraan, padahal ia tampil dengan tangan besi AS yang disembunyikan dalam sarang tangan beludru, seperti yang diungkap Pemimpin Besar Revolusi Islam, dan berbicara tentang perubahan, sehingga hari ini ketika ancaman dan retorika Trump, lalu merasa ketakutan.

Donald Trump, Presiden AS

Presiden Republik Islam Iran, dalam pertemuan dengan duta besar dan ketua-ketua perwakilan dan organisasi asing yang berada di Tehran, pada hari Senin, 11 Februari, juga menandai peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam di Tehran seraya mengatakan:

"Mereka yang akrab dengan sejarah, peradaban, dan budaya Iran tahu bahwa orang-orang Iran tidak akan pernah menyerah pada intimidasi, ucapan yang tidak benar, salah dan tekanan yang tidak benar."