Sikap Iran Menanggapi Aksi Unjuk Gigi AS di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/iran-i88925-sikap_iran_menanggapi_aksi_unjuk_gigi_as_di_teluk_persia
Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis , gugur syahid dalam serangan drone pasukan teroris AS di dekat Bandara Baghdad pada 3 Januari 2020. Delapan pengawal mereka juga gugur syahid dalam serangan itu.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 02, 2021 18:38 Asia/Jakarta
  • Pesawat pembom strategis Amerika.
    Pesawat pembom strategis Amerika.

Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis , gugur syahid dalam serangan drone pasukan teroris AS di dekat Bandara Baghdad pada 3 Januari 2020. Delapan pengawal mereka juga gugur syahid dalam serangan itu.

Kementerian Luar Negeri Iran baru-baru ini, menyatakan bahwa pembunuhan Syahid Soleimani telah menyingkap wajah asli Amerika Serikat.

“Wilayah kita kehilangan seorang pejuang sejati untuk perdamaian, mulai dari membantu Konferensi Bonn hingga perang tak kenal lelah untuk membebaskan kawasan dari Daesh. Syahid Soleimani memainkan peran tak tertandingi bagi stabilitas Asia Barat dan wilayah di luar itu,” kata Kemenlu Iran dalam sebuah twit.

AS dengan aksi pengecut ini telah berbuat sebuah kesalahan besar. Washington hari ini – dengan kebijakan menyalahkan pihak lain demi menutupi kejahatannya di kawasan – mencoba menyulut sebuah krisis baru di kawasan.

Namun situasi regional serta perimbangan politik dan militer telah berubah. Keputusan parlemen Irak untuk mengusir pasukan AS dari negara itu merupakan sebuah jawaban tegas terhadap rezim teroris AS sehingga mereka sadar tidak memiliki tempat di Irak.

Joe Lombardo, anggota United National Antiwar Coalition (UNAC) dalam sebuah wawancara dengan IRNA, mengatakan Letjen Soleimani pernah berkata bahwa pemerintahan AS yang dulu dan sekarang memiliki kontribusi dalam kemunculan dan kejahatan Daesh.

“AS mendukung kelompok-kelompok teroris dalam beberapa dekade lalu. Pertama dengan mendukung Osama Bin Laden di Afghanistan dan kemudian membentuk kelompok teroris untuk menciptakan krisis di kawasan serta memajukan kepentingan geopolitik Amerika,” ujarnya.

Menciptakan krisis merupakan salah satu strategi Amerika untuk memajukan kepentingan geopolitiknya di kawasan. Sekarang di penghujung kekuasaan Trump, muncul sebuah pertanyaan apakah AS berniat memicu sebuah ketegangan baru di kawasan?

Syahid Qasem Soleimani.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam kontak telepon dengan mitranya dari Qatar pada Jumat kemarin, menyinggung tentang gerakan mencurigakan dan petualangan AS di kawasan. Dia menegaskan konsekuensi dari petualangan yang mungkin terjadi akan menjadi tanggung jawab Washington.

Selain mengirimkan senjata canggih ke Teluk Persia dan Laut Oman pekan lalu, AS juga melakukan sejumlah aksi militer yang provokatif, termasuk menerbangkan pesawat pengebom strategis jarak jauhnya di Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir.

Tentu saja tradisi Amerika ini khususnya di era Trump, tidak membawa hasil apapun kecuali kerusakan stabilitas regional dan ketenangan, dan juga mungkin bagian dari propaganda Trump untuk mengalihkan opini publik dari kekalahannya dalam pemilu presiden AS.

Misi Tetap Iran untuk PBB dalam surat yang dikirim kepada Sekjen PBB dan Presiden Dewan Keamanan pada hari Kamis (31/12/2020), menegaskan bahwa Tehran tidak mencari perang, tetapi memiliki kemampuan dan tekad untuk melindungi rakyatnya, mempertahankan keamanan, kedaulatan, integritas teritorial, dan kepentingan vitalnya, serta untuk merespon secara tegas setiap ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap Iran, ini tidak boleh diremehkan.

Pemerintahan Trump secara terbuka meneror Syahid Qasem Soleimani, yang merupakan simbol perlawanan terhadap terorisme, dan noktah hitam ini tidak akan pernah terhapus, bangsa Iran tidak akan pernah melupakannya.

Jadi, akan menguntungkan para pejabat dan pengobar perang AS jika mereka tidak melakukan kesalahan baru, karena Iran pasti akan memberikan jawaban yang tegas terhadap setiap kesalahan baru. (RM)