Bagheri-Kani: Motif Teror Syahid Fakhirzadeh, Jegal Kemajuan Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i87746-bagheri_kani_motif_teror_syahid_fakhirzadeh_jegal_kemajuan_iran
Kepala Dewan Tinggi Hak Asasi Manusia Iran, Ali Bagheri-Kani menilai tujuan pembunuhan elit Iran dan sanksi yang diterapkan terhadap negara ini demi menjegal kemajuan bangsa Iran.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 29, 2020 10:53 Asia/Jakarta

Kepala Dewan Tinggi Hak Asasi Manusia Iran, Ali Bagheri-Kani menilai tujuan pembunuhan elit Iran dan sanksi yang diterapkan terhadap negara ini demi menjegal kemajuan bangsa Iran.

"Pengalaman empat dekade terakhir menunjukkan bahwa tekanan sanksi telah membebani rakyat Iran, tetapi tidak dapat menghentikan kemajuannya, " ujar Bagheri-Kani.

"Teror dan sanksi adalah dua sisi mata uang yang dilancarkan terhadap rakyat Iran, yang dimulai pada masa pemerintahan Obama," tegasnya.

Mengenai aksi teror terhadap Syahid Mohsen Fakhrizadeh, Kepala Pusat Riset dan Inovasi Kementerian Pertahanan Iran pada hari Jumat (27/11/2020), Bagheri-Kani menjelaskan, "Kejahatan ini kelanjutan dari kebijakan tekanan maksimum Trump, yang meneruskan era Obama terhadap bangsa Iran,".

Menurutnya, kebijakan tekanan maksimum Trump, dan sanksi yang dijatuhkan pada masa pemerintahan Obama menyasar berbagai bidang yang berkaitan dengan kebutuhan dasar rakyat Iran, bahkan para pejabat Amerika memperluasnya ke peralatan medis dan obat-obatan.

"Pemerintah Barat telah melakukan kejahatan di bidang lain. Ketika Obama menjabat, lima ilmuwan nuklir Iran dibunuh," paparnya menunjukkan bukti kejahatan AS di era Obama.

Di bagian lain statemennya, pejabat tinggi Iran ini menyerukan publik dunia mengutuk pembunuhan Syahid Mohsen Fakhrizadeh dengan keras, dan kejahatan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

 

Syahid Fakhrizadeh

 

Bagheri-Kani juga menyinggung pelapor Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang telah menyiapkan laporan tentang pembunuhan Syahid Soleimani dan menyalahkan Amerika, tetapi sayangnya dia terpaksa harus mengundurkan diri karena tekanan pihak tertentu.

"Kami berkorespondensi dengan pejabat PBB dan institusi terkait untuk meminta mereka mengutuk pembunuhan Syahid Mohsen Fakhrizadeh, tetapi Barat bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Selama 12 tahun terakhir, Zionis membunuh ilmuwan nuklir kami, dan mereka tidak mengutuknya," ungkap Bagheri-Kani.

"Keheningan otoritas internasional dan adopsi kebijakan standar ganda oleh otoritas internasional menunjukkan legitimasi terhadap terorisme," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pembunuhan ilmuwan nuklir merupakan aksi terorisme, tapi ironisnya, Barat yang selama ini mengklaim sebagai pihak yang  mengusung bendera perang melawan terorisme di dunia, enggan mengutuk tindakan tersebut.(PH)